Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

PROBOLINGGO: Kerja Kelompok yang Efektif

Mengembangkan Kompetensi Siswa Tentang Operasi Bilangan Bulat

Pembelajaran dengan menggunakan kerja kelompok sudah bukan merupakan hal aneh di sekolah binaan MBE. Tetapi perlu di cermati lebih mendalam lagi pada pembelajaran yang selama ini dilakukan. Kami menengarai bahwa fokus dari pembelajaran masih berkisar pada aktivitas bukan pada pengembangan kompetensi. Pengembangan kompetensi bertumpu pada penugasan yang diberikan oleh guru dan kinerja siswa. Bukti terkembangnya kompetensi adalah sebuah produk yang mencerminkan kompetensi tersebut.

Siswa kelas 4 SD Bremi I di Kec Krucil telah memberikan sebuah contoh yang baik bagaimana kerja kelompok dapat mengembangkan kompetensi siswa tentang operasi bilangan bulat.

  1. Pada awalnya siswa secara individu diminta untuk mengerjakan soal yang sederhana seperti 9 + (-5) . Siswa diminta mengerjakan soal tersebut dengan menggambarkannya pada garis bilangan.

  2. Siswa diminta untuk mendiskusikan dengan anggota kelompok jika terdapat perbedaan ataupun persamaan dari jawaban mereka.

  3. Selanjutnya secara individu siswa diminta menuliskan dengan kalimat sendiri mengapa terjadi perbedaan atau persamaan dari jawaban mereka.

Guru memberikan pendampingan pada siswa yang mengalami kesulitan

Bawah: Inilah karya Galih dan Yuliatin. Mereka menuliskan bahwa untuk 9 + (-5) dapat digambarkan dengan dua cara yang berbeda pada garis bilangan, dimana kedua cara tersebut memberikan titik berhenti yang sama. Bahkan Galih telah menemukan istilah komutatif untuk penjumlahan bilangan bulat ini. Luar Biasa!!

Karya Galih dan Yuliatin

MAGELANG: Inovasi dengan Permainan

"Wisata Budaya Nusantara"

Dalam pembelajaran melalui PAKEM, anak akan sangat senang bila diajak belajar sambil bermain. Hal itulah yang kemudian dikembangkan Bpk Ary Budi Sanyoto, Guru SDN Tidar 1, Magelang. Dalam pokok bahasan mapel IPS mengenai 'Identifikasi keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia' dikembangkan pembelajaran dengan cara mengajak anak belajar dan bermain melalui Perangkat Pembelajaran Wisata Budaya Nusantara.

Perangkat pembelajaran sekaligus permainan yang terinspirasi oleh permainan RAMSAR ini berisi nomor-nomor yang menunjukkan Propinsi yang ada di Indonesia. Dimana dalam nomor tersebut berisikan soal-soal yang harus dijawab siswa mengenai kekayaan dan keragaman budaya yang ada, seperti keragaman adat dan cerita /legenda rakyat, bentuk rumah dan pakaian adat, nama kesenian dan tarian, lagu dan alat musik tradisional, makanan khas sampai dengan nama suku beserta senjata khas di daerah.

Soal-soal dalam perangkat ini dibuat oleh siswa sendiri. Siswa mencari ide-ide soal melalui berbagai informasi yang ada, seperti dari buku Perpustakaan, Mata Pelajaran dan buku-buku bacaan yang lain, seperti dari RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap Indonesia - Dunia). Perangkat pembelajaran ini dimainkan oleh 4 orang siswa dan 1 orang siswa sebagai pemimpin sekaligus menjadi Tutor Sebaya bagi siswa yang lainnya.

Dalam permainan ini, anak melempar dadu serta menempatkan bidaknya sesuai jumlah mata dadu yang muncul, selanjutnya siswa harus menjawab soal-soal yang dibacakan oleh pemimpin permainan sesuai nomor yang dituju. Bila mana soal tidak terjawab, maka soal tadi diperebutkan oleh siswa yang lain.

Kiri: Gresela, Siswi Kelas V SD N Tidar 1 sedang menempatkan bidak permainan
Kanan: Kreasi Bpk. Ary makin melengkapi beragam piala prestasi SDN Tidar 1 Magelang

Terdapat pula kartu-kartu keberuntungan dan hukuman. Penggunaan kartu-kartu ini untuk menjaga agar permainan tetap dinamis dan menyenangkan serta penuh kejutan. Selanjutnya setiap siswa yang benar menjawab soal diberikan Nilai 10 dan berhak meneruskan kembali perjalanannya. Siswa yang mempunyai nilai paling tinggi dinyatakan sebagai pemenang dan berhak berganti menjadi pemimpin permainan.

Dengan model permainan ini, siswa ternyata lebih mudah memahami serta menemukan sendiri unsur budaya yang ada di 31 Propinsi di Indonesia. Perangkat pembelajaran ini sekaligus telah mengantarkan Bpk Ari Budi Sanyoto meraih Juara I dalam LKG (Lomba Kreatifitas Guru) Pembelajaran PKN/IPS pada bulan Agustus tahun 2006 se-Kota Magelang.

SUKOHARJO: Miniatur Gunung Berapi Sebagai Sumber Belajar

Gunung Merapi di Kabupaten Magelang yang meletus beberapa waktu yang lalu, tidak selalu membawa arti buruk, bahkan di sisi lain ia semakin memperkaya sumber belajar. Tidak hanya sampai di situ, belajar dengan menggunakan isu meletusnya Gunung Merapi, juga menegaskan kepada siswa bahwa peristiwa tersebut adalah peristiwa alam biasa, yang bisa terjadi setiap waktu, dan tidak ada kaitannya dengan hal-hal mistik, sebagaimana yang banyak

Siswa Kelas 5

Para siswa Kelas 5 SDN Pucangan 4 Kartasura, sedang mencatat hasil pengamatan terahadap peristiwa meletusnya Gunung Merapi.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID