|
SEMARANG: MBE Penuh Arti di Sekolah Kami
Tak terasa sudah hampir 20 bulan MBE hadir di sekolah kami, SD Mlilir 2, Ambarawa dari waktu ke waktu kami lalui dengan kerja keras untuk menemukan perubahan. Berawal dari sebuah kepercayaan sebagai sekolah binaan, kami tidak pernah menyerah, dengan belajar dan terus belajar.
|
Kami berusaha menerapkan pola MBS/PSM dan PAKEM yang menjadi pola utama MBE. Dengan semangat bersatu kami maju diantaranya dengan beberapa cara, antara lain :
membangkitkan semangat komite sekolah,
membangun masyarakat yang tertidur lelap,
mengadakan studi untuk guru agar wawasan mereka dapat lebih terbuka.
Dengan 3 bekal inilah kami bersama-sama menyusun RPS dan RAPBS. Dari dasar inilah terbentuk program kerja jangka pendek dan jangka panjang.
|
Semangat masyarakat yang mulai muncul ditangkap baik oleh sekolah dengan mengirimkan perwakilan komite dalam pelatihan MBS/PSM - I yang diselenggarakan MBE. Sepulang pelatihan mereka lebih terbuka akan arti pentingnya komite dan peran serta masyarakat. Menindaklanjuti hal tersebut sekolah mengadakan rapat pleno orang tua dengan menghadirkan Kepala UPTD serta dari MBE, maka pada hari itu juga terbentuk paguyuban sekolah.
Dari sesuatu hal yang masih baru dan belum tahu mau apa sampai mulai tersusun jadwal kegiatan rutin paguyuban mulai dari piket orang tua setiap hari dalam membantu proses pembelajaran di kelas. Ide yang berasal dari kepala sekolah disambut baik oleh masyarakat, yaitu untuk beramal setiap wali murid sebesar Rp. 500,-/minggu dan setiap murid Rp. 100,-/hari.
Dari hanya uang tersebut sekarang telah berdiri Pondok Belajar Bersama dengan ukuran yang relatif besar (7 x 20 m), laboratorium IPA mini, pembuatan taman dan pavingisasi halaman belakang.
|
Kepala Sekolah berfoto bersama Tim Evaluasi MBE Mr. David bersama Konsultan MBE Bpk Ferdy dan Kepala Desa Mlilir serta Komite di depan laboratorium IPA Mini.
|
Dari semua unsur baik kepala sekolah, guru, siswa, komite dan paguyuban kelas selalu ingin menambah penge-tahuan dan wawasan. Apabila kami bertanya tentang MBE, mereka akan menjawab:
Guru: "Bangga, sekarang lebih percaya diri. Bisa memberikan sesuatu pada siswa dan sesama guru yang saling berkunjung. Sekarang kalau ada yang berkunjung kita lebih siap dan tidak bingung lagi".
Masyarakat: "Pasti bangga bu, walaupun sekolahnya di desa dan ditengah sawah tapi yang datang dari pejabat dan juga dapat kunjungan dari Pak Stuart dan Ibu Lynne. Selain itu, kami juga dapat mengerti bagaimana susahnya mengajar, sehingga kami sekarang lebih perhatian pada siswa sewaktu di rumah".
Siswa: "Lebih senang belajar dengan model sekarang dan kami lebih aktif, tidak bosan. Kami bangga hasil karya kami dipajangkan di kelas bahkan diminta oleh sekolah lain".
Selain hal tersebut, juga terselip rasa haru dan terimakasih kami selaku Kepala Sekolah, bahwasannya kami yang dahulu masih harus berkecil hati apabila ada kunjungan kesekolah, sekarang kami dengan senang hati dapat menerima mereka.
Kami juga mendapat kehormatan untuk bergabung dengan senior kami fasilitator dari Pati untuk memberikan pendampingan di Nias sebanyak 2 kali.
|
Selain itu kami juga mendapat kepercayaan untuk menerima Tim Evaluasi MBE yang berkunjung tanggal 31 Januari 2007.
Oleh : Elmi Yahyi, Kepala Sekolah SDN Mlilir 2 Ambarawa
Sekolah Pinggir Hutan Prestasi Metropolitan
Dalam perkembangan MBE di Kabupaten Semarang, beberapa prestasi telah dapat diraih oleh sekolah binaan. Sekolah binaan MBE juga telah banyak didengar oleh kecamatan lain ataupun kabupaten lain.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka salah satu harian terbesar di Jawa Tengah "Suara Merdeka" pada tanggal 13 Desember 2006, meliput keberadaan Sekolah Dasar di pinggir hutan karet yang merupakan binaan MBE, Sekolah tersebut adalah SDN Wonorejo 2, Kecamatan Pringapus.
Dari hasil liputan tersebut, maka banyak daerah yang berusaha mencari informasi bagaimana pola pembelajaran yang diterapkan di sekolah tersebut. Pada tanggal 15 Februari 2007, SDN Wonorejo 2 mendapatkan kunjungan studi banding dari Kabupaten Grobogan.
Dalam kesempatan tersebut mereka sangat tertarik dengan pola pendekatan yang didampingi MBE bahkan sempat juga terlontar bagaimana cara agar Kabupaten Grobogan dapat mendapatkan bimbingan dari MBE. Selamat kepada SDN Wonorejo 2. Sukses
PACITAN: Sangkar Burung MBS SD Tulakan III
SDN 3 Tulakan, Pacitan merupakan salah satu sekolah binaan MBE. Walaupun terletak jauh dari perkotaan, pembelajarannya tidak ketinggalan dengan sekolah-sekolah maju yang berlokasi di perkotaan. Bahkan bisa dibilang lebih. Selain binaan MBE, sekolah ini juga mengembangkan bidang ketrampilan (life skills) karena pernah menerima bantuan hibah Broad Based Education (BBE) tahun 2002. Kepala Sekolah, guru dan Komite punya komitmen untuk mengembangkan keunggulan dalam bidang ketrampilan "Sangkar Burung".
Komite Sekolah dan masyarakat pengrajin menyambut dengan gembira dan sekaligus digunakan sebagai mitra kerja dan usaha. Di setiap bulannya hasil karya anak ini tidak kurang dari 25 buah sangkar burung yang bervariasi modelnya siap dipasarkan.
Lantas hasil penjualan digunakan untuk apa? Hasil penjualan digunakan untuk membeli kertas warna - warni yang dipakai untuk pajangan anak guna menunjang pembelajaran PAKEM.
Menurut pendapat komite tentang PAKEM sangat menunjang dalam kegiatan life skill ini.
Silakan Bapak/Ibu mampir disekolah kami jika butuh sangkar burung.........!!!!
|