|
Guru pun Saling Bertukar Pikiran
Pada tanggal 22 September Kabupaten Purworejo telah melakukan kunjungan ke Kabupaten Banyumas. Peserta terdiri dari Pengawas, Kepala Sekolah, perwakilan Guru dan Komite Sekolah sekolah binaan MBE. Tim Kabupaten Purworejo ingin mengetahui kondisi se-kolah binaan MBE di Kabupaten Banyumas, yang sudah satu tahun lebih dulu menjadi binaan MBE. Kunjungan diterima Bapak Haris (mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas) di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten.
Kemudian rombongan langsung menuju beberapa sekolah di Kecamatan Kebasen dan Kecamatan Ajibarang. Rangkaian acara kunjungan adalah pengamatan di kelas dan diskusi. Tampak pada gambar Ibu Marfuah dari Kabupaten Purworejo sambil mengamati kegaiatan belajar mengajar di kelas berdiskusi dengan salah satu Guru dari SMPN 3 Ajibarang.
Dan tampak juga Bapak Joni Raharjo Guru SMP PGRI Butuh berdiskusi di depan kelas dengan Ibu Ngatminah. Beberapa bahan diskusi diantaranya menyangkut pengertian PAKEM, bagai-mana cara menerapkannya, apa kiat-kiat agar penerapan di kelas bisa berjalan, dan bagaimana cara mengatasi kendala yang muncul. Kegiatan semacam ini sangat besar manfaatnya, baik bagi pihak yang berkunjung maupun bagi pihak yang dikunjungi.
Bagi pihak yang berkunjung terutama bisa dijadikan tolak ukur antara kondisi sekolah yang dikunjungi dengan sekolahnya sendiri. Dan bagi pihak yang dikunjungi dapat dijadikan cambuk untuk lebih maju lagi. Semoga apa yang sudah diperoleh dari kedua belah pihak dapat berkembang dan membuahkan hasil yang gemilang.
Cerita dari SDN 1 Kebasen
Begitu banyak perubahan yang terjadi di SDN 1 Kebasen. Dengan pelatihan MBS dan PSM, Komite Sekolah semakin giat berusaha memajukan sekolahnya. Baru saja komite menyelesaikan pembangunan pagar keliling sekolah (foto di bawah). Bahan-bahan bangunan diusahakan sendiri oleh komite, dan tenaga pelaksananya juga dari komite.
|
Bahkan pihak sekolah merasa terkejut begitu ada material yang datang ke sekolah padahal pihak sekolah tidak memesannya.
Tidak itu saja, dari segi pembelajaran pun baik guru maupun siswanya semakin kreatif menemukan berbagai macam sumber belajar, sehingga tidak terpancang pada buku paket. Salah satu contohnya, siswa mengamati bendungan yang ada di dekat sekolah, yaitu bendungan Gerak Serayu. Kemudian siswa melaporkan hasil pengatamannya secara berkelompok.
Dwi Nur Cahyani (foto kanan), memperlihatkan hasil diskusi kelompoknya. Satu contoh lagi dari kelas lima. Siswa diberi tugas mata pelajaran "Budaya Banyumasan", untuk membuat tempe dari kacang kedelai. Hasilnya bisa dilihat pada gambar. Dalam praktek pembuatan tempe ini, siswa mencari sumber informasi mengenai pembuatan tempe kedelai langsung pada nara sumber, yaitu pengusaha tempe kedelai yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.
Hasilnya memang tidak sama, ada yang bagus dan ada yang kurang bagus. Hal ini mungkin disebabkan dari nara sumber yang berbeda-beda, sehingga mungkin cara pe-nyampaiannya juga berbeda. Atau mungkin penerimaan siswa itu sendiri yang berbeda. Dari sini dapat kita buktikan bahwa belajar tidak harus menggunakan buku paket sebagai sumber, tapi bisa juga menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber pembelajaran, dan hasilnya justru semakin meyakinkan karena membuktikan sendiri dan dirasakan siswa lebih menyenangkan.
Semangat, Semangat, Semangat
Pelatihan Paket 3 bagi guru dan kepala sekolah di Kabupaten Banyumas telah dilaksanakan bulan Agustus. Pelatihan berlangsung selama empat hari di masing-masing kecamatan binaan, yaitu Kecamatan Ajibarang pada tanggal 2-5 Agustus dan Kecamatan Kebasen tanggal 6-9 Agustus. Pelatihan Paket 3 ini berisi tentang bedah kurikulum 2004 yang memang sudah dinanti-nanti oleh Guru dan Kepala Sekolah.
Gambar dibawah adalah salah satu suasana pelatihan di Kecamatan Ajibarang yang diseleng-garakan di SDN 1 Aji-barang Wetan. Bpk Sukur, fasilitator dari SDN Bentul, Kebasen, bersama-sama dengan peserta pelatihan, sedang asyik mengupas kurikulum untuk mata pelajaran IPS. Saking semangatnya mereka sampai lesehan di lantai agar lebih mudah dalam bekerja. Selamat bekerja, semoga sukses!!!
|
Sejarah SD Sonorejo Tentang MBE
SDnya terletak jauh dari kota tetapi prestasi siswa tak mau kalah dengan SD yang ada di pinggir kota. Anehnya orang tua selalu memikirkan pendidikan siswa. Contoh: belajarnya selalu dipantau dan juga disuruh memberi tambahan pelajaran oleh gurunya. Sehingga lomba-lomba dan ujian sekolah tidak mau kalah dengan sekolah-sekolah lain yang ada di kota. Gurunya cukup, dan pernah menjuarai TK propinsi untuk senam lantai. Atas kebaikan Guru, Kepala Sekolah, dan Komite, SD Sonorejo sering meraih juara. Atas dorongan Komite SD Sonorejo bisa mengikuti Program MBE sampai tujuan. Apabila dari pihak Kecamatan seperti Pak Camat, Pak Dokter, Kapolsek, Koramil mau terjun dalam PAKEM, SD kami akan bagus sekali. Demikian sekilas sejarah SD Sonorejo, Kec. Jakenan Kab. Pati, Prop. Jawa Tengah (lihat juga artikel tentang SD Sonorejo pada hal. 1).
Oleh Bpk Atmoko, Kepala SD Sonorejo, Kec. Jakenan, Pati
|
|