Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

NGANJUK: 'Cooperative Learning' Memberdayakan Siswa

Pada awal penerapan PAKEM, beberapa guru mendapat kesan bahwa kerja kelompok adalah kegiatan siswa berdiskusi memecahkan masalah dengan formasi duduk berkelompok. Bagaimana proses dan peng-organisasian diskusi kelompok itu berlangsung belum sepenuhnya dipahami. Akibatnya, sebagian besar guru pada kegiatan KKG mengeluhkan bahwa siswa cenderung ramai/gaduh ketika kerja kelompok. Mereka merasa kesulitan dalam pengorganisasian kelas atau mengendalikan siswa. Akhirnya terbentuk citra bahwa kerja kelompok dalam PAKEM itu merepotkan dan sulit mengatur/mengendalikan siswa.

Ada "something wrong" dengan PAKEM. Namun setelah menerima pelatihan PAKEM II tentang Cooperative Learning barulah terkuak pemahaman yang lebih baik lagi. Ternyata kerja kelompok belum tentu identik dengan cooperative learning. Tergantung bagaimana proses belajar yang terjadi dalam kelompok.

Selama ini sering dijumpai dalam kegiatan belajar kelompok, tugas kelompok hanya dikerjakan oleh satu dua siswa yang dianggap pintar dalam kelompok tersebut. Sementara siswa yang lain dalam kelompok tersebut melakukan aktivitas lain yang cenderung aktif destruktif seperti bercanda, ngobrol, usil, bermain dsb. Mereka berbuat demikian dengan dalih, tanpa berperan serta toh tugas dapat diselesaikan. Sedangkan siswa yang "kurang" semakin pasif (menonton saja) karena dianggap temannya tidak mampu memberikan kontribusi untuk menyelesaikan tugas kelompok.

Berbeda dengan gambaran kerja kelompok seperti tersebut di atas, cooperative learning mengajarkan siswa untuk belajar bekerja sama dalam satu team (sebagai team work), belajar bertanggung jawab, belajar memimpin dan dipimpin, dan belajar menghargai pendapat (berdemokrasi).

Mengapa demikian? Karena setiap anggota kelompok dituntut untuk bekerja (sesuai dengan kapasitasnya) dan memberikan kontribusi demi tercapainya target/tujuan kelompok. Untuk itu guru harus kreatif membuat skenario pembelajaran yang menarik, menantang, dapat memberdayakan dan melibatkan peran serta semua siswa dalam kelompok.

Banyak alternatif untuk memberikan tugas dan mengatur kerja kelompok agar semua siswa bekerja dengan penuh semangat serta terlibat aktif memberikan kontribusi untuk kelompoknya. Salah satu contoh: kelompok siswa dapat dipecah menjadi kelompok tugas atau kelompok ahli (yang terdiri dari individu atau berpasangan). Anggota kelompok ahli ini harus berdiskusi menyelesaikan satu masalah yang berbeda-beda bersama dengan anggota kelompok lain.

Setelah itu kembali ke kelompok asal untuk berdiskusi membahas hasil yang telah diperolehnya. Pada kegiatan seperti ini setiap siswa dituntut untuk aktif (mencatat) dan bertanggung jawab mengemban tugas dari kelompoknya. Karena tercapai atau tidak target kerja kelompok tergantung pada usaha siswa tersebut untuk mendapatkan hasil dari diskusi dengan team ahli.

Intinya, dengan model kegiatan seperti ini semua siswa melakukan aktivitas yang lebih terarah (aktif konstruktif) karena setiap siswa dalam kelompok tersebut mendapat tugas dan pembagian peran yang berbeda.

Sehingga antara satu anggota dengan yang lain saling membutuhkan dan bekerja sama memberikan kontribusi untuk kelompoknya. Banyak alternatif model pembelajaran kooperatif yang dapat digali & dikembangan oleh guru/fasilitator.

Efek cooperative learning tidak hanya kelihatan pada aspek kognitif dan psikomotorik saja. Dari sisi afektif, siswa ternyata dapat berlatih untuk menghargai pendapat & keberadaan teman, sifat egois dan dominasi siswa "pintar" dalam kelompok mulai berkurang.

Sedangkan siswa yang memiliki kemampuan pas-pasan mendapatkan tempat untuk lebih dihargai, karena sesuai dengan kapasitasnya ia dapat memberikan kontribusi bagi kelompok-nya. Sehingga sedikit banyak hal ini dapat meningkatkan kepercayaan dirinya. Jadi, dalam kelompok semua anggota sekecil apa pun kontribusinya, layak untuk dihargai, tidak hanya siswa yang pintar saja.

Oleh Dra Saidah Mardiana , Fas IPS SD, Kab Nganjuk

KEBUMEN: Siswa SDN 1 Ambalresmi Ke Wartel untuk Belajar Teknologi Komunikasi

Salah satu kompetensi dasar yang hendak dicapai dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD/MI adalah kemampuan memahami perkembangan teknologi komunikasi. Dalam rangka mencapai kompetensi tersebut guru dapat merancang pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung pada siswa.

Beberapa waktu lalu, siswa-siswa kelas IV SD Negeri 1 Ambalresmi, Ambal, Kebumen diajak berkunjung ke wartel. Guru meminta penjaga wartel agar berkenan menjadi narasumber dan menerangkan kepada siswa bagaimana cara menelpon. Hal ini sengaja dilakukan agar siswa memperoleh informasi langsung dari tangan pertama.

Setelah itu satu persatu siswa mencoba menelpon (guru sudah menghubungi salah seorang pemilik telepon sebagai nomor tujuan dan meminta kesediaannya untuk melayani telepon para siswa).

Setelah siswa praktik menelpon, mereka kembali ke kelas dan mendiskusikan tentang apa dan bagaimana kegiatan yang telah mereka lakukan di wartel. Pada kesempatan itu didiskusikan pula bagaimana etika bertelepon, bagaimana perkembangan teknologi komunikasi dari waktu ke waktu, apa keuntungan dan kelemahan berkomunikasi dengan telepon.

Setelah itu mereka menulis dengan kata-kata sendiri tentang kegiatan yang telah mereka lakukan. Sebagai tindak lanjut untuk mengetahui pencapaian kompetensi tersebut siswa diberi tugas untuk menelpon guru pada sore hari dan hari-hari berikutnya. Dengan demikian guru dapat memantau sejauh mana siswa menguasai kompetensi tersebut.

Selintas kegiatan ini sangat sepele dan tidak menarik, terutama bagi anak-anak kota yang sudah terbiasa berkomunikasi melalui telepon. Namun bagi anak-anak desa yang jauh dari sarana komunikasi modern hal ini sangat menarik.

Perlu menjadi catatan bahwa bagi siswa di pedesaan seperti siswa SD Negeri 1 Ambalresmi, pengalaman menelpon merupakan satu pengalaman yang berharga. Apalagi kegiatan menelpon ini dibiayai dengan dana BOS. Mungkin ini merupakan salah satu contoh kecil dari pembelajaran kontekstual.

Oleh S. Handayani - Fasilitator IPS Kebumen

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID