Menlu AS Berkunjung ke Sekolah
Pada Februari MBE bersama program mitranya DBE mulai bekerja di lima SD dan dua MI di Jakarta Pusat. Kepala Sekolah, Komite Sekolah dan guru-guru sekolah tersebut telah mengunjungi beberapa sekolah mitra MBE di Batu dan Blitar, serta dilatih oleh tim MBE. Lalu diumumkan bahwa Condoleezza Rice, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat akan berkunjung ke Indonesia pada tanggal 14 Maret dan minta mengunjungi salah satu sekolah binaan di Jakarta yaitu MI Al Ma'Muriyah di daerah Cikini.
Dalam persiapan menerima kunjungan tamu penting tersebut, sekolah dibantu program MBE dan DBE. Lima fasilitator MBE dari Jawa Tengah dan Jawa Timur membantu guru-guru mengelola kelasnya secara PAKEM, termasuk pembuatan sudut baca, pemasangan pajangan, serta pelaksanaan pembelajaran secara PAKEM.  Pada hari kunjungan keamanan sangat ketat, tetapi semua guru dan siswa asyik menunggu tamu datang. Di halaman depan sekolah Ibu Menlu AS diterima oleh Ketua Yayasan, Bpk Sidi Mursalin S., dan Kepala Sekolah, Ibu Juwaeriyah.
Ketika masuk ke dua ruang kelas mereka didampingi Duta Besar AS di Indonesia, Bpk B. Lynn Pascoe, Direktur USAID Indonesia, Bpk Bill Frej, serta beberapa unsur USAID Jakarta lainnya. Sebagai mantan mahasiswa musik Ibu Rice senang mendengarkan sambutan anak main musik rebana (lihat foto di atas).
Di foto sebelah bawah Ibu Rice berbincang dengan siswa kelas 6 didampingi (kiri ke kanan) guru kelas 6, Bpk Suwardi, Duta Besar AS, B. Lynn Pascoe, Penerjemah dari AS, dan Direktur USAID Indonesia, Bill Frej.  Setelah berkunjung ke kelas 2, Ibu Menlu mem-buat pengumuman bahwa USAID akan menyumbangkan US$8.5 juta untuk membantu Indonesia mengembangkan program TV Sesame Indonesia. Semua unsur sangat terkesan dengan keakraban Ibu Rice dengan siswa.
Bahkan ada yang bertanya "Apakah Ibu sejak kecil ingin menjadi menteri?" Beliau menjawab bahwa dia tidak bermimpi menjadi menteri luar negeri, karena dia belajar musik dan pernah menjadi guru sejarah. Ada banyak foto lagi mengenai kunjungan ke MI Al Ma'Muriyah pada halaman belakang.
Sekolah di Jakarta Pusat yang menjadi binaan MBE adalah: 1. MIS Al Falah; 2. MIS Al Makmuriyah; 3. SDN Kebon Sirih 01; 4. SDN Kebon Sirih 03; 5. SDN Cikini 01; 6. SDN Gondangdia 05; 7. SDN Johar Baru 29 | Beberapa Cerita Penting di Dalam
Bekerja Sama Dengan Program Lain: MBE bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional dan beberapa program Pendidikan Dasar untuk mengembangkan pendekatan dan materi yang dapat digunakan di semua program dan untuk penyebarluasan program secara nasional. (Hal. 2) Lokakarya Reviu dan Perencanaan: 21 daerah binaan MBE telah berkumpul di Probolinggo pada bulan Maret. Semua daerah telah membuat pameran (foto bawah). Ada cerita inovasi dari nara sumber, serta kunjungan ke sekolah binaan di Kota Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo. (Hal. 3 - 4)   Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah: Salah satu hal yang dikembangkan melalui program MBE adalah pengelolaan dan pemanfaatan perpustakaan sekolah maupun sudut baca. Salah satu sekolah di Situbondo yang telah mengembangkan dan memanfaaatkan perpustakaan sekolah dengan baik diceritakan pada (Hal. 15) (foto atas). Pengembangan Pembelajaran PAKEM: Salah satu keberhasilan program MBE adalah pengembangan PAKEM secara luas, baik di daerah yang sudah lama melaksanakan program maupun di daerah yang baru masuk beberapa bulan. Beberapa contoh pembelajaran diceritakan pada (Hal. 19-21). Pelatihan Pelatih Kelas Rangkap (Multi-Grade): Dalam rangka meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya beberapa daerah telah atau akan membentuk sekolah kelas rangkap, di mana, kalau jumlah anak di setiap kelas tidak banyak, satu guru mengajar dua kelas pada saat yang sama. Calon pelatih dari 7 daerah telah dilatih pada bulan Maret di Banyuwangi. (Hal. 22)  Kemitraan Dengan Dunia Usaha: MBE bekerja sama dengan perusahaan Aqua-Danone di Sukoharjo dan Magaleng (foto atas) untuk mengembangkan kegiatan berkaitan dengan air di sekolah binaan. (Hal. 23) Geliat dari Daerah Binaan: Bacalah cerita dari 21 daerah binaan yang sebagian besar ditulis pihak daerah sendiri, untuk mengetahui inovasi dan kreatifitas setiap daerah. (Hal. 5 - 18) |
|