Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Cerita dari Daerah

Pembelajaran Menyenangkan
di MIN Rukoh, Banda Aceh


Madrasah Ibtidayah Negeri Rukoh adalah salah satu sekolah Di Banda Aceh Timur yang baru-baru ini ikut dalam program DBE dan MBE. Madrasah tersebut mengikuti pelatihan pertama pada akhir April 2006. Pada saat tsunami terjadi, sekolah tersebut diterjang gelombang secara langsung. Kelas-kelas terbenam air sampai 2 meter, satu kelas roboh akibat gempa dan tsunami.

Banyak siswa yang tenggelam dalam air dan sebagian besar siswa menjadi anak yatim piatu atau hanya mempunyai satu orangtua. Hampir setiap anak kelas 3 kehilangan paling sedikit satu orangtua. Banyak siswa, termasuk beberapa guru sekarang tinggal di tempat penampungan sementara. Belum lama ini sekolah dikelilingi tenda-tenda, tetapi sekarang ada barak-barak darurat yang dihuni oleh para siswa

Atas : Masih ada celah kosong yang dulunya berupa kelas yang roboh akibat tsunami. Atapnya masih utuh.
Bawah: Anak-anak melakukan kegiatan yang menarik selama pembelajaran dan dinding kelas dipenuhi hasil karya siswa yang dipajangkan. Bahkan bangku-bangku juga tertutup pajangan untuk membuat lebih menarik.


Ibu Ummiyani

Atas : Ibu Ummiyani membantu seorang siswa. Sebagai kepala sekolah beliau menjadi motor penggerak di belakang kemajuan MIN Rukoh yang menakjubkan, sejak mengikuti program DBE-MBE.

Perbaikan darurat sudah dilakukan sekolah, tetapi masih menunjukkan tanda-tanda bekas rusak berat. Walaupun demikian, di dalam kelas, kepala sekolah dan guru-guru telah menunjukkan perubahan menakjubkan. Kira-kira dua bulan yang lalu Ketua Komite Sekolah dan Pengawas Depag berada di SD Maronwetan 1 dan 2 selama satu minggu sebagai bagian dari kunjungan studi yang diselenggarakan oleh DBE 1.

Kepala sekolah, Ibu Ummayani adalah salah seorang yang sangat antusias dan memiliki komitmen tinggi yang pernah kita kenal, sejak kunjungan ke Probolinggo, sudah mengilhami guru-guru di sekolahnya (beberapa di antara mereka gajinya sangat minim -Rp 50.000 sebulan) dengan semangat dan komitmen yang sama. Mereka mengadakan pertemuan dan workshop dua sampai tiga kali seminggu dan sudah mengubah sekolah.

Setiap kelas penuh pajangan hasil karya anak yang menarik. Kegiatan-kegiatan yang sangat bagus dan menarik terjadi di kelas-kelas tersebut. Para guru dibantu oleh mahasiswa-mahasiswa Institute Agama Islam Negeri - IAIN. Bagi mereka pengalaman-pengalaman tersebut merupakan pendidikan yang luar biasa. Kami mendapat laporan bahwa banyak siswa sangat senang di sekolah sehingga mereka memilih tetap tinggal lebih lama di sekolah pada sore hari.

Kemajuan Secara Luas di Aceh

Beberapa sekolah binaan lainnya di Banda Aceh menunjukkan kemajuan yang besar. Di bawah Ibu Yeti, guru kelas 4 di SD 69 Banda Aceh berdiri di depan pajangan hasil karya anak.

Ibu Yeti

Madrasah Menjadi Pelopor

Di Banda Aceh Madrasah Ibtidayah (MI) tidak mau kalah dengan Sekolah Dasar (SD). Departemen Agama aktif membina dan mendorong MI agar maju. Misalnya MIN Lhong Raya sudah menunjukkan penampilan ruang kelas yang indah, serta menciptakan suasana belajar yang baik dan nyaman untuk anak.

Atas: Beberapa orang yang berperan membina MIN Lhong Raya (dari kiri ke kanan): Ibu Helmiaty, guru kelas 5 dan fasilitator MBE, Ibu Hj. Zuraidah, Kepala Sekolah, Bpk H. Fachri Kamal, Ketua Komite Sekolah, dan Drs. Abdul Hamid, Kasi Mapenda, Depag.
Bawah: Ibu Helmiaty di dalam kelasnya, yang meskipun sangat sempit dikelola dengan baik dan indah.


Ibu Helmiaty

Bawah: Waris, anak kelas 3 belajar konsep pecahan dengan menggambar.


Waris
RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID