|
Geliat dari Daerah Binaan...
|
SD Pati Kidul 01 Juara Lomba Gugus Tingkat Jawa Tengah
SD Pati Kidul 01 adalah SD binaan MBE yang merupakan wakil dari Dinas Pendidikan Kabupaten Pati untuk mengikuti lomba gugus tingkat Jawa Tengah tahun 2005. Menurut Kepala Sekolah, Bpk Muryanto, mereka banyak merangkul dan bekerja sama dengan komite sekolah untuk memperbaiki lingkungan sekolah maupun kelas.
Dalam pembelajaran pihak sekolah menggunakan pendekatan PAKEM dimana terlihat "pohon ilmu" yang merupakan pemajangan karya siswa terbaik di masing-masing kelas (lihat gambar). Dalam hal manajemen sekolah dilakukan transparansi keuangan sekolah melalui pemajangan RAPBS di halaman kelas.
Dengan demikian setiap orang dapat mengetahui kondisi keuangan sekolah tanpa harus bertanya. Ketika ditanya tentang hal-hal yang membuat SD Pati Kidul 01 menjadi Juara 1 lomba gugus tingkat Jawa Tengah, kepala sekolah mengatakan bahwa 3 kompenen MBS, PSM, PAKEM serta kondisi SD Imbas yang tidak ketinggalan jauh merupakan salah satu kunci yang mendominasi penilaian gugus.
PURBALINGGA: PAKEM tidak harus mahal!
Banyak guru di Kabupaten Purbalingga masih ragu menerapkan pola pembelajaran PAKEM walaupun sudah menerima pelatihan PAKEM 1. Hal ini disebabkan karena pembelajaran pola PAKEM diidentikkan dengan pola pembelajaran mahal yang hanya bisa diterapkan di sekolah-sekolah yang maju dan gampang mencari dana.
Akan tetapi setelah diadakan pelatihan PAKEM 2 di Kabupaten Purbalingga tanggal 27 Maret - 1 April 2006 anggapan tersebut lambat laun sirna, karena pelatih yang ada di PAKEM 2 ini mayoritas berasal dari Purbalingga.
|
Atas: Siswa MI Kholidiyah Kalibulan dan SDN 1 Wirasana menggunakan barang bekas dan tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dalam acara Praktek Mengajar Pelatihan PAKEM 2 Purbalingga.
|
|
Atas: Ibu Siti Haniah guru kelas awal SDN 2 Banjarkerta sedang praktek mengajar luar kelas di MI Kholidiyah Kalibulan
|
Pelatih atau fasilitator daerah ini jauh hari sebelum ada pelatihan PAKEM 2 ini sudah menerapkan pola pem-belajaran PAKEM di sekolahnya masing-masing. Ini bisa membuktikan bahwa pola pembelajaran PAKEM tidak harus mahal karena kebanyakan dari fasilitator daerah ini berasal dari sekolah yang tergolong sekolah tidak maju, minim fasilitas dan tidak gampang mencari dana. Akan tetapi para fasilitator daerah Purbalingga tidak berputus asa dengan keadaan.
Mereka bisa menerapkan pola pembelajaran PAKEM dengan barang-barang bekas yang mudah dicari dan bahan-bahan dari alam lingkungan sekitar.
|
Pada pelatihan PAKEM 2 ini guru-guru di Purbalingga mulai akrab dengan pembelajaran di luar kelas. Ternyata anak didik mereka lebih cepat mengerti apabila penyampaian materi pembelajaran diselingi dengan acara bermain.
'Sekolah Saat Ini Tidak Membutuhkan Uang...'
Di sekolah-sekolah binaan MBE Kabupaten Purbalingga, peranan Komite Sekolah mulai ada peningkatan yang signifikan dalam kepedulian akan kebutuhan sekolah. Mereka bersama-sama kepala sekolah dan guru mulai mengidentifikasi dan membuat skala prioritas kebutuhan sekolah.
Komite Sekolah bersama-sama masyarakat sekitar sudah sadar betul apabila hanya mengandalkan bantuan pemerintah saja maka sekolah yang mereka harapkan bisa maksimal memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka tidak bisa terwujud tanpa bantuan masyarakat.
Seperti di SDN 3 Bojong dan MI Kholidiyah Kalibulan. Di kedua sekolah ini keadaan kamar kecil/toilet sudah tidak layak karena memang kondisi fasilitas ini rusak.
|
1. Ibu Sis Ruwiyati (KS SDN 3 Bojong) didampingi Bendahara Komite Sekolah Bpk Suparman sedang melihat Bpk Imam (Komite Sekolah) sedang memasang atap.
2. Bpk Suchemi KS MI Kholidiyah Kalibulan didepan WC dan Sumur baru.
3. Bpk Tjarman (KS SDN 1 Karang-gedang) sedang mengamati bantuan komputer dari Komite Sekolah
|
Melihat keadaan ini, Ibu Sis Ruwiyati Kepala Sekolah SDN 3 Bojong dan Bapak Suchemi Kepala Sekolah MI Kholidiyah Kalibulan mengajak Komite Sekolah untuk bermusyawarah membahas kebutuhan kamar kecil. Dalam musyawarah itu, Ibu Sis maupun Bapak Suchemi menolak bantuan komite dan wali murid berupa uang.
Mereka berdua mengharapkan agar pembangunan kamar kecil itu langsung dikelola komite sekolah, Ibu Sis dan Bapak Suchemi menekankan pada komite sekolah bahwa pada saat ini sekolah tidak membutuhkan uang namun lebih membutuhkan bantuan fasilitas.
Oleh sebab itu mereka berdua mengharapkan agar pembangunan kamar kecil dikelola oleh komite sekolah langsung sejak dari perencanaan, pembangunan, penggalangan dana sampai dengan pelaksanaan pembangunan.
Hasilnya sangat memuaskan. SDN 3 Bojong kini memiliki lima kamar kecil yang sangat bagus dan MI Kholidiyah Kalibulan memiliki 2 kamar kecil dan 1 buah sumur baru.
Selain itu, Komite Sekolah SDN 1 Karanggedang tidak kalah dengan komite sekolah lain. Dengan dikoordinasi Kepala Sekolah Bpk Tjarman, sekarang SDN 1 Karanggedang mempunyai seperangkat komputer dan printer lengkap. Atas dasar pertemuan antara kepala sekolah dan komite sekolah, kebutuhan sekolah dapat dipenuhi oleh swadaya wali murid.
Bpk Ngusman Mujianto dan Bpk Sujoko (Komite Sekolah) sudah mengkoordinir bantuan swadaya perbaikan gedung perumahan dinas untuk dijadikan ruang perpustakaan, ruang komputer, dan UKS dengan biaya ditanggung secara swadaya wali murid masing-masing Rp.50.000 yang diangsur selama 3 bulan mulai bulan April ini. Sedangkan pembangunannya direncanakan pada bulan Mei 2006.
|