Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Calon Penggabungan Sekolah?
SD Kauman 3 dan 4 terletak di lokasi yang sama dan mempunyai satu halaman yang tidak terlalu besar. SD Kauman 4 mempunyai 175 siswa dan SD Kauman 3 mempunyai 116 murid. Di kelas 5 SD Kauman 4 ada 28 siswa sedangkan di SD Kauman 3 hanya ada 14 siswa.

Di kedua sekolah tersebut gurunya kurang-lebih lengkap, kecuali guru olah raga di SD Kauman 3. Di Kecamatan Batang banyak sekolah yang jumlah gurunya masih kurang. Kedua sekolah tersebut sudah punya buku perpustakaan tetapi belum ada ruangan. Kondisi beberapa ruang kelas di SD Kauman 3 sudah buruk (atapnya berlubang-lubang). Kedua sekolah ini juga sudah mempunyai satu Komite Sekolah bersama.

Dari hasil analisis data pemetaan, penggabungan kedua sekolah ini menjadi satu SD diusulkan. Siswa dapat dibagikan lebih merata setiap kelas, kalau tetap ada kelas paralel. Kalau tidak ada kelas paralel beberapa guru dapat dimanfaatkan di sekolah lain yang kekurangan guru. Salah satu ruang yang tidak lagi digunakan dapat dimanfaatkan sebagai perpustakaan sekolah. Mungkin ruang kelas yang rusak berat tidak perlu digunakan lagi.

SDN Kauman Sign Kep-Sek SDN Kauman 3-4 Kondisi Ruang Kelas

Kepala sekolah SDN Kauman 3 dan 4 di sekolah. Mereka terletak di satu halaman dan jumlah siswa sudah menurun. Kondisi beberapa ruang kelas SD 3 agak buruk.

"Seni" Melakukan Regrouping:
Pengalaman Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan: Regrouping, penggabungan beberapa (biasanya dua)sekolah menjadi satu, kelihatannya sederhana dalam konsep tetapi tidak mudah dipraktikkan.

"Seni" Melakukan Regrouping (lanjut):
Masalah biasanya muncul, baik berupa keberatan dari masyarakat (orang tua), kepala sekolah (yang akan kehilangan posisinya), guru (yang harus pindah tugas), dsb. Akibatnya, sangat sedikit sekolah-sekolah yang berhasil di-regroup, meskipun di atas kertas hal itu perlu dilakukan.


SDN Losari 1 dan SDN Losari 3 merupakan dua sekolah yang secara teknis layak digabung. Kedua sekolah memiliki halaman yang sama (satu tapak sekolah), tetapi berbeda jumlah muridnya. SDN 1 banyak muridnya (sekitar 125), SDN 3 sedikit (sekitar 75) dan kecenderungannya terus turun. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kec. Tulakan (Bapak Sulistyo) berani mengambil inisiatif untuk melakukan regrouping pada tahun ajaran 2000/2001 tanpa menunggu SK Bupati, dan berhasil melakukannya tanpa menimbulkan konflik yang tidak perlu.


Langkah-langkah yang diambil adalah:

  • Melakukan sosialisasi rencana regrouping kepada kedua sekolah (guru dan orang tua murid), terutama tentang alasan mengapa perlu dilakukan regrouping;
  • Melakukan koordinasi dengan instansi terkait (camat, kepala desa, Dinas PU untuk menilai kelayakan bangunan);
  • Merencanakan karier kepala sekolah yang akan kehilangan posisinya;
  • Merencanakan penempatan guru ke sekolah lain.

Untuk sekolah yang muridnya sedikit, tetapi lokasinya berjauhan (sehingga menyulitkan regrouping), yang dilakukan adalah mengubah status dari SD konvensional (dengan 6 guru kelas) menjadi SD kecil (dengan 3 guru kelas). Sementara itu, untuk sekolah-sekolah swasta, keputusan diserahkan kepada pengelola sekolah, tetapi Pemda menentukan syarat jumlah murid minimal untuk dapat menerima bantuan tertentu. Dengan mekanisme demikian, esensi program regrouping (yakni efisiensi penyelenggaraan pendidikan) diharapkan bisa berjalan di berbagai kondisi sekolah.

Pemanfaatan Guru Secara Efisien
Semua daerah mengeluh kekurangan guru. Padahal di beberapa daerah rasio siswa dibanding guru di SDcukup rendah. Dasar perhitungan guru perlu diubah. Saat ini jumlah guru kelas dihitung menurut jumlah rombongan belajar. Meskipun hanya ada beberapa murid di satu kelas (kadang-kadang kurang dari 5 orang!) tetap dianggap perlu ada satu guru kelas.. Akibatnya, ada beberapa guru mempunyai sedikit murid (sering di bawah 15 orang), sedangkan guru lain harus mengajar lebih dari 60 orang.

Apakah ada alternatif? Di sebagian besar negara guru dialokasikan ke sekolah berdasarkan jumlah murid, bukan jumlah rombongan belajar. Misalnya, di beberapa daerah di India guru dialokasikan ke sekolah satu guru banding 40 murid. Memang banyak guru harus mengajar kelas rangkap - tetapi ini bukanlah hal yang terlalu sulit kalau guru sudah biasa. Kalau guru dialokasikan ke sekolah sesuai jumlah murid, mungkin tidak akan ada kekurangan guru, dan tidak akan ada kelas tanpa guru! Apakah ada daerah berani mencoba cara seperti ini?


Apakah PAKEM Akan Meningkatkan Prestasi Siswa?

Hal yang sering sebut di daerah ialah banyak sekolah yang khawatir, bahwa penerapan PAKEM akan menurunkan hasil ujian anak, karena proses belajar mengajar memakan waktu yang banyak. Pada hal PAKEM diharapkan dapat menghasilkan pelajaran yang lebih efektif sehingga anak menjadi lebih trampil dan dapat memahami serta menerapkan konsep yang dipelajari.

Contoh keberhasilan salah satu sekolah sejak menerapkan MBS dan PAKEM, anak di kelas 1 belajar membaca dan menulis lebih cepat. Pada pertengahan semester pertama sebagian besar siswa sudah bisa membaca dan bisa menyusun kalimat sederhana sendiri. Hal ini terjadi karena mereka melibatkan orang tua murid membantu di kelas dan menggunakan metode mengajar yang lebih menarik.

Masalah yang sering dihadapi dalam pelajaran gaya lama ialah anak hanya menghafalkan rumus tetapi tidak dapat menerapkan rumus tersebut untuk memecahkan masalah. Misalnya:

Kalau anak kelas 4 ditanya luas persegi panjang A sebagian besar dapat menjawab karena mereka sudah menghafalkan rumus bahwa luas = panjang x lebar. Tetapi kalau anak ditanya luas bangun B sebagian besar tidak bisa menjawab dgn benar, karena mereka tidak mengerti sebenarnya apa itu luas dan tidak dilatih untuk memecahkan masalah, karena selalu disuap jawaban dari guru!

Soal Luas
RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID