Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Sekolah Probolinggo Jadi Satuan Kerja

Salah satu indikasi peningkatan komitmen pemerintah daerah Kab. Probolinggo di bidang pendidikan adalah dengan diperlakukannya sekolah sebagai sebuah satuan kerja. Perjalanan menuju terbentuknya sekolah sebagai satuan kerja diawali dengan pertemuan Kepala sekolah SMP/SMA/SMK dengan Bapak Bupati pada pertengahan bulan September 2005.

Pada kesempatan tersebut Bapak Bupati menampung aspirasi kesulitan lembaga khususnya dalam mengalokasikan dana rutin yang bersumber dari APBD. Dalam pertemuan ditemukan beberapa kendala dalam mengalokasian dana tersebut sehingga Bapak Bupati mengambil kebijakan untuk menjadikan seluruh 58 lembaga SMP, SMA, dan SMK sebagai sebuah satuan kerja.

Mereka diwajibkan menyusun RASK untuk Belanja Tidak Langsung (BTL) yang terdiri dari Belanja Pegawai (gaji dan non gaji), Belanja Barang dan Jasa, Belanja Pemeliharaan dan Belanja Perjalanan Dinas.

Menindaklanjuti kebijakan Bapak Bupati, Dinas Pendidikan melakukan kerja sama dengan MBE mempersiapkan lembaga-lembaga tersebut untuk menjadi satuan kerja. Bentuk kegiatan yang dilakukan dalam kerja sama adalah :

  1. Melakukan studi banding ke Kota Madiun, daerah binaan MBE yang telah terlebih dahulu memberlakukan sekolah sebagai satuan kerja.

  2. MBE dan LGSP membantu secara teknis dalam bentuk pelatihan untuk menyusun RIPS, RAPBS, dan RASK (lihat cerita di sebelah kanan).


Pimpinan rombongan Probolinggo Bpk. Syafiudin (kanan atas berbatik) setelah diterima oleh Kadis Pend. Kota Madiun Bpk Humaidi (Kiri atas, tengah) mendapatkan penjelasan penyusunan RASK di Madiun yang dilanjutkan dengan diskusi intensif antara anggota rombongan dengan KS

Kerja Sama Program USAID Di Kabupaten Probolinggo

Managing Basic Education (MBE) dan Local Government Support Program (LGSP) merupakan dua program bantuan USAID yang keduanya saat ini bermitra kerja dengan Kabupaten Probolinggo. Masing-masing program mempunyai fokus berbeda dalam memberikan bantuan teknis bagi pemerintah daerah.

Bpk Hari Riyadi dan Ibu Purwida

(Kiri) Bapak Hari Riyadi konsultan MBE dan (Kanan) Ibu Purwida konsultan LGSP memperkenalkan diri dalam pelatihan MBS bagi Kepala Sekolah dan Bendahara SMP/ SMA / SMK di Probolinggo

Salah satu fokus program MBE adalah memberi bantuan teknis bagi sekolah untuk menyusun Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) dan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah. Sementara salah satu fokus dari program LGSP adalah memberikan bantuan teknis dalam Perencanaan dan Keuangan untuk Dinas Pendidikan.

Dalam pelatihan pengembangan MBS untuk SMP di Kab. Probolinggo, MBE dan LGSP dapat bekerja secara sinergis meskipun kedua badan tersebut memiliki fokus yang berbeda.

Pelatihan dimaksudkan untuk mempersiapkan SMP/ SMA/SMK di Kabupaten Probolinggo menjadi satuan kerja. Peserta pelatihan yang terdiri atas Kepala Sekolah dan Bendahara mendapatkan materi tentang RIPS, RAPBS, RASK dan DASK.

Konsultan LGSP dan Fasilitator MBE bersama sama memberikan pendampingan secara individual kepada peserta pelatihan dalam menyusun perencanaan dan penganggaran sekolah

Kerja sama antara dua program dalam satu kegiatan baru pertama kali dilakukan di wilayah binaan MBE. Secara keseluruhan kerja sama ini berhasil dengan baik. Hal ini ditunjukkan melalui refleksi peserta setelah pelatihan.

Kebijakan Bupati Banyuwangi Baru Sejalan dengan MBE

Pada tanggal 2 Desember 2005 Konsultan MBE bersama Kepala Dinas Pendidikan berkesempatan bertemu dan berdialog dengan Bupati Banyuwangi, Ibu Ratna Ani Lestari yang baru saja terpilih dan dilantik untuk masa bakti 2005-2010. Pada kesempatan itu konsultan MBE memaparkan apa yang telah dilaksanakan Program MBE di Banyuwangi berikut capaian-capaiannya. Sektor pendidikan menjadi salah satu prioritas utama pembangunan Kabupaten Banyuwangi.

Ini ditunjukkan oleh kebijakan Ibu Bupati yang menetapkan sekolah gratis untuk sekolah-sekolah negeri di semua jenjang. Kebijakan pendidikan juga diarahkan untuk meningkatkan akses ke pendidikan tingkat sekolah lanjutan pertama. Ditargetkan pada tahun 2007 semua lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan ke sekolah lanjutan pertama.

Ibu Bupati mengatakan bahwa beliau pernah mengunjungi salah satu sekolah binaan MBE, yakni SDN 7 Jajag di Kecamatan Gambiran. Bupati menuturkan bahwa apa yang dilaksanakan di sekolah tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) itu tidak harus mahal dan tidak hanya untuk sekolah-sekolah di daerah perkotaan saja.

 
 

Beliau meminta Dinas Pendidikan bersama MBE mengembangkan model pembelajaran PKEM ke kecamatan-kecamatan lain, terutama di daerah-daerah pedesaan, sehingga pendidikan yang berkualitas baik dapat lebih merata.

Dari kiri ke kanan: Bpk Nurhadi (Kepala Dinas Pendidikan), Ibu Ratna Ani Lestari (Bupati Banyu-wangi), Bpk AR Asari (Koordinator MBE Jatim), dan Bpk Toto Purwanto (Konsultan MBE)

Selamat memimpin dan memajukan pendidikan di Kabupaten Banyuwangi, Bu Ratna.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID