|
PURWOREJO: Refleksi Akhir Program MBE
Kurang lebih 18 bulan Program Managing Basic Education berjalan di Kabupaten Purworejo. Belum genap 2 tahun memang, waktu yang sangat singkat untuk terjadinya "perubahan-perubahan" pada bidang pendidikan, baik itu di tingkat sekolah maupun di tingkat kabupaten.
Namun pada kenyataannya, perubahan-perubahan kearah praktik-praktik yang lebih baik di bidang pendidikan bisa terwujud terutama pada sekolah-sekolah binaan MBE. Di samping itu program MBE sendiri telah berkembang pada sekolah-sekolah lain, baik secara swadaya maupun melalui pembiayaan APBD tahun 2006. Kemajuan-kemajuan yang terjadi terutama bagi sekolah binaan MBE, antara lain:
|
1. Kepala SMP PGRI Butuh (Bpk Hamdi Asrori), meskipun sekolah swasta dan sederhana, namun Program MBE berjalan dengan baik. Semua komponen sekolah mendukungnya.
2. RAPBS Terpadu SMPN 14 Purworejo dipajangkan dengan papan besar, siapa pun bisa mengaksesnya
3. PSM SDN Wonorejo Kulon, bukan hanya pada fisik dan dana, tapi juga membantu dalam pembelajaran. Selain menjadi Narasumber pembelajaran, Paguyuban Kelas juga aktif. Tampak Ibu Suhartati (Kepala Sekolah) sedang mengajar kelas 1 menggantikan Ibu Sumarsih (fasilitator) yang sedang pendampingan di sekolah lain. Dibantu oleh Paguyuban Kelas.
4. PSM di SDN Lubangkidul Kec. Butuh, masyarakat bersama-sama memperbaiki gedung sekolah yang rusak. SD Lubangkidul juga mendapatkan hibah tanah dari masyarakat untuk menambah ruang baru dan sumbangan dua komputer dari masyarakat.
|
Dalam bidang MBS-PSM: 1. RIPS dan RAPBS dibuat sekolah bersama-sama masyarakat dan dipaparkan kepada publik (dipajangkan) 2. Adanya rasa memiliki (sense of belonging) dan saling kerjasama dari warga sekolah dan masyarakat, sehingga tanggungjawab pada kinerja sekolah lebih meningkat, 3. Motivasi kerja dari warga sekolah dalam upaya peningkatan mutu meningkat. 4. Proses-proses yang demokratis dari sekolah telah menambah kepercayaan masyarakat pada sekolah. 5. Di samping peningkatan peran komite sekolah yang sudah ada, peran serta masyarakat dalam hal meningkatkan kondisi lingkungan sekolah dan mendukung pembelajaran anak dilakukan melalui pembentukan paguyuban orang tua siswa. Orang tua banyak terlibat dalam proses belajar mengajar maupun kegiatan ekstra kurikuler.
Dalam bidang PAKEM: 1. Guru lebih kreatif dan banyak persiapan dalam mengajar. 2. Pengelolaan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran lebih fleksibel. 3. Pemanfaatan perpustakaan/sudut baca meningkat. 4. Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
|
5. Alat bantu belajar/alat peraga lebih banyak digunakan. 6. Anak lebih aktif dan kreatif, berani mengungkapkan gagasan sendiri. 7. Belajar anak lebih efektif dan menyenangkan. 8. Hasil kerja anak yang dipajangkan berdampak bagi peningkatan belajar siswa maupun perhatian orang tua dalam pendidikan.
|
1. Siswa SMPN 13 Purworejo diskusi di kantor kelurahan Katerban tentang data kependudukan
2. Siswa SMPN 5 Purworejo, sedang asyik belajar mapel biologi.
3. Diskusi membuat Rencana Pembelajaran Bpk Edy Setyanto (SMPN 14 Purworejo) dengan Fasilitator Bhs. Inggris (Ibu Suharti, S.Pd).
4. Ibu Ani dari MI Imam Puro Lubangindangan: berkeliling, membantu pemecahan masalah siswanya
|
Bidang Manajemen Pendidikan di tingkat kabupaten telah berjalan dengan baik seperti: 1. Perencanaan pendidikan dilakukan berbasis data dan secara bertahap menggunakan prinsip-prinsip penyusunan rencana sebagaimana disampaikan oleh MBE dalam berbagai lokakarya pendataan dan perencanaan pendidikan. 2. Konsep formula funding yang terfokus pada upaya pengalokasian dana bantuan untuk sekolah secara "adil proporsional" telah diterapkan dalam bentuk Bantuan Sekolah untuk semua sekolah di Kab Purworejo. Untuk tahun 2006 dialokasikan dana sebesar Rp 9,75 milyar untuk seluruh sekolah (termasuk sekolah swasta), suatu kenaikan yang signifikan dibandingkan dengan tahun 2005 yang alokasinya Rp 4,5 milyar.
|
Dari Tim MBE Kabupaten (Bpk Fatnani dari Komisi D DPRD, Bpk Kasito dari Dewan Pendidikan, Bpk Agus Suyoko dari Bapeda, Ibu Kanti dari Dinas Pendidikan dan Bpk Achadi dari Departemen Agama) sedang membuat RTL bidang Manajemen Kabupaten untuk kelanjutan Program MBE setelah Maret 2007, diantaranya untuk Replikasi Program MBE sampai tahun 2009.
|
3. Penghitungan biaya yang diperlukan oleh sekolah untuk melayani satu orang murid (unit cost) per bulan telah dilakukan. Penghitungan ini dilakukan oleh perwakilan seluruh stakeholder pendidikan, dengan tujuan untuk melihat apakah dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang dikucurkan pemerintah (Pusat) untuk sekolah sudah mencukupi kebutuhan minimal sekolah ataukah belum.
Hasilnya: untuk SD/MI sekitar Rp 26.800/siswa/bulan, untuk SMP/MTs sekitar Rp 40.200 /siswa/bulan. Hitungan ini baru pada biaya operasional minimal.
|