|
Tes Dampak MBE pada Siswa
Pada saat lokakarya reviu dan perencanaan di Banyumas pada bulan Juni, beberapa peserta menanyakan dampak kegiatan MBS dan PAKEM pada prestasi siswa, antara lain Kepala Dinas Pendidikan dari Kota Madiun, Bpk. Maidi (foto kanan).
Memang MBE sudah melakukan evaluasi dampak program MBE pada siswa yang untuk pertama kalinya menggunakan tes khusus yang dikembangkan program MBE and CLCC (UNICEF-UNESCO) sebelumnya. Di 9 daerah tahap pertama dan kedua siswa di 54 sekolah sudah dites dua kali. Jumlah siswa per tes antara 600 dan 1.000 orang.
Hasil tes ini menunjukkan kenaikan skor dari tahun 2004 ke 2005 sebagai berikut.
- Tes membaca kelas 1 naik 4.6%
- Tes membaca pemahaman kelas 4 naik 18.3%
- Tes Matematika kelas 4 naik 7.3%
- Tes IPA kelas 5 naik 13.7 %
Hanya di tes menulis karangan di kelas 4 hasilnya menurun 6.2%. Hasil terakhir ini mengherankan, karena hasil MBE yang paling nampak di sekolah adalah tulisan siswa dengan kata-kata sendiri. Ada kemungkinan penurunan ini bukan karena kinerja anak menurun, tetapi karena masalah dalam adminstrasi tes atau pengoreksian. Tes-tes ini akan diulang di SD, MI, SMP dan MTs di 20 daerah MBE pada tahun yang akan datang. Mudah-mudahan kemajuan akan terus nampak di semua mata pelajaran.
Hasil Ujian Kelas 6
Tes tersebut di atas memang adalah tes yang dirancang khusus untuk menilai dampak pembelajaran PAKEM/CTL.
|
Bagaimana dampak yang diukur dengan tes ulangan yang diberikan pada akhir tahun ajaran di setiap daerah?
Kami telah mengumpulkan data ranking sekolah dari dua daerah, yaitu dari semua kecamatan di Kota Madiun dan dari kecamatan pedesaan Tulakan, Kebupaten Pacitan.
Data yang dikumpulkan adalah data ujian kelas 6 untuk semua SD sekecamatan, sebelum MBE masuk - tahun 2003 di Pacitan, tahun 2004 di Madiun - dan pada tahun 2005. Data dari Madiun termasuk MI. Ternyata di wilayahnya Bpk Maidi, di Kota Madiun dari 14 SD dan MI mitra MBE 12 di antaranya naik ranking, satu SD tetap sama, dan satu SD menurun satu tingkat. Di Kecamatan Manguharjo 5 SD dan MI MBE sebelum MBE menempati tempat ke-6, 10, 11, 18 and 31.
Pada 2005 semua naik secara drastis ke posisi 1, 2, 7, 8 dan 15 (lihat tabel 1). Di Tulakan sebelum ada MBE tidak ada sekolah MBE yang masuk 5 sekolah ranking tertinggi. Yang paling tinggi adalah ranking 8. Pada tahun 2005 empat dari lima SD binaan MBE telah menempati ranking 1, 2, 3 dan 5 (lihat tabel 2). Ini merupakan kemajuan luar biasa!
|
Mengapa perubahan ini bisa terjadi?
Penyebabnya tentu tidak hanya satu, melainkan meliputi:
Dengan adanya MBS kerja sama antara kepala sekolah, komite, dan guru meningkat, serta suasana sekolah lebih semangat.
Guru bekerja lebih profesional. Mereka merencanakan pembelajaran dengan lebih baik dan pembelajaran lebih menarik minat anak untuk belajar (lebih efektif dan menyenangkan).
Orang tua lebih terlibat dalam sekolah dan memberi motivasi kepada guru, serta memperhatikan dan membantu pendidikan anaknya.
|
|