Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Contoh Pembelajaran PAKEM

Pembelajaran B. Inggris Efektif dan Menyengangkan

Pembelajaran Bahasa Inggris di SMP 1 Jakenan, Pati, efektif dan sangat menyenangkan. Guru mengajak siswa untuk menyusun banyak pertanyaan untuk minta izin. Setelah siswa menulis pertanyaannya di papan tulis, Bu Herni, gurunya memberi evaluasi pertanyaan tersebut (gambar di bawah).

Siswa menulis pertanyaan

Bu Herni

Pemecahan Masalah Matematika

Siswa di MTs Negeri Banyuwangi diberi soal:

  • Ayam besar dan ayam kecil ditimbang bersama beratnya 4Kg

  • Ayam sedang dan ayam kecil ditimbang bersama beratnya 3Kg

  • Ayam besar dan ayam sedang ditimbang bersama beratnya 5Kg

Berapa beratnya setiap ayam?

Siswa harus mencari pemecahan soal ini sendiri. Selanjuntya beberapa siswa diminta memberi penjelasan pemecahannya. Di gambar di sebelah bawah Lukman Hakim siswa MTsN Banyuwangi menjelaskan pemecahannya.

Komentar: Sangat penting anak belajar mencari pemecahan sendiri daripada ditunjuk oleh guru, apalagi belajar bahwa ada beberapa cara untuk memecahkan masalah yang sama. Ini adalah keterampilan yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Mengamati, mengambar dan menjelaskan bagian bunga

Anak kelas 4 di SD Sonorejo, Pati diberi tugas mengamati, membandingkan, menggambar dan mendeskripsikan berbagai bunga. Di bawah ini Bpk Sulistyono guru kelas 4 mengamati anak menulis. Di paling bawah ada hasil karya salah satu anak namanya Heni.

Bpk Sulistyono

Hasil karya Heni
Bpk Suyatno

Anak Menulis Deskripsi dalam Bahasa Inggris

Pada saat pelatihan fasilitator daerah di Banyuwangi, Bpk Suyatno, yang baru menjadi fasilitator Bahasa Inggris di Probolinggo meminta anak SMPN 1 Banyuwangi bekerja dalam kelompok kecil untuk membuat deskripsi salah satu binatang dalam Bhs. Inggris. Di sebelah atas Bpk Suyatno menunjukkan deskripsi gajah (elephant), yang sangat baik.

Anak Membuat Soal Sendiri

Biasanya yang memberi soal kepada siswa adalah guru, pada umumnya hanya 10 soal. Dengan adanya PAKEM banyak guru yang meminta kepada anak untuk menyusun soal sendiri. Di sebelah bawah ada soal yang disusun Sudharmono, anak kelas 2, SD Karaban 4, Gabus, Pati. Dia telah menyusun 28 soal penjumlahan dalam waktu 10 menit.

Soal yang disusun Sudharmono

Guru dapat meningkatkan tingkat kesulitan soalnya dengan menentukan beberapa syarat. Sebagai contoh: jawaban semua soal harus sama (msl. jawabannya semua soal harus 120), atau setiap soal harus menggunakan tanda tertentu (msl. semua soal harus menggunakan + dan - ). Soal yang disusun satu anak dapat diberikan kepada temannya untuk dijawab atau diperiksa. Hal ini akan meningkatkan interaksi dalam kelas dan motivasi anak.

Jangan Khawatir PAKEM

Penerapan PAKEM di sekolah binaan MBE sudah dimulai sejak tahun 2003. Sekolah dan guru berusaha merancang pembelajaran, mengelola kelas, dan membimbing siswa dengan mengedepankan ekplorasi terhadap kemampuan siswa. Pembelajaran ini lebih mengutamakan proses dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan.

Namun kegalauan guru masih sering muncul terhadap para siswanya, khawatir para peserta didik kalah berprestasi dengan sekolah yang belum menerapkan PAKEM dan menekankan target materi dalam kegiatan pembelajarannya. Alasan utama, apakah dengan metode yang baru ini siswa mampu menghadapi ujian akhir untuk kelas 6 yang pada tahun 2005/2006 ini akan diadakan UAN (Ujian Akhir Nasional).

Belum lagi menghadapi agenda dari Dinas Pendidikan yang digelar setiap tahun. Mulai lomba siswa berprestasi, lomba mata pelajaran, olimpiade MIPA, dan lain-lain. Sejauh ini kekhawatiran itu terbantah dengan kenyataan yang ada di sekolah kami. SD Negeri Ploso 1 Kecamatan Pacitan salah satu SD yang menjadi binaan MBE, sejak awal telah berbenah menerapkan MBS, PSM, dan PAKEM bersama sekolah binaan lainnya.

Sebagai sekolah yang menerapkan PAKEM, prestasi siswa dalam ulangan semester bersama tidak mengecewakan. Terbukti ada kemajuan yang ditandai meningkatnya nilai rata-rata anak disetiap jenjang kelas. Untuk kelas awal, kelas satu dan dua peningkatan ini cukup signifikan. Dalam event-event regulerpun seperti lomba mata pelajaran dan seleksi siswa berprestasi selalu menggembirakan.

Sebagai contoh pada olimpiade MIPA tahun 2005 ini, "Hamidah Budhi Amarta" berhasil meraih medali perunggu olimpiade MIPA Propinsi Jawa Timur. Dan yang lebih penting suasana Proses Belajar Mengajar di kelas menjadi lebih hidup. Anak-anak menjadi kritis, kreatif, dan berani bertanya kepada guru jika ada hal yang belum dipahami. Penugasan siswapun sangat kontekstual dengan ditunjang pemanfaatan sumber belajar yang ada dilingkungan sekolah

Oleh Muhtarudin, Kepala SD Ploso 1, Pacitan

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID