|
PACITAN: Kiat Pengelolaan PAKEM Di Kecamatan Tulakan
Sebagai binaan MBE, kecamatan Tulakan menyadari fasilitasi dari pihak luar tidaklah selamanya. Demikian juga dengan program MBE dengan PAKEMnya. Hal terpenting adalah, bagaimana substansi kegiatan bisa dipahami dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Apalagi PAKEM merupakan metode pembelajaran yang tidak mendikotomi kecerdasan intelektual dengan ketrampilan sosial. Inilah isu penting yang sekarang menjadi persoalan cukup krusial, yaitu lulusan tidak siap ketika kembali dimasyarakat. Lebih jauh Bpk. Sulistyo, S.Pd, Kepala Cabang Dinas Kecamatan Tulakan (foto di atas) menyampaikan langkah-langkah pengelolaan program MBE khususnya PAKEM agar melembaga di institusinya sebagai berikut :
Mendayagunakan tenaga fasilitator di kecamatan. Jumlah fasilitator dikecamatan Tulakan ada 9 orang, 4 fasilitator lama dan 5 orang fasilitator lapis dua, yang meliputi lima bidang studi. Tenaga inilah yang menjadi instruktur di pelatihan PAKEM di sekolah non binaan.
|
Memanfaatkan tenaga pangawas: Pengawas selalu diikutkan dalam setiap kegiatan pelatihan agar ketika melakukan supervisi sejalan dengan program yang digulirkan dan bisa memberikan saran yang tepat.
Memakai acuan materi yang sudah dilaksanakan MBE: Materi diadopsi dari yang telah diberikan MBE, bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan, atau juga memanfaatkan referensi lain yang relevan.
Memanfaatkan dana BOS, PSBMP dll untuk memotivasi sekolah melaksanakan pelatihan mandiri. Dalam BOS, PSBMP, dan sejenisnya ada item peningkatan mutu. Ini sangat sesuai dengan usaha peningkatan kapasitas guru yang wujudnya pelatihan. Hasilnya 78 sekolah telah melaksanakan pelatihan mandiri.
Menjalin kerjasama dengan PLAN (beberapa sekolah bertempat di desa binaan PLAN). Kerjasama antara MBE dengan PLAN terjalin dengan baik khususnya dibidang pendidikan. 20 sekolah telah melaksanakan pelatihan yang dikelola bersama.
Optimalisasi Kelompok Kerja Guru sebagai forum untuk mencari solusi terhadap kendala-kendala pembelajaran terus ditingkatkan dengan memanfaatkan tenaga-tenaga potensial yang tidak lain adalah fasilitator MBE.
Merumuskan indikator keberhasilan bersama pengawas. Ini penting sebagai instrumen untuk mengukur apakah kegiatan yang sudah dilaksanakan mencapai target sesuai yang diharapkan.
Dari kenyataan diatas sebanyak 49 SD, 23 MI dan 6 SMP non binaan telah melaksanakan pelatihan. Bahkan 90 % diantaranya sudah melaksanakan 2 kali pelatihan.
|