|
Kecamatan Maron, Probolinggo
Keadaan di SD Maronwetan I dan II sangat mengesankan. Lingkungan sekolah dan kelas sangat baik. Di semua kelas ada pajangan hasil karya anak. Mutu hasil kerja sangat baik, sehingga konsultan kami Stephen Dunn yang berasal dari Amerika Serikat khawatir bahwa sekolah anaknya sendiri di Amerika tidak sebanding apa yang di lihat di Maron!
Guru kelas I, Ibu Wiwit, salah satu penggerak dalam pengembangan SD Maronwetan I, mempunyai ruang kelas yang sangat menyenangkan. Panggung imajinasi anak ini digunakan supaya anak bisa bermain peran untuk mengambangkan imajinasi, keberanian, dan keterampilan berbahasa. Ibu Wiwit juga menjadi pelopor dalam pemberdayaan orang tua murid untuk membantu di kelas.
RAPBS sekolah dipajang secara terbuka di kantor Kepala Sekolah. Anggaran tersebut mencantumkan semua sumber dana, baik dari APBD, Komite Sekolah, masyarakat, dan donor lain serta semua pengeluaran sekolah. Dengan keterbukaan seperti ini, orang tua lebih siap untuk menunjang sekolah.
SD Maronwetan terletak di daerah pedesaan. Meskipun demikian anak kelas II ini dapat bercakap-cakap dengan konsultan luar negeri kami, Stuart Weston dan Stephen Dunn.
|
Pisang MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)
Didorong oleh kebutuhan menambah pendanaan sekolah, maka masyarakat sekitar SD Ngepung di Sukapura menanam pisang untuk membantu sekolah. Kemudian diadakan suatu bazaar di halaman sekolah untuk melelang pisang tersebut. Acara itu dihadiri oleh Bupati Probolinggo, para pejabat kabupaten, serta masyarakat luas. Dari hasil lelang tersebut dapat dikumpulkan dana sebesar Rp 14,5 juta. Dana tersebut telah dibelikan 5 buah komputer untuk digunakan oleh para siswa.
|
Ketika Pisang Peduli Pendidikan
Suasana ramai di pelataran sekolah. Panitia menyibukkan dirinya dengan beragam kegiatan. Tamu-tamu penting berdatangan. Kepala Dinas Pendidikan, wakil dunia usaha dan dunia industri, dan berbagai unsur yang peduli dengan pendidikan hadir. Acara pun dimulai. Beberapa panitia menyiapkan objek yang akan diperbincangkan. Delapan tandan pisang dibawa ke atas panggung dan ditawarkan pada khalayak. Seorang siswa dengan nada polos namun haru menawarkan pisang tersebut kepada hadirin:
"Bapak mau membeli pisang saya?"
"Berapa harganya?"
"Enam juta Pak, pisang ini kami jual untuk pembangunan sekolah kami yang sudah kurang layak pakai"
"Bagaimana bila satu juta untuk satu tandan pisang?"
"Kami rugi, Pak. Sekolah kami butuh banyak uang"
"Bagaimana bila kami tawar empat juta?"
"Belum boleh, Pak. Kalau enam juta setengah kami bahagia Pak"
Itulah dialog singkat yang terjadi di pelataran sekolah itu. Pisang delapan tandan itu akhirnya terjual dengan harga jutaan rupiah. Uang hasil lelang pisang itu akhirnya dibelikan komputer untuk perangkat belajar siswa.
Fenomena lelang pisang tersebut adalah fenomena menarik yang membuktikan kepedulian masyarakat kepada pendidikan. Ada banyak cara mengatasi persoalan, apabila semua pihak mau peduli. Jangan biarkan anak-anak kita di sekolah tanpa tujuan dan kepedulian.
|
|
Anak di Sukapura menaman dan merawat bunga yang dijual untuk membantu sekolah.
|
|