|
Bagaimana mereka melakukan?
Kegiatan belajar siswa di luar kelas diawali ketika secara individu mereka ditugasi mengamati dan mencatat aktivitas sekelompok kambing selama 30 menit. Setiap gerak-gerik kambing mereka amati dengan cermat dan mereka catat pula setiap aktivitas kambing.
Selesai melakukan pengamatan dan sudah memperoleh data yang diperlukan, secara bergiliran mereka mempresentasikan dan ditanggapi oleh angoota kelompok lain. Kemudian sebuah pertanyaan diajukan oleh guru "Menurut kalian, kambing yang diamati tadi hidup apa mati?", dan semua siswa sepakat bahwa kambing yang diamati itu hidup.
Dari semua data yang dihasilkan oleh setiap anggota kelompok, mereka mengidentifikasi kembali aktivitas kambing yang me-nunjukkan bahwa kambing tersebut hidup dan disusun menjadi laporan kelompok. Hasil kerja kelompok tersebut kemudian mereka presentasikan dan ditanggapi oleh kelompok lain.
Pada akhirnya muncul kesimpulan yang menjadi catatan siswa bahwa ciri-ciri makhluk hidup itu membutuhkan makan, membutuhkan air, mengeluarkan kotoran (mengeluarkan zat sisa/ekresi), beranak (berkembang biak), bertambah besar (tumbuh), bergerak, bernafas dan menanggapi rangsang.
Alasan menggunakan kambing sebagai sumber belajar?
Dekat dengan siswa dan lebih mudah diamati sehingga akan lebih memudahkan siswa ketika mengidentifikasi ciri-ciri makhluk hidup. Sebab jika menggunakan tumbuhan sebagai sumber belajar, siswa akan kesulitan ketika mengidentifikasikan ciri-ciri makhluk hidup misalnya: bernafas, membutuhkan makan dan air, dan mengeluarkan zat sisa, karena hal tersebut masih membutuhkan pembuktian yang lebih jauh.
Yang membanggakan dari pembelajaran ini?
Mereka mampu menemukan sendiri ciri-ciri makhluk hidup, mendiskusikan, menarik kesimpulan, dan juga menghasilkan produk belajar yang beragam (berbentuk deskripsi, puisi, dan gambar).
Oleh Supiono, Fasilitator IPA Kab.Situbondo
BANYUWANGI: Guru Agama dan Oleh Raga Ber-PAKEM
Belum lama ini Guru Agama Islam dan Olah raga se-kecamatan Banyuwangi mengadakan pelatihan PAKEM. Dalam kegiatan ini guru-guru dibantu fasilitator MBE mengembangkan PAKEM pada mata pelajaran Agama Islam dan Olah raga. Untuk mata pelajaran Agama Islam salah satu guru MIN Sobo, Bpk Fathurahman mengembangkan pembelajaran dengan permainan yang disukai oleh siswa.
Beliau mengembangkan permainan ular tangga, monopoli, kwartet dan lain-lain sebagai alat bantu pembelajaran, dan hal ini terbukti efektif meningkatkan minat siswa untuk belajar. Pada kesempatan ini juga disimulasikan penggunaan permainan tersebut dan ini menjadi inspirasi guru yang lain untuk berkreasi. Demikian pula untuk mapel Olah raga guru-guru pada saat praktik mencoba menampilkan PAKEM lebih nyata.
|
Salah satu permainan yang telah dikembangkan: Monopoli menjadi monopoli islami!
|
|
PACITAN: Kreatifitas Guru dalam Pemanfaatan Sumber Belajar
Kepala Sekolah dan Guru Diwawancarai oleh Siswa
Dalam upaya membelajarkan siswa, kreatifitas guru dituntut selalu dinamis. Guru diharapkan mampu memanfaatkan sumber belajar yang kongkrit dan kontekstual. Sebagaimana disampaikan Ibu Titik Suprapti, guru SDN Ploso 2 di Kabupaten Pacitan.
Menurut beliau jika guru bersungguh-sungguh untuk terus belajar terutama memahami kompetensi dan langkah-langkah kegiatannya mengajar dengan benar (PAKEM) tidaklah terlalu sulit seperti yang dibayangkan. Jika dua hal di atas tidak dipahami secara tuntas keberadaan sumber belajarpun tidak terlalu bermanfaat.
|
1. Ibu Titik dengan sabar dan telaten membimbing individu dalam kelompok.
2. Siswa belajar aktif dengan berdiskusi.
3. Siswa mewawancarai Kepala Sekolah.
|
|
Di bawah ini penulis merekam dan mengamati pembelajaran kelas 6 dengan tema: Lingkungan sekolah dengan mewawancarai Kepala Sekolah. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Guru memanggil salah satu siswa untuk ditanya (melakukan wawancara sederhana) siswa yang lain mendengarkan, hal yang dibicarakan bebas. Tujuannya memberikan contoh dan menggiring siswa menuju kegiatan inti.
Tanya jawab siswa dan guru dalam kelompok tentang obyek yang akan diamati atau diwawancarai.
Menentukan nara sumber yang akan diwawancarai melalui lotere sesuai dengan 5 kelompok yang sudah dibentuk.
Menyusun daftar pertanyaan wawancara.
Masing-masing kelompok mencoba melakukan wawancara dengan temannya di setiap kelompok untuk berlatih atau simulasi
Kelompok melakukan wawancara dengan nara sumber (1 KS, 4 guru) sesuai dengan pembagian pertanyaan dari anggota kelompok.
Diskusi menyatukan hasil wawancara untuk membuat laporan. Kelompok menukar hasil dengan kelompok lain dengan menuliskan kekurangan dan kelemahan kalimat dan EYD yang dibuat.
Siswa dan guru menyimpulkan cara menulis hasil wawancara.
Produk dari pembelajaran di atas adalah laporan hasil wawancara, dan sebagai tindak lanjut untuk dikerjakan di rumah siswa menulis daftar wawancara yang lain.
|
|