Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

DROP EVERYTHING AND READ!

Ini adalah cerita salah satu sekolah di Probolinggo yang melakukan hal yang baru untuk membiasakan anak membaca, dan sudah ditiru beberapa seklolah lain di sekitarnya.

Membiasakan anak untuk gemar membaca sulit dilaksanakan di sekolah/kelas. Sebenarnya banyak cara agar anak gemar membaca. SD Ngepung, Probolinggo merupakan salah satu sekolah yang telah berhasil meningkatkan kegemaran membaca pada anak-anak. Salah satu kiat yang dilakukan oleh sekolah ini adalah menerapkan pembiasaan 'baca senyap'. Di SD Ngepung lebih dikenal dengan sebutan DEAR (Drop Everything And Read).

Baca senyap dilakukan setiap hari Selasa sampai dengan hari Sabtu, sebelum pelajaran dimulai, yaitu dimulai jam 06.15 - 06.30. Seluruh warga sekolah (kepala sekolah, guru, siswa, dan staf sekolah) wajib membaca senyap. Tidak ada aktivitas lain, selain membaca. Buku atau bahan yang dibaca diserahkan kepada masing-masing warga sekolah.

Untuk mendorong aktivitas dan produktivitas siswa, para siswa diminta untuk menuangkan kembali berupa ringkasan atau hasil karya siswa. Setelah 1-2 minggu hasil karya siswa tersebut dikonteskan secara terbuka. Hasil karya terbaik akan diumumkan pada waktu upacara bendera hari Senin. Selain karya terbaik dibacakan oleh Pembina Upacara, mereka diberi hadiah, seperti pensil, penghapus, pulpen, dsbnya, yang harganya tidak lebih dari Rp1.000,00.

Pembiasaan 'baca senyap' yang dilakukan secara terus-menerus seperti ini sangat berdampak terhadap minat baca anak dan menambah wawasan pengetahuan dan sikap untuk berkompetensi dalam berbagai hal. Salah satu bukti dapat kita lihat pada kemampuan menulis/mengarang dan bercerita (berbicara) di depan umum secara ekspresif.

PURBALINGGA: Pelatihan Guru SD se Kabupaten

Purbalingga sudah Mulai Berformat Pelatihan MBE..!

Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga dalam APBD 2005 masih menyisakan dana untuk pelatihan peningkatan mutu guru SD kurang lebih Rp. 50 juta. Atas usulan dari berbagai sekolah SD non binaan MBE di Purbalingga, pola pelatihan yang ingin diterapkan adalah pola pelatihan MBS/ PSM dan PAKEM yang dilaksanakan oleh MBE. Usulan dan kemauan yang kuat dari para Kepala Sekolah yang bukan menjadi binaan MBE agar secepatnya dilaksanakan pelatihan yang berpola MBE membuat Bapak Anwar, S.Sos selaku Kasi SD melakukan koordinasi kilat dengan unsur-unsur Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga yang terkait.

Simulasi Mengajar

Simulasi Mengajar dikelas Bahasa Indonesia dan IPA

Ternyata dalam koordinasi kilat tersebut Dinas Pendidikan Purbalingga sepakat untuk melaksanakan Pelatihan MBS/PSM & PAKEM I tingkat Kabupaten Purbalingga pada tanggal 20-22 Oktober 2005 untuk sekolah-sekolah non binaan sekaligus melakukan seleksi awal calon Fasilitator Daerah tingkat Kabupaten yang telah terjaring pada saat pelatihan-pelatihan yang diadakan MBE. Oleh karena itu pelatih atau tentor pelatihan ini diambil dari calon-calon Fasilitator MBE dari Kabupaten Purbalingga.

Materi yang disampaikan pada pelatihan guru SD tingkat kabupaten ini juga materi dari pelatihan MBS/PSM & PAKEM I program MBE. Hasil dari pelatihan ini sangat memuaskan karena semua peserta antusias dan optimis dapat menerapkan di sekolah masing-masing walaupun pelatihan ini dilakukan pada saat bulan Puasa.

Purbalingga Studi Banding ke Banyumas

Para Fasilitator Daerah Purbalingga yang baru saja mengikuti TOT I di Kabupaten Banyumas tanggal 5-9 Desember mulai melakukan in house training di sekolahnya masing-masing. Mereka mulai memantapkan dan mengimbaskan pola pembelajaran PAKEM kepada guru-guru yang belum pernah mengikuti pelatihan MBE untuk menerapkan pembelajaran PAKEM di kelas masing-masing.

Kendala utama yang dihadapi para fasilitator ini adalah mereka belum bisa memberikan contoh-contoh yang nyata tentang proses pembelajaran PAKEM dan keterbatasan tenaga untuk memberikan penjelasan kepada para guru-guru tersebut. Oleh sebab itu, pada tanggal 12 Desember 2005 Fasilitator dan Dinas melakukan koordinasi untuk mengatasi kendala utama tersebut.

Dengan difasilitasi oleh MBE mereka sepakat untuk mengadakan studi banding ke sekolah binaan MBE di Kabupaten Banyumas yang merupakan sekolah Binaan MBE terdekat dari Kabupaten Purbalingga. Pada tanggal 14 Desember 2005 sebanyak 72 guru, KS dan Komite Sekolah perwakilan dari 20 sekolah binaan MBE melaksanakan studi banding.



  1. Ibu Esti (SD Galor 2), Ibu Windi (KS SMP 2 Purbalingga) dan Ibu Sri Sutati (SMP 2 Purbalingga) sedang mendengarkan penjelasan proses pembelajaran PAKEM dari guru SMP 3 Ajibarang

  2. Guru-guru Binaan MBE dari Purbalingga sedang mengamati proses pembelajaran di SDN Bentul Banyumas

  3. Pak Sismo Kepala Sekolah SD Purbalingga Kidul 1 dan KS lain sedang melihat berkas-berkas laporan SDN Bentul Banyumas

Dalam studi banding ini peserta bisa melihat langsung proses dan hasil program MBE. Mereka merasa bahwa program MBE ini sangat bagus dan cocok untuk diterapkan di sekolah masing-masing. Bahkan beberapa Kepala Sekolah dan Komite Sekolah merasa perlu mengadakan studi banding mandiri untuk masing-masing sekolah dengan tujuan agar guru-guru lain yang belum ikut studi banding bisa ikut melihat dan merasakan sendiri proses pembelajaran PAKEM.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID