Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Penandatanganan Nota Kesepakatan di Magelang

Pada tanggal 2 Agustus 2005 di Puri Asri - Magelang dalam rangka Lokakarya Pemetaan Pendidikan, diadakan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Pemerintah Kota Magelang yang diwakili oleh Walikota, Ketua DPRD dan Ka Dinas Pendidikan, serta MBE. Hal ini menunjukkan komitmen penuh stakeholder Kota Magelang dalam melaksanakan program MBE.

Insert: Bpk Drs H. Sulaeman Hasan selaku PLH Walikota Magelang bersalaman dan bertukar Nota Kesepakatan dengan Bpk Stuart Weston selaku Direktur Program MBE.
Dari ke kiri ke kanan: Turut menyaksikan Bpk Drs. Wahyudi MPd mewakili Kab. Sukoharjo, Bpk. Drs. Suyitno - Ka. Dinas Purbalingga, Bpk Sugiri mewakili Kab. Purworejo, Bpk. Tukiman - Ka. Dinas (PLT) Kab. Semarang, Bpk Tridjoko Minto Nugroho, Ketua DPRD Kota Magelang dan Bpk Drs. Hari Riyadi, Ka. Dinas Magelang.

Alternatif Sumber Belajar di Kota Magelang

Pelatihan PAKEM di Kota Magelan tanggal 19-21 September untuk Kec. Magelang Utara dan 22-24 September untuk Kec. Magelang Selatan berusaha benar-benar mengoptimalkan momentum yang ada. Kebetulan saat pelatihan ditinjau oleh Tim MBE dari Jakarta. Kesempatan tersebut digunakan untuk mendaulat konsultan menjadi Narasumber Pelatihan. Narasumber lokal, yaitu Bpk Faisal, guide/pemandu wisata Candi Borobudur dari HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) ternyata menarik perhatian para peserta.

Bpk Faisal bercerita singkat tentang Candi Borobudur, kemudian masing-masing peserta menuliskan pertanyaan-pertanyaan di kertas yang berbeda warnanya tentang masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang mengenai Candi Borobudur. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dipilih yang terbaik oleh kelompok sekolah untuk diajukan kepada nara sumber. Sedangkan Bpk Prima Setiawan (Konsultan MBE) menjadi Narasumber nasional pada saat praktek mengajar PAKEM di SD Rejo Selatan 2.

Di kelas 6, beliau bercerita tentang Negara Thailand yang mempunyai kesamaan geografis dan masyarakat dengan Indonesia, tetapi dengan kerja keras dan keuletannya ternyata bisa menjadi negara yang berswasembada beras dan tanaman pangan unggulan, maju pariwisatanya, serta lebih maju ekonominya daripada Indonesia. Peserta praktek mempersilakan kepada masing-masing siswa untuk menyiapkan pertanyaan-pertanyaan tertulis terkait dengan materi yang disampaikan. Kumpulan pertanyaan individu yang dituliskan, dipilih oleh kelompok, mana yang akan diajukan kepada narasumber.

Menurut narasumber pada saat akhir cerita adalah bahwa kita tidak perlu merasa kalah, karena dengan anugerah Tuhan pada diri kita yang sama dengan mereka, tetapi harus dengan kerja keras, maka kita pun bisa seperti itu.

Ibu Lynne Hill

Sedang Ibu Lynne Hill (foto atas), yang berasal dari Australia, menjadi nara sumber internasional pada saat praktek mengajar bagi peserta pelatihan di SMP 4 Kota Magelang. Pada saat pembelajaran peserta praktek mempersilakan siswa untuk mempraktekkan bahasa Inggris mereka dalam menanyakan beberapa hal yang terkait dengan Australia.

Di SD Rejo Selatan 2, siswa kelas 1 (foto di bawah) sedang dibimbing untuk menghitung penjumlahan dan pengurangan dengan bantuan biji jagung,

Siswa kelas 1

sedangkan di SMP 6 Magelang, pada pelajaran IPS siswa dibimbing peserta praktek (foto di bawah) untuk melaksanakan pengukuran luas halaman sekolah, kemudian dengan skala tertentu dipetakan di kertas.

Siswa dibimbing peserta praktek

Pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan ini adalah bahwa sumber belajar ternyata banyak sekali macamnya. Memanfaatkan momentum dan menangkap peluang di sekitar kita, seperti pemanfaatan narasumber, informasi yang beragam, maupun penggunaan biji jagung dan halaman (praktek langsung), adalah hal-hal yang perlu terus dikembangkan di sekolah.

Partisipasi Warga Ambalresmi Meningkat Tajam

Tahun 2004-2005 adalah tahun bersejarah bagi SD Ambalresmi 2, Kebumen. Pada tahun 2004 SD yang dipimpin oleh Bapak Dunung itu menjadi sekolah mitra MBE. Pada saat bergabung, keadaan sekolah tersebut sangat memprihatinkan. Keadaan gedung yang hampir ambruk dan bocor menjadi ciri khasnya. Sejak sekolah tersebut bermitra dengan MBE, keberadaan-nya mulai diperhatikan.

Rumah Kepala Desa Ambalresmi

Paling atas: Rumah Kepala Desa Ambalresmi, Bpk Ngadenan, tempat KBM kelas III,
Atas: Bapak Dunung memberi soal sarapan pagi di teras rumah warga

Tahun 2005, Pemkab. Kebumen mengucurkan dana rehab sebesar Rp. 100 juta. Sementara rehab dilaksanakan, sebagian kegiatan KBM berlang-sung di rumah warga dan Kepala Desa. Pelaksana-an KBM di rumah warga mengalami peristiwa simbiosemutualistis. Sekolah diuntungkan karena mendapat tempat belajar, sedangkan warga diuntungkan karena sekolah selalu menjaga kebersihan di sekitarnya.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID