|
Wali Murid Mulai Berperan
Salah satu sekolah binaan MBE, SDN 4 Penganjuran (SD Brawijaya) Kecamatan Banyuwangi, telah melakukan persiapan dan pembenahan berkait dengan pelaksanaan PAKEM meskipun belum dilakukan pelatihan secara formal. Sebagai salah satu SDN yang diminati, SDN 4 Penganjuran merasa tertantang untuk mengubah pola pembelajaran yang konvensional, klasikal, dan lebih banyak ceramah.
Awalnya memang sulit. Respon positif pun belum muncul. Kepala Sekolah, Ibu Hj. Suhernik, dan salah satu Guru kelas tinggi Ibu Barorotin yang menjadi pencetus awal tidak putus asa. Beliau berdua yang juga menjadi Pelatih MBS Kabupaten, secara mandiri melaksanakan pelatihan PAKEM di kalangan guru SDN 4 Penganjuran selama 6 hari seusai jam sekolah. Dari pelatihan inilah terbuka wawasan para guru terhadap pola PAKEM. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, sampai pertengahan Desember 2003, hampir semua kelas mulai terlihat perubahan.
|
Sebelum penerapan PAKEM siswa duduk manis mendengarkan guru ceramah (kiri)
Sesudah penerapan PAKEM siswa belajar secara kelompok, guru menjadi fasilitator dan suasana belajar menjadi lebih menyenangkan (kanan)
|
Ketika siswa ditanya "bagaimana pendapatmu tentang sistem belajar kelompok?' rata-rata mereka menjawab merasa jauh lebih senang belajar secara berkelompok karena dapat bertukar pikiran dengan teman sekelompok, sehingga dapat memecahkan dan menyelesaikan permasalahan dan tugas yang diberikan guru dengan lebih baik. Pajangan hasil karya siswa menjadi daya tarik tersendiri sekarang, waktu luang yang biasanya hanya dihabiskan untuk bermain-main teralihkan dengan mengamati hasil karya teman-temannya yang terpajang di dalam dan luar kelas. Bagi kelas yang digunakan bergantian, pagi dan siang, pajangan siswa dibagi dua, misalnya bagian kiri untuk kelas 1 dan bagian kanan untuk kelas 2., Dengan pengaturan yang cukup baik dan rapi kelas tidak terkesan semrawut bahkan terkesan lebih menyenangkan dan menarik untuk dicermati.
|
Selain didalam kelas karya siswa dipajang di luar kelas untuk memupuk kreativitas serta menjadi sumber belajar dan inspirasi
|
Selain PAKEM, Masyarakat terutama walimurid sangat peduli terhadap perkembangan anak. Hal tersebut dapat dilihat dari tingginya angka partisipasi wali murid dalam pengadaan sarana untuk penunjang kegiatan siswa.
Setelah masyarakat dikenalkan dengan MBS, masyarakat menjadi lebih aktif lagi dalam berperanserta dan tidak sebatas dana saja. Para ibu yang menunggu putra-putrinya di sekolah membantu guru memasang hasil karya siswa di kelas, yang menurut mereka selama ini tidak mungkin dapat dilakukan karena urusan anak di sekolah wewenang guru sepenuhnya.
|
|
Wali murid tampak antusias bersama guru kelas memajang hasil karya anak (kiri)
Pelatihan MBS dilingkungan guru SDN 4 Penganjuran (kanan)
|
Tidak hanya pada hari efektif sekolah tapi pada hari libur pun orang tua mengecek apa saja yang dibutuhkan di kelas putra-putrinya. Aktifnya masyarakat ini diwujudkan dengan terbentuknya paguyuban-paguyuban kelas. Baru-baru ini komite di SDN 4 Penganjuran menjadi mediator dalam tukar guling aula yang selama ini masih menjadi milik KODIM dengan Pemerintah Kabupaten untuk menjadi aset sekolah. Inilah bentuk peran serta masyarakat kepada pendidikan.
|
Meramaikan Perpustakaan
Banyak sekolah mempunyai perpustakaan, tetapi pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa perpustakaan sekolah punya ciri yang sama, yaitu:
- Sepi pengunjung. Perpustakaan hanya dikunjungi ketika ada kelas kosong (guru tidak hadir), atau oleh siswa yang tidak bisa ikut pelajaran olah raga, atau oleh anak yang benar-benar hobi membaca.
- Koleksi buku sangat minim, baik dari segi jumlah maupun jenis.
|
|
Perpustakaan mempunyai buku, disusun dengan rapih
tetapi kurang dimanfaatkan!
|
|
Sekolah-sekolah yang menjadi bagian dari Proyek MBE didorong untuk mengoptimalkan perpustakaan melalui berbagai cara:
- Mengkaitkan pengajaran di kelas dengan perpustakaan - misal:
- pada saat pembelajaran Bahasa Indonesia anak dapat membaca buku perpustakaan dan menulis ringkasan atau apresiasi
- dalam pelarajaran IPS anak mencari informasi dari buku perpustakaan
- Mengalokasikan waktu dalam jadwal pelajaran minimal satu jam seminggu bagi siswa untuk membaca di perpustakaan
- Menyediakan "koran dinding" untuk mendorong dan memfasilitasi minat baca (biasanya koran sangat diminati siswa)
- Mempersilakan orang tua murid yang sedang menunggui anaknya (biasanya di kelas 1 SD) untuk membaca buku di perpustakaan atau membantu mengelola perpustakaan.
- Meminta Setiap murid untuk menyumbangkan minimal satu buku kepada perpustakaan sekolah ketika mereka lulus
- Untuk SD, jika tidak ada staf khusus atau ruang untuk perpustakaan, perpustakaan dapat dikelola oleh anak kelas tinggi di bawah pengawasan salah satu guru, atau bisa dikembangkan "sudut baca" di setiap ruang kelas.
Kalau ada sekolah yang melakukan hal inovatif berkaitan dengan perpustakaan mohon diceritakan kepada kami.....
|
|