|
Pengembangan Pembelajaran PAKEM....
|
|
NGANJUK: SD Islam Terpadu Baitul 'Izzah
Kehadiran program MBE yang belum lama di Kabupaten Nganjuk mampu menjadikan lembaga SDIT Baitul 'Izzah memperoleh penguatan pada sistem pendidikan yang telah kami terapkan dan peningkatan kualitas dari program-program yang telah ada, antara lain :
Sejak awal berdiri keberadaan kami didukung penuh oleh PSM baik wali murid maupun masyarakat luas. Program MBE menstimulasi lembaga untuk memperluas jaringan dengan dunia usaha atau lembaga lain.
Sejak berdiri telah terbentuk IOM (Ikatan Orangtua Murid = Komite Sekolah) yang mencakup seluruh kelas, saat ini lebih optimal lagi dengan terbentuknya Sub Komite Kelas (Paguyuban Kelas) dengan programnya masing-masing.
Transparansi dan akuntabilitas dalam keuangan sekolah sangat mendu-kung sistem manajemen kami yang bercirikan pada "IMAN ' AMANAH ' AMAN" di dunia dan akhirat.
Pelatihan PAKEM yang terprogram, meningkatkan ketrampilan guru dalam mengajar, menambah wawasan dan mengembangkan kreativitas guru.
Kepedulian wali murid meningkat dengan program kunjungan kelas. Pada pelatihan PAKEM II tgl 6-7 April 2006 ini kegiatan guru mengajar digantikan oleh wali murid, sehingga pembelajaran tetap berjalan lancar.
|
1. Ibu Usuwatun, Kepala Sekolah
2. Kolam renang kontribusi PSM SDIT Baitul Izzah
3. Siswa kelas 4 di depan pajangan hasil karyanya
4. Seorang anggota Paguyuban Kelas yang sedang mengajar bertugas menggantikan guru kelas yang ikut Pelatihan PAKEM
5. Seorang anak tengah asyik belajar tentang Rambu Lalu
|
Berbarengan dengan model pembelajaran yang melatih siswa untuk berfikir terbuka dan berani, maka harus diimbangi dengan fondasi nilai-nilai keagamaan / spiritual yang kuat. Maka kehadiran MBE menjadi penyemangat baru dalam meningkatkan mutu pendidikan di SDIT Baitul 'Izzah.
Oleh: Dra. Uswatun Hasanah, Kepala SDIT Baitul 'Izzah
|
|
PEMBELAJARAN PAKEM
Sebuah Perjalanan Pembelajaran Menuju Perubahan
Boleh dibilang tidak percaya! Tetapi ini satu kenyataan yang saya alami sendiri. Selama ini tidak pernah ter-fikir bagaimana pembelajaran yang inovatif. Adanya hanya monoton mengacu yang sudah ada. Kalau tidak menurut rincian butir kurikulum, itu terkesan tidak benar dalam mengajar. Kita tidak pernah tahu sejauh mana kekurangan dan kelebihan siswa dalam belajar. Asalkan nilai ulangan dan nilai rapor sudah sembilan-sembilan, dapat dikatakan bagus dan berhasil.
Hal ini perlu kita pertanyakan setelah munculnya PAKEM. PAKEM yang baru saya ikuti beberapa bulan membawa dampak positif bagi pengembangan pembelajaran. Kebiasaan nyontek tidak mungkin terjadi dalam PAKEM. Sumber belajar bagi pembelajaran ini amatlah luas. Kita dapat memanfaatkan beberapa sumber belajar sebagai nara sumber. Misalnya koran, lingkungan, benda sekitar, orangtua, tokoh masyarakat pun dapat kita jadikan sumber belajar pengembangan PAKEM.
Pada saat PAKEM berlangsung, suasana dalam kelas menjadi berubah total. Siswa yang biasanya malas dan enggan belajar berubah menjadi aktif belajar. Komunikasi siswa dalam kelompok mulai tumbuh, saling adu pendapat pun terjadi dalam kelompok itu. Siswa mulai berani mengemukakan ide-ide atau pendapatnya. Siswa yang pandai mulai bersaing menghasilkan karya yang bagus. Itulah suasana yang terjadi dalam kelas yang sengaja dibuat kelompok dalam tempat duduknya.
PAKEM tidak menutup kemungkinan belajar di luar kelas. Bahkan di tempat parkir sepedapun, pembelajaran PAKEM bisa berlangsung. PAKEM sebenarnya mudah dilaksanakan. Anggapan yang muncul dengan adanya PAKEM target materi tidak tercapai itu kurang benar. Sekali pembelajaran PAKEM dapat mengintegrasikan beberapa mata pelajaran, itu jika dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh guru, contohnya: dengan mengamati sepeda kita dapat melakukan pembelajaran IPA untuk dinamo sepeda, ban sepeda kita cari keliling dan luas lingkaran untuk pembelajaran Matematika.
Mendeskripsikan sepeda untuk menulis cerita merupakan pelajaran Bahasa Indonesia. Jika kita melaksanakan PAKEM dengan sederhana dapat kita gunakan barang bekas untuk menghasilkan produk PAKEM.
Selama melaksanakan PAKEM hasil karya anak dapat memuaskan, terkadang menghasilkan produk yang mengejutkan bagi guru. Situasi kelas dan pandangan dalam kelas dapat berubah. Karya anak yang dipajangkan menambah kebanggaan dan pengetahuan siswa. Kreasi karya anak dapat dibaca-baca lagi sebagai sumber imajinasi.
Ciri pembelajaran PAKEM adalah, sumber belajar jelas, kegiatan belajar berjalan aktif, dan menghasilkan produk yang berkualitas. Mendokumentasikan hasil karya anak yang sudah lama merupakan bagian dari kegiatan akhir pembelajaran, artinya setelah produk PAKEM dipajang dalam jangka waktu tertentu dapat didokumentasikan dan disimpan anak, sebagai wujud laporan kepada orangtua di samping nilai rapor.
Oleh: Diah Ani, Guru Kelas 6 SDN Sukoharjo 2,
Fasilitator Bahasa Indonesia Kab. Sukoharjo
|