Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Geliat dari Daerah Binaan

BANYUMAS: MBE Semakin Marak

Unit Pendidikan Kecamatan Baturaden bertekad melangkah lebih awal. Dengan diadakannya Pelatihan Imbas untuk seluruh SD/MI di Kecamatan Baturaden, membuktikan bahwa UPK Baturaden bergerak selangkah lebih maju. Pelatihan yang dilaksanakan pada tanggal 23-24 Januari lalu merupakan Pelatihan Imbas perdana di Kabupaten Banyumas. Di bawah adalah salah satu kegiatan kelas IPA.

Salah satu Kegiatan Kelas IPA

SMPN 1 Wangon bertekad untuk belajar lebih banyak tentang PAKEM. Pada pelatihan mandiri tanggal 13-14 Maret, Seluruh Guru SMPN 1 Wangon giat belajar bersama dengan fasilitator MBE Kabupaten Banyumas. Beberapa guru sedang merancang pola tempat duduk di kelasnya, salah satu wujud pengelolaan kelas.

Beberapa guru sedang merancang pola

Magang ternyata Lebih Efektif

Bpk Sukardi, Pengawas TK/SD di UPK Kebasen yang juga sebagai fasilitator MBE, memang luar biasa semangat dalam menjalankan tugasnya, baik sebagai pengawas maupun sebagai fasilitator. Dengan harapan maju dan berkembangnya MBE di seluruh Kabupaten Banyumas, khususnya Kecamatan Kebasen, beliau menerapkan program magang di SD/MI binaan dengan peserta guru-guru yang berasal dari sekolah di luar binaan.

Program ini dilaksanakan mulai tanggal 6 sampai dengan 25 Februari 2006. Peserta yang semula bertanya-tanya apa itu PAKEM, sekarang sudah mendapatkan gambaran dengan pengamatan dan praktek langsung. Fasilitator berperan aktif, dengan cara mendampingi peserta magang dan sekaligus diskusi.

Atas: Salah satu guru peserta magang yang sedang praktek langsung di kelas. Terlihat semua siswa aktif di kelas

Siswa Makin Asyik di Kelas

Anak kelas 2 MIM Pandansari menimbang 2 buah benda yang berbeda dengan menggunakan alat timbangan sederhana yang mereka buat sendiri. Ternyata sebuah penghapus karet lebih berat dibandingkan bola plastik. Ada juga cara menggunakan alat ukur tidak baku. Anak mengukur panjang meja dengan menggunakan jengkal tangannya.

Antar satu siswa hasilnya berbeda dengan siswa lainnya. Dan hal ini menimbulkan perdebatan antar mereka. Kenapa hasil si A tidak sama dengan si B.

Anak kelas 2 MIM Pandansari

Anak kelas 2 MIM Pandansari menimbang 2 buah benda yang berbeda dengan menggunakan alat timbangan sederhana yang mereka buat sendiri

PURWOREJO: Modeling main peran

Dalam materi Peningkatan PSM pada Pelatihan MBS II Kecamatan Kutoarjo, salah satu yang menarik adalah modeling main peran dalam studi kasus dari peserta pelatihan. Modeling ini ternyata sangat efektif bagi peserta untuk memahami materi peningkatan PSM di sekolah. Apa itu main peran, sulit dihayati oleh peserta.

Untuk itu, fasilitator mempunyai ide untuk modeling main peran. Dimana setiap peserta akan dapat berempati pada seorang tokoh. Misalnya komite sekolah, akan punya empati terhadap kepala sekolah, bagaimana seharusnya yang dia lakukan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan krusial di sekolah seperti turunnya prestasi siswa, kerusakan dan kurangnya buku-buku perpustakaan dan masalah-masalah lainnya.

Asumsinya, tentu saja masalah sekolah tidak bisa diselesaikan hanya oleh kepala sekolah saja. Akan tetapi harus dipikirkan dan diselesaikan bersama-sama dengan stakeholder sekolah tersebut, seperti komite sekolah, tokoh masyarakat, guru, wali siswa dan yang lainnya. Ini bisa menjadi gambaran bagi mereka untuk bersama-sama berperan dalam peningkatan sekolah.

Bpk. Drs Mudjito,Bpk. Supriyono dan Bpk. Cokrogino

Atas: (dari kiri) Bpk. Drs Mudjito (guru) berperan sebagai komite sekolah, Bpk. Supriyono, Komsek sebagai tokoh masyarakat, Bpk. Cokrogino adalah Komsek SDN Tepus Kulon sedang menokohkan seorang kepala sekolah, Bpk. Drs. Sardi (KS) sebagai guru, dan Bpk. Eko Sukasono, SH (pengusaha/komite SDN 1 Kutoarjo) sebagai wali siswa.

Mereka berperan sangat baik. Bpk Cokrogino sebagai tokoh KS (tengah) memimpin diskusi upaya penyelesaian masalah-masalah sekolah. Peserta lebih memahami materi dan tahu posisi masing-masing, apa yang seharusnya mereka lakukan untuk sekolah.

BLITAR: MGMP Studi ke BMG Karangkates, Malang

Untuk menindaklanjuti kegiatan MGMP binaan MBE, maka pada tanggal 8 Maret 2006 dengan dipandu oleh fasilitator Bpk Wilis, para guru mengadakan studi lapangan ke Badan Metereologi dan Geofisika Kelas 3 di Karangkates, Malang. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan guru, khuhusnya mata pelajaran IPS, tentang BMG.

Hal itu juga berguna untuk lebih memperluas wawasan bagaimana pendataan yang dilakukan berkaitan dengan cuaca, gempa tektonik serta peringatan dini tentang tsunami di Jawa Timur. Kegiatan tersebut diikuti oleh 15 guru dari SMP maupun MTs binaan MBE Kabupaten Blitar.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID