Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Lokakarya Reviu dan Perencanaan di Probolinggo

Setiap enam bulan sekali wakil dari daerah-daerah MBE berkumpul untuk meninjau kembali kegiatan MBE selama enam bulan sebelumnya serta membuat perencanaan ke depan. Peserta lokakarya ini termasuk unsur-unsur Bappeda, Dinas Pendidikan, Departemen Agama, DPRD dan Dewan Pendidikan.

Untuk pertama kalinya Kota Banda Aceh bergabung sehingga menjadi 21 kabupaten/kota. Setiap daerah membuat pajangan kegiatan MBE yang sangat mengesankan. Beberapa unsur daerah menjadi nara sumber termasuk guru, kepala sekolah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan unsur pemerintah daerah lainnya.

1. Ibu Endri dan Ibu Nuzuli, koordinator MBE dari Blitar dan Kota Banda Aceh bekerja sama untuk menyiapkan pajangan Banda Aceh.

2. Beberapa pajangan daerah: Kabupaten Probolinggo (foto 2a), Trenggalek (foto 2c), Situbondo (foto 2d), dan Kebumen (foto 2b), yang menunjukkan kemajuan sekolah di daerahnya sejak MBE masuk.

3. Bpk Supanut yang menjadi dinamisator MBS dan PAKEM di Probolinggo sudah dilantik menjadi Kepala Dinas Pendidikan dan ikut Sekretaris Daerah, Bpk Kusnadi membuka rapat reviu dan perencanaan.

4. Peserta lokakarya membahas pemaparan dari nara sumber.

Sekolah di Pasuruan Mengesankan Peserta

Kota Pasuruan bergabung dengan program MBE Tahap 3 pada bulan April tahun lalu. Walaupun baru bergabung dengan program MBE dalam waktu yang singkat, dan baru melaksanakan satu kali program pelatihan kabupaten (MBS/PAKEM 1), ada tanda-tanda kegiatan PAKEM yang menggembirakan di sekolah-sekolah yang dikunjungi.

5. SD Petamanan memajangkan hasil karya siswa di dalam maupun di luar kelas, di serambi bersama-sama dengan Rencana Pengembangan Sekolah dan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah. Hasil karya siswa yang dipajangkan bervariasi, termasuk puisi, cerita dan laporan-laporan.

6. Para siswa SD Bangilan senang menggunakan berbagai gambar dari suratkabar untuk menulis mengenai peristiwa-peristiwa hangat di Indonesia. Setiap siswa membuat ceritanya sendiri dari gambar tersebut.

7. Di SD Bukir empat sekolah digabungkan di satu tempat. Kelas-kelas diisi dengan hasil-hasil karya siswa yang menarik dan pengorganisasian kelas sangat sesuai untuk belajar kelompok. Satu gagasan baru yang terlihat di sejumlah sekolah di Pasuruan adalah gerai suratkabar di luar kelas, memuat beberapa suratkabar untuk dibaca para siswa.

Satu sumber belajar lain yang terlihat di kelas-kelas adalah buku-buku kecil berisi kliping suratkabar yang dibuat para siswa dan digunakan untuk berbagai kegiatan seperti kegiatan IPS dan Bahasa Indonesia.

Sekolah-sekolah di Pasuruan merasa bangga dengan komitmen yang ditunjukkan oleh guru-guru dan kepala sekolah untuk mengadopsi PAKEM di kelas mereka. Dalam waktu singkat, perubahan besar telah terjadi.

Ibu Endri dan Ibu Nuzuli
Probolinggo
Kebumen

Trenggalek

Situbondo

Bp.Supanut dan Bp.Kusnadi

Peserta Lokakarya

Hasil karya Siswa

Siswa SD Bangilan

4 Sekolah Digabungkan di satu Tempat
RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID