Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

PURBALINGGA : PSM di Sekolah Terpencil

Sekolah-sekolah terpencil seringkali banyak menghadapi kendala untuk bisa maju. Selain kurang terpantau oleh Dinas Pendidikan juga karena lokasinya jauh berada di pelosok biasanya juga minat masyarakat sekitar sekolah yang sadar dan perduli dengan pendidikan juga bisa dikatakan masih rendah.

Hal tersebut tidak berlaku di SDN 1 Jambudesa Kecamatan Karanganyar, yang terletak di daerah pegunungan jauh dari keramaian kota. Setelah menjadi SD Binaan MBE, sekolah ini di bawah kepemimpinan KS Bapak Rusmadi secara bertahap membenahi manajemen sekolahnya. Pada awalnya Bpk Rusmadi merasa kesulitan untuk mengajak para Wali Murid bersama-sama memajukan sekolah.

Bpk Rusmadi

Atas: Bpk Rusmadi (KS) didampingi Bpk Muntohar (Bendahara Komite) berpose di depan Mushola SDN 1 Jambudesa yang sedang dibangun.
Bawah: Kepala Desa Jambudesa (berdiri baju hijau) didampingi Bpk Rusmadi dan Paguyuban Kelas sedang meninjau ruang kelas TK yang mulai berjalan pada bulan September 2006.


Kepala Desa Jambudesa

Komite Sekolah bersama-sama dengan Kepala Sekolah dan Dewan Guru berinisiatif untuk mengadakan rapat pleno Wali Murid, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama. Dalam rapat tersebut muncul ide dan gagasan untuk membuat SDN 1 Jambudesa bisa bersaing dengan sekolah-sekolah favorit. Hasil dari rapat tersebut kemudian dibuat skala prioritas secara bersama-sama sesuai dengan kemampuan yang ada.

Dua hal yang sudah direalisasikan oleh Komite Sekolah untuk membenahi fasilitas sekolah sesuai dengan permintaan masyarakat adalah :

  1. Membangun mushola ibadah di sekolah dengan sumber dana murni dari masyarakat dengan total biaya sekitar Rp 17.500.000.

  2. Mendirikan sekolah setingkat TK untuk memfasilitasi anak-anak sekitar sekolah yang belum cukup umur masuk SD (sebelumnya anak-anak sekitar sekolah harus berjalan ± 2 kilometer untuk mendapatkan pendidikan setara dengan TK). Untuk sementara gedung TK Jambudesa ini menggunakan aula Balai Desa Jambudesa yang letaknya satu komplek dengan SDN 1 Jambudesa. Sedangkan gaji Guru TK didanai oleh sumbangan sukarela dari masyarakat sekitar. Alumni dari TK Jambudesa ini bisa mendaftar langsung di SDN 1 Jambudesa.

Sekarang fasilitas SDN 1 Jambudesa tidak kalah dengan SD-SD perkotaaan.

NGANJUK: Belajar tentang Sekolah Multigrade ke Pacitan

Kabupaten Nganjuk memiliki cukup banyak sekolah terpencil dengan sedikit siswa. Kondisi geografis Kabupaten Nganjuk yang cukup unik, ada daerah pegunungan di selatan dan ada daerah hutan jati yang kering di utara, yang rupanya cukup menyulitkan siswa yang ingin sekolah keluar.

Mau tidak mau mereka terpaksa sekolah di daerah tersebut, walaupun dengan kondisi yang cukup memprihatinkan dan sekolah-sekolah di daerah tersebut rasanya tidak akan mungkin ditutup, mengingat selalu ada siswa meskipun jumlahnya sangat sedikit dan kondisi geografis tadi.

Untuk itu Dinas DIK-PORA berinisiatif untuk mengembangkan Sekolah Mutigrade pada sekolah-sekolah terpencil tadi. Kegiatan awal yang dilaksanakan di Kabupaten Nganjuk adalah mengadakan Sosialisasi tentang Sekolah Multigrade dengan mendatangkan dua Narasumber dari Kab.

Pacitan dan dari Kota Batu. Pak Jarno dari Pacitan dan Ibu Ina dari Batu sangat gamblang menjelaskan tentang apa itu sekolah multigrade sehingga peserta sangat antusias mengikuti kegiatan satu hari tersebut.

Pak Budi

Atas: Pak Budi bersama dengan Kepala Dinas Pendidikan Kab. Pacitan
Bawah: Guru dari Kab. Nganjuk antusias bertanya pada Guru SD Multigrade Kab. Pacitan


Guru dari Kab. Nganjuk

Untuk lebih memantapkan pemahaman tentang Sekolah Multigrade, Dinas DIKPORA mengajak para Kepala Sekolah, Guru, dan Pengawas Sekolah terpencil untuk melihat sekolah multigrade di Kabupaten Pacitan.

Rangkaian kegiatan selanjutnya adalah beberapa orang guru, kepala sekolah dan pengawas dari Kab. Nganjuk juga diikutsertakan dalam pelatihan sekolah multigrade yang diselenggarakan MBE.

Sangat besar harapan dari para kepala sekolah dan guru sekolah terpencil di Nganjuk agar semua dapat dilatih dan diperkenalkan dengan metode multigrade. Mudah-mudahan bisa terlaksana.

PASURUAN: Pengadilan di MTs Nurul Islam

Salah satu kegiatan yang menarik di MTs Nurul Islam ketika pendampingan fasilitator daerah adalah pembelajaran IPS di kelas 3a tentang proses pengadilan. Pembelajaran tersebut dilatarbelakangi oleh hilangnya Handphone (HP) milik siswa kelas 3a.

Guru IPS yang biasa dipanggil Gus Hidayaturrohman mencoba mengkaitkan teori dengan kejadian hilangnya HP milik siswa kelas 3a. Kegiatan berlangsung cukup menarik, ada siswa yang bertindak sebagai Hakim ketua, Hakim anggota 1 dan 2, jaksa penuntut umum, pembela, panitera, saksi dan siswa yang diduga telah mengambil HP sebagai terdakwa.

Menurut Ibu Rustina, kegiatan belajar semacam ini akan memudahkan siswa mengetahui bagaimana proses persidangan di Pengadilan. Guru tidak perlu menjelaskan apa tugas-tugas dari unsur-unsur yang terdapat dalam persidangan.

Siswa sebagai hakim ketua

Siswa sebagai hakim ketua dan anggota sedang memberi penegasan jalannya persidangan kepada terdakwa.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID