|
SITUBONDO: Multigrade Besar-Besaran
Walaupun SDN 6 Kedunglo bukan sekolah binaan MBE, salah satu fasilitator kabupaten berasal dari sekolah ini, yang terletak 20 Km dari Kantor Cabang Dinas setempat, dan aksesnya yang sangat sulit. Penerapan multigrade di SDN 6 Kedunglo di lakukan secara besar-besaran. Hal ini disebabkan kondisi sekolah yang memaksakan, dengan jumlah yang hanya 2 lokal. Satu ruang untuk Kepala Sekolah beserta guru sedangkan 1 ruang untuk proses pembelajaran mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 (jumlah murid=51, guru=5). Dengan satu ruang itulah, kreatifitas guru sangat berperan. Dengan mengkondisikan agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Memang sangat sulit untuk dapat fokus karena dalam satu ruang terdapat tingkat kelas, guru dan mata pelajaran yang berbeda. ”Tapi kita sebagai pendidik harus tetap berupaya semaksimal mungkin, agar dapat menjalankan tugas dan kewajiban ” tegas P. Harnoto, S.Pd (KS SDN 6 Kedunglo).
|
Foto bersama: Fasilitator Kab. Banyuwangi, DC Situbondo, 2 Pengawas, Cabdin Asembagus beserta semua guru dan murid SDN 6 Kedunglo.
|
Moving Class di Situbondo
|
Ada yang baru di SMPN1 Panarukan. Sekolah yang dipimpin Drs Ibnu Hajar ini menerapkan sistem pem-belajaran moving class (kelas bergerak).
|
Ini adalah yang kali pertama di Kabupaten Situbondo. Dalam sistem ini siswa tidak mengenal kelas tetap. Ruang kelas di SMP1 Panarukan merupakan ruang kelas mata pelajaran. Keuntungan sistem in bagi guru, bisa memunculkan kreasi atau inovasi tentang bagaimana cara mengelola suatu kelas.
”Saat ini, di setiap dinding kelas sudah disediakan karpet setinggi 1 meter dan panjang 4 meter. Itu untuk memajang hasil karya atau ulangan terbesar siswa,” jelas Kepala Sekolah Hajar.
(Berita ini dari Radar Banyuwangi)

Foto Atas: Ruang khusus untuk Bhs. Indonesia, menunjukkan bahwa pengelompokan kelas sudah menurut masing-masing mata pelajaran. Kiri: Itu terdapat denah ruang sekolah untuk mempermudah siswa menuju ruang matpel sehingga waktu lebih efektif menjelang perubahan pelajaran selanjutnya.
|
Virus PAKEM mulai mewabah di Trenggalek!!!
Beberapa SD dari Kec. Karangan (kec. Imbas program) melakukan studi banding mandiri ke sekolah-sekolah binaan MBE di Kab.Blitar.
Gambar atas: Guru sekolah dasar dari Kecamatan Karangan belajar PAKEM di SDN 1 Babadan Blitar; 5 Jan '05
|
|
PATI: Peran Komite Sonorejo Memajukan Sekolah
Tanggal 6-7 Desember 2006, DBE Kabupaten Kudus dan Jepara melakukan kunjungan sekolah yang merupakan bagian dari Program Pelatihan di SD Binaan MBE serta SD Imbas di Kecamatan Jakenan (SD Sembaturagung 02,SD Sonorejo), Kecamatan Pati (SD Pati Kidul 01,SD Kutoharjo 03) serta Kecamatan Gabus (SD Gabus 01,SD Kuryokalangan 02 dan SD Karaban 04). Kunjungan tersebut berfokus pada Pembuatan RIPS yang merupakan bagian dari Manajemen Sekolah, PSM serta PAKEM. Peserta kunjungan berjumlah 111 orang yang terdiri atas unsur Dinas, Kepala Sekolah dan Komite Sekolah. Salah satu kegiatan di SD Sonorejo adalah diskusi antara Komite Sekolah dari 2 Kabupaten dengan Ketua Komite Sekolah SD tersebut.
Gambar di sebelah kanan menunjukan Bpk Sutono, Ketua Komite SD Sonorejo sedang berdiskusi dan menceritakan program kerja yang telah dilakukan dan akan dilakukan dengan peserta kunjungan a.l.:
Pada akhir tahun ajaran 2004/2005, atas prakarsa komite sekolah, untuk mensiasati UAN dilakukan pemusatan KBM dalam bentuk program Karantina Belajar untuk kelas 6 yang khusus mempelajari MAPEL yang akan di UAN kan. Kegiatan dimulai jam 14.00 hingga 20.00 dengan biaya yang ditanggung Komite sekolah. Program dimulai 6 bulan sebelum UAN dilaksanakan dengan pembagian waktu tiap MAPEL diserahkan kepada Guru
Efektifitas peran paguyuban kelas dalam kegiatan KBM mulai dari kelas 1 - 6 ditingkatkan. Paguyuban kelas 1-2 membuat jadwal rutin orang tua siswa untuk membantu guru dalam pelaksanaan KBM serta administrasi kelas (gambar di sebelah kanan), dan paguyuban kelas 3-6 memfokuskan diri pada administrasi kelas yang berhubungan dengan kebutuhan kelas ( seperti pajangan, pemeliharaan ruang kelas termasuk pengecatan ruang kelas)
Mengefektifkan peran komite sebagai mediator antara masyarakat dengan sekolah. Sebagai contoh, ketika sekolah membutuhkan bangunan untuk ruang UKS dan perpustakaan sekolah, maka melalui rapat yang diprakarsai oleh sekolah dan komite, pada wali murid dijelaskan pengertian tentang fungsi bangunan tersebut sehingga pada saat rapat berlangsung disepakati untuk mengumpulkan sumbangan dari warga yang mampu sebanyak Rp.78.000/warga. Sumbangan ini dikumpulkan selama 6 bulan mulai bulan Januari 2006.
ADA APA DI TRENGGALEK ?
Untuk meningkatkan mutu pelaksanaan pembelajaran PAKEM program MBE di sekolah binaan maka dibentuk tim fasilitator yang dipilih dari guru, KS, atau PS yang telah mengikuti pelatihan MBS dan atau PAKEM. Dipundak fasilitator-fasilitator inilah diharapkan tujuan peningkatan mutu pembelajaran melalui PAKEM dapat tercapai, mengakar, dan membudaya di kalangan praktisi pendidikan dasar. Untuk mendapatkan fasilitator yang berkualitas, kapabel, dan berdedikasi maka seleksinya juga melalui proses yang cukup ketat.
Para calon tersebut telah diamati oleh konsultan / fasilitator selama pelatihan. Pasca pelatihan mereka juga dimonitor oleh tim Kabupaten bersama DC dan pengawas sekolah. Pada tgl 21-22 Nov '05 mereka di observasi langsung oleh para konsultan di sekolah masing-2 dan selanjutnya diwawancarai oleh para konsultan dalam bentuk Focus group Discussion. Dari proses yang cukup panjang dan berkualitas ini akhirnya terpilih 12 orang fasilitator daerah.
|