|
PURWOREJO: Refleksi Guru dan Siswa
Sudah empat bulan program MBE di sekolah berjalan dari waktu 6 bulan dimulainya program MBE di kabupaten Purworejo. Pelatihan MBS, PSM dan PAKEM 1 telah dilaksanakan di 20 sekolah binaan MBE. Masing-masing sekolah telah melaksanakan hasil pelatihan dan RTL yang telah mereka buat, walaupun belum semuanya maksimal. Namun proses yang berjalan selalu diusahakan untuk mencapai hasil yang optimal.
Peningkatan dan perubahan telah terjadi pasca pelatihan MBS, PSM dan PAKEM. Masing-masing sekolah telah mengarah pada indikator dalam proses pelaksanaan MBS, PSM dan PAKEM. Dalam program MBS-PSM, sekolah telah memajangkan secara transparan RAPBS, RPS yang dibuat bersama-sama dengan komite. Peran serta masyarakat telah tampak baik itu keterlibatannya dalam hal bantuan dana, materi maupun non materi. Sekolah-sekolah binaan telah membentuk paguyuban kelas, walaupun belum semua paguyuban beraktivitas dengan baik.
|
RAPBS SDN Tepus Kulon, Kec. Kutoarjo
|
Pembelajaran dengan pendekatan PAKEM sudah mulai terasa di sekolah-sekolah binaan. Ini bisa dirasakan karena dalam KBM keaktifan guru dan siswa meningkat, seperti: guru tidak hanya duduk / berdiri di depan kelas untuk berceramah, atau siswa yang tidak hanya menyalin catatan di papan tulis.
Berikut komentar guru dan siswa dalam menanggapi pembelajaran dengan pendekatan PAKEM:
"Sejak pendekatan PAKEM diterapkan di sekolah banyak sekali perubahannya, anak-anak lebih berani, aktif, kreatifitasnya bertambah. Karena di kelas siswa membuat dan memajangkan jam kehadirannya, anak-anak berlomba-lomba untuk datang lebih awal.
|
Pajangan hasil karya siswa SDN 1 Kutoarjo yang ditaruh di luar kelas, dan sering dikunjungi oleh orang tua/wali murid yang mengantar anaknya ke sekolah
|
sangat saya rasakan dan tampak perubahannya ada-lah dalam tulisan. Mereka (siswa) lebih bisa banyak menulis dengan kata-kata mereka sendiri. Dan yang paling saya senangi, begitu hasil karya siswa dipajangkan, mereka bisa memberikan penilaian pada hasil karya temannya dan hasil karya mereka sendiri. Tapi kendalanya, suasana di kelas lebih sering ramai dan karena anak sudah berani, kadang kala ketika sudah berani tampil, tidak tahu harus mengutarakan pendapat apa." Komentar Ibu MM. Mujiyem guru kelas V SD N 2 Kutoarjo.
Komentar Bpk. Handoko Tri Hastono, S.Pd (Guru Bahasa Inggris SMP 13 Kutoarjo); "Dengan PAKEM otomatis banyak perubahan yang sangat positif pada siswa daripada sebelum PAKEM.
|
Anak lebih komunikatif karena seringnya berinteraksi dalam KBM -baik itu antar siswa maupun siswa dengan guru--, anak lebih berani mengungkapkan pendapatnya sendiri, lebih kreatif, bekerja dan menghasilkan karya nyata. Dan yang lebih penting mereka sangat antusias dalam pembelajaran".
Selain itu, berikut refleksi dari beberapa siswa SMP N 13 Purworejo:
Sri Rahayu, Kelas 8B: "Perasaanku tentang pembelajaran sistem PAKEM sangat menyenangkan di banding pembelajaran dulu. Pesanku ; agar semua pelajaran di SMP ini menggunakan sistim PAKEM. Dan kesan saya pada waktu belajar di luar kelas sangat menyenangkan karena dapat melihat-lihat pemandangan di luar kelas dan dapat mengetahui hal-hal lainnya dan tidak seperti katak dalam tempurung".
|
Arief, Bisma dan Danang (SDN 2 Kutoarjo) bangga dengan hasil karyanya yang dipajangkan
|
Refleksi salah satu siswa kelas 7D ketika belajar Matematika: "Pelajaran tadi itu sangat senang, karena pelajarannya seperti bermain, aku suka kalau diajar seperti itu. Pelajarannya seperti tadi enak, tapi saya be-lum selesai mengerja-kan sudah dibel, jadi nggak selesai".
Refleksi yang ditulis oleh Maulana Muklas: "Dalam pembelajaran sistem PAKEM di dalam pembelajaran IPS, siswa sangat senang dan gembira apalagi saat kegiataan di luar sekolah, oleh sebab itu pembelajarannya dibuat menjadi kegiatan yang menjadikan siswa dapat mengemukakan pendapatnya dan menjernihkan pikiran".
Lain lagi dengan suasana di SD N 1 Kutoarjo yang terletak di kota Kutoarjo dan dekat kantor UPTD Pendidikan Kec. Kutoarjo. Disana, selain di dalam kelas, hasil karya siswa dipajangkan di luar kelas. Karena letak sekolahnya yang sangat strategis, dan kelas-kelasnya dekat dengan jalan, maka ketika hasil karya dipajangkan banyak orang-tua/wali murid yang setiap pagi mengantar anaknya sekolah, tidak langsung pulang, tetapi melihat-lihat dan mengamati dulu pajangan hasil karya siswa. Selain itu, mereka bisa melihat langsung RPS, RAPBS yang telah dipajangkan juga.
Fasilitator Kelas Awal di depan Mahasiswa PGSD Unnes
Pada tanggal 24-12-2005, tiga orang fasilitator kelas awal dari Jawa Tengah (Asih Jaryani, Yuli Suprihatiningsih, dan Suparni) diminta tampil di depan para mahasiswa PGSD Universitas Negeri Semarang. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka kerja sama antara Program D-2 PGSD Unnes dengan MBE Jawa Tengah.
Pada akhir kegiatan, para fasilitator menyatakan kepuasannya karena mereka dapat memfasilitasi para mahasiswa sehingga mampu membedah kurikulum, menyusun perencanaan, dan menyaksikan modeling. Para mahasiswa juga menyataka kepuasannya karena dengan melihat modeling pembelajaran di kelas awal, mereka merasa bertambah wawasannya.
|