Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Suara dari Daerah

Cerita Bu Guru

Nama saya Isna, guru kelas 2 di SDN 3 Karangan Kec. Karangan Kab. Trenggalek. Sekolah saya merupakan salah satu dari 5 sekolah di Kec. Karangan yang ikut diundang setiap ada Pelatihan MBS dan PAKEM yang diselenggarakan MBE. Jadi saya satu-satunya guru di sekolah kami yang mendapat pelatihan PAKEM langsung dari MBE (KSnya ikut di pelatihan MBS).

Atas: Bu Isna (baju abu-abu, tampak samping) berbincang dengan Pak Stuart.
Bawah: Anak kelas 2 mampu menceritakan pengalamannya dan mengungkapkan gagasannya dengan runtut dan rapi.

Setelah pelatihan Ibu KS kami, Bu Dyah, mengajak kami para guru untuk selalu berbagi pengalaman dan mencoba menerapkan MBS dan PAKEM ini di sekolah kami. Setelah dipantau bapak-bapak MBE dari kabupaten dan ditinjau oleh konsultan MBE (Bp. Najid, Bp. As'ari dan Bp. Hadi) akhirnya Ibu KS kami ikut terpilih sebagai salah satu Fasilitator Daerah, yang semakin meningkatkan semangat kami untuk lebih memajukan pelaksanaan MBS-PAKEM di sekolah kami.

Sebagai seorang guru saya sangat merasakan hasil perubahan yang terjadi pada siswa setelah beberapa bulan mencoba pembelajaran dengan cara PAKEM. Dengan membiasakan anak-anak belajar mengembangkan gagasan dan memecahkan masalah melalui diskusi kelompok, sekarang anak-anak menjadi sangat pemberani, tidak takut bertanya, tidak takut salah dan tidak malu berkreasi.

Anak-anak juga senang sekali ketika pembelajaran menggunakan sumber-sumber belajar lain yang tidak dari buku. Mereka sangat menyukai pengamatan benda dan peristiwa di luar kelas. Saya sangat senang ketika Pak Stuart dan Ibu Lynne dari MBE mampir ke sekolah kami dan kebetulan masuk ke kelas saya. Beliau sangat senang ketika anak-anak tanpa malu-malu mengajak berbincang dan mengajukan pertanyaan.

Ibu Lynne sempat memeriksa/merekonstruksi karya siswa-siswa saya di papan pajangan dan banyak memberikan masukan untuk saya agar lebih memperbaiki teknik pembelajaran PAKEM yang saya terapkan.

Harapan kami, supaya rencana MBE Kabupaten Trenggalek yang akan mengimbaskan program MBS dan PAKEM di Kec. Karangan segera terwujud. Saya ingin sekolah saya bisa menjadi seperti halnya SDN Tangkil di Blitar yang pernah kami kunjungi bersama UPK dan 4 SD lain di Karangan beberapa waktu lalu.

Cerita ini dituturkan Ibu Isna Indiati, Guru SDN 3 Karangan

PURWOREJO: Peningkatan Pembelajaran Matematika

Sebelum bergabung dengan program MBE, pembelajaran Matematika pada umumnya masih konvensional, seperti informasi/ ceramah lalu diikuti dengan drill.

Proses ini hanya mengarah pada target pencapaian kurikulum. Kondisi ini tidak akan menumbuhkembangkan kemampuan dan aktivitas siswa seperti diharapkan. Guru sering kecewa melihat hasil ulangan harian yang hanya mendapat daya serap 60% dan rata-rata kelas kurang dari 5.

Setelah menerapkan PAKEM selama 7 bulan, siswa dapat mengembangkan potensi yang selama ini belum dibangkitkan. Siswa dapat berpikir kritis, kreatif, cermat, percaya diri dan dapat mencari solusi yang tepat dalam mengatasi masalah yang dihadapi.

Salah satu hasil karya siswa untuk mata pelajaran matematika

Pemahaman siswa terhadap konsep dan materi pembelajaran meningkat dengan nyata dan pembelajaran matematika di kelas 7 sekarang termasuk pembelajaran yang digemari karena siswa merasa senang dan tidak tegang.

Siswa membuktikan bahwa luas jajaran genjang sama dengan luas persegi, dan luas belah ketupat sama dengan luas dua kali luas persegi panjang atau luas belah ketupat sama dengan dua kali luas persegi. Kerjasama antar individu dan pembelajaran kooperatif membuat siswa betul betul kreatif, dan percaya diri dengan menemukan hasil sendiri.

Oleh Nurdiyani, Fasilitator Daerah dan Guru Matematika

SMPN 3 Pacitan

Ketika MBE masuk di Pacitan, SMPN 3 menjadi salah satu sekolah binaan, sekolah mengem-bangkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dengan pemajangan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS), Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) dan selalu diperbaharuhi setiap tahun.

Komite sekolah juga semakin terlibat secara aktif terhadap program-program sekolah, sebagai contoh untuk tahun ini menggagas dan telah merealisasi pembuatan ruang komputer beserta isinya, dan pelaksanaan PAKEM.

Walaupun masih ada hambatan klasik yang tidak ringan, mulai fasilitas sekolah yang terbatas, kondisi guru yang kurang siap melakukan perubahan, juga adanya fenomena input siswa rendah mau diapakan saja tetap rendah.

Dengan berbagai pelatihan yang diselenggarakan Managing Basic Education (MBE) disertai nara sumber yang ramah, tekun, ulet dan pantang putus asa, akhirnya sekolah kami sekarang telah melakukan banyak hal.

Mulai pengorganisasian kelas, pengaturan tempat duduk secara bervariasi memudahkan siswa berinteraksi dan bergerak sehingga guru menjadi lebih mudah dan senang membantu siswa dalam kelompok.

Kegiatan praktis secara individu atau kelompok banyak dikembangkan, sumber belajar lebih beragam (memanfaatkan lingkungan, koran dan barang bekas), hasil belajar siswa berupa laporan ditulis dengan kata-kata sendiri dan dipajangkan.

Ternyata siswa merasa lebih nyaman dan punya animo belajar yang tinggi. Hasilnyapun lumayan, tahun 2005 yang lalu siswa kami mampu meraih juara harapan pada sinopsis, juara III pidato bahasa Inggris, dan juara I lomba karya tulis hari koperasi tingkat kabupaten serta prestasi di bidang seni dan olah raga yang tetap diraih.

Semoga perubahan selalu terjadi di sekolah kami dan keberhasilan menyertai kami.....Amien.!

Oleh Edy Winarno, Fasilitator MBE, Mata Pelajaran Sains

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID