Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

BANYUMAS: Paguyuban Kelas Terus Berbenah

Paguyuban Kelas 1 SDN Pandansari, Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas kembali membentuk kepengurusan baru pada bulan Oktober 2006. Tidak hanya menyusun pengurus dan jadwal piket serta kegiatan. Agar lebih terprogram dan terkontrol, paguyuban ini dilengkapi dengan administrasi yang terdiri dari buku susunan pengurus, buku daftar hadir dan buku notulen. Terbukti aktivitas paguyuban dalam mendukung pengelolaan dan pembelajaran di kelas 1 ini terus meningkat.

Buku-buku administrasi

Atas: buku-buku administrasi paguyuban kelas 1 SDN Pandansari Kecamatan Ajibarang.
Bawah: Jadwal piket paguyuban kelas yang dipajang


Jadwal piket paguyuban

JAKARTA PUSAT Menggeliat dengan PAKEM

Dalam rangka Lokakarya Penguatan Fasilitator MBE tahap 1,2 dan 3 pada 4-7 Maret 2007, kelompok Fasilitator SD/MI yang didampingi oleh Bapak Suyoto, Kasie Dinas Pendidikan Dasar ikut aktif dalam kegiatan yang difasilitasi oleh seluruh konsultan MBE.


Atas: Dalam percakapan dengan tim Jakarta Pusat, tertangkap keinginan mereka untuk dapat berkiprah seperti fasilitator daerah lainnya yang telah berbuat lebih banyak di sekolahnya, sekolah imbas, kecamatan imbas dan di daerah lainnya.
Bawah: Mereka telah berusaha untuk berbuat sebaik mungkin di sekolah, dan hasilnya telah ikut dipamerkan dalam rangka Lokakarya Reviu Nasional di Salatiga. Menurut Kasi Dinas, para fasilitator akan didayagunakan dalam mengimbaskan ke kelas-kelas di sekolahnya dahulu. Setelah merasa matang dan berpengalaman, maka akan dipakai untuk ke sekolah lainnya.

Maria Ulfah: Primus Inter Pares

Cerita Salah Satu Fasilitator MBE

Apakah yang bisa membuat orang menjadi primus inter pares, utama di tengah yang sama? Kerja keras, komitmen tinggi, dan tanpa pamrih atau ikhlas. Itulah tiga kata kunci yang membawa Maria Ulfah, salah satu fasilitator nasional kelas awal MBE dilirik dan dipercaya banyak pihak untuk melatih banyak guru di banyak tempat di Indonesia bahkan hingga Sabah Malaysia.

MBE, DBE, CLCC, UNESCO-UNICEF, World Vision Indonesia, ERA-AUSAID dan Bpk Fasli Jalal, Dirjen Mutendik adalah beberapa pihak yang telah meminta bantuan Maria Ulfah untuk melatih guru-guru belajar tentang PAKEM.

Maria Ulfah memulai segalanya dengan kerja keras sebagai seorang guru sukwan kelas awal yang mengajar dengan honor Rp. 7.500,- per bulan pada tahun 1989 di sebuah sekolah yang tidak masuk hitungan masyarakat karena lulusannya selalu menempati ranking paling belakang, yaitu SDN Kebon Dalem kecamatan Mojosari Kab. Mojokerto.

Tanpa menghiraukan honor yang minim, Maria berprinsip bekerja keras untuk memberikan yang terbaik demi anak didik, selalu mencoba, tidak takut salah dan siap memperbaiki kesalahan.

Akhirnya ketemu presiden

Akhirnya ketemu presiden! Maria Ulfah (pakai baju biru) bersama dua presiden dan isterinya!

Kerja keras itu tertangkap oleh Stuart Weston pada tahun 2000 ketika berkunjung ke sekolah Maria Ulfah yang dijadikan tempat uji coba PAKEM oleh CLCC. Melihat cara mengajar Maria, Stuart Weston mengundang Maria Ulfah untuk mengikuti lokakarya tentang PAKEM di Bogor sebagai narasumber.

Inilah saat pertamakali dalam hidupnya ibu guru sukwan ini melangkahkan kaki keluar dari desanya hingga kepala sekolahnya pun merasa tidak tega untuk melepaskan dan mengantarnya sampai ke terminal bus Bungurasih Surabaya. Di Bogor Maria Ulfah juga mendapat pengarahan bagaimana menyusun pembelajaran yang lebih baik lagi.

Setelah itu, episode baru kehidupan Maria Ulfah bergulir. Dia bahkan harus bekerja lebih keras lagi karena berulangkali diminta menjadi nara sumber, pelatih dan dilatih di banyak tempat di Indonesia.

Implikasi dari hal itu adalah setiap mendapat pengetahuan baru, Maria Ulfah langsung mempraktikkannya di kelas sehingga apa yang dia ajarkan atau katakan dalam pelatihan tidak berbeda jauh dengan apa yang dia lakukan di kelas.

Guru-guru lain di sekolahnya pun melihat dan belajar dari apa yang dipraktikkannya sehingga SDN Kebon Dalam sekarang menjadi salah satu tujuan studi banding sekolah-sekolah lain dari dalam dan luar Pulau Jawa dan murid-muridnya memiliki prestasi akademik yang membanggakan.

Hingga sekarang, meskipun telah menjadi pelatih level nasional, Maria Ulfah tetaplah seorang guru yang sederhana yang tetap berstatus sukwan. Baginya yang terpenting adalah bekerja keras memberikan yang terbaik untuk anak didik sedangkan status pegawai negeri, honor, dan sebagainya adalah urusan Yang Maha Kuasa.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID