|
Pelatihan dilaksanakan tanggal 19 - 21 Desember 2005 bertempat di Kartika Hotel, Kota Pontianak. Pesertanya berasal dari Kecamatan Pontianak Utara, sebanyak 16 sekolah binaan WVI (Wahana Visi Indonesia). Jumlah peserta sebanyak 75 orang, terdiri dari 1 kepala sekolah, 1 guru, dan 2 orang pengurus komsek.
Pelatihan dibuka oleh Kepala Subdin Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Pontianak dengan sambutan dari Erickson Sidjabat dari WVI. Bahan pelatihan yang digunakan adalah Paket Pelatihan 1 yang dikembangkan program MBE bersama CLCC. Para peserta mengerjakan unit-unit tentang MBS dan pengembangan Peran Seran Masyarakat (PSM). Pada hari pertama tampak para peserta antusias ingin mengetahui lebih banyak tentang MBS dan PSM.
Pada hari kedua kegiatan ini diawali dengan membuat visi, misi, dan tujuan/ harapan sekolah. Setelah itu dilanjutkan dengan mengerjakan tabel-tabel untuk menyusun RIPS. Pada hari ketiga semua peserta telah menyelesaikan pengerjaan RIPS sehingga pada kesepakatan terakhir, masing-masing sekolah bersedia memajangkan hasil kerjanya di papan pajangan sekolah secara terbuka.
|
Suyitno, salah satu Fasilitator MBE, dengan telaten membimbingpeserta pelatihan dalam menyusun scenario pembelajaran PKPS. Tampak pula dalam gambar, Bapak Erickson Sidjabat (berdiri berbaju putih)
|
Kegiatan terakhir kelompok asal sekolah berdiskusi tentang indkator monitoring yang digabung dengan rencana tindak lanjut dampak pelatihan dengan jangka waktu enam bulan ke depan. Setelah diadakan sharing dengan kelompok sekolah lain mereka bersepakat hasil diskusi- ditulis di kerta manila besar dan dipajang di sekolah secara terbuka.
|
Kondisi kelas sebelum "bedah kelas"
|
Kegiatan pelatihan 1 khusus MBS dan PSM mestinya berakhir sampai tanggal 21 Desember 2005, tetapi pihak WVI terus melanjutkan aktivitas pelatihannya sampai dengan tanggal 22-24 Desember 2005 dengan peserta dan materi pelatihan yang berbeda.
Keingintahuan dan antusiasisme para guru dan kepala sekolah yang ada di Pontianak Utara begitu besar sehingga pihak WVI pun tidak mampu membendung. Akhirnya pihak WVI hanya mampu membatasi 1 - 2 guru per sekolah sehingga jumlah peserta sebanyak 30 orang.
Materi pelatihannya terfokus pada PAKEM. Menciptakan lingkungan belajar yang baik merupakan materi yang menarik. Setelah para peserta mengidentifikasi fasilitas atau hal-hal yang harus ada di dalam kelas, mereka melakukan kegiatan perombakan kelas, atau lebih dikenal dengan istilah "bedah kelas".
|
Para peserta benar-benar mengalami langsung bagaimana kelas ditata agar tercipta aktivitas pembelajaran yang PAKEM. Penataan pajangan siswa langsung dilakukan para peserta pelatihan, termasuk sudut baca, sudut bersih, dan sebagainya.
|
Para peserta pelatihan sedang merancang "bedah kelas"
|
|
Pascapraktik mengajar, para peserta melakukan ekspo
|
Praktik mengajar dilanjutkan dengan ekspo pasca-mengajar. Acara ini banyak dihadiri para guru, kepala sekolah, dan pengawas. Banyak sekolah meminta kepada WVI untuk dilatih seperti itu. Bagai gayung bersambut, pihak WVI pun akan segera menindaklanjuti pada tahun 2006 ini.
Selamat Pontianak Utara, selamat WV I.
Oleh: Suyitno, Pengawas TK/SD Probolinggo / Fasilitator MBE
Pelatihan Peniliaian Dampak Pada Siswa di Makassar
Beberapa daerah di Sulawesi Seletan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara yang dapat bantuan dari 'Kecamatan Development Program' melalui dana dari Bank Dunia akan melaksanakan program MBS, PSM dan PAKEM seperti dilaksanakan melalui program MBE dan CLCC. Pelatihan sekolah binaan akan dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Suatu LSM, Save the Children UK, ditugaskan untuk memonitor dampak program tersebut, termasuk dampak pada siswa.
Pada akhir Juli 2005 Bpk Hadi, konsultan MBE di Jawa Timur dan Stuart Weston, Direktur Program MBE telah melatih suatu tim dari Sulawesi Selatan untuk melaksanakan tes yang biasa diguna-kan MBE untuk menilai dampak program pada siswa. Bpk Hadi di foto di sebelah kanan bersama Karin Johnson dari Save the Children UK dan beberapa anggota tim pelaksana tes.
|