Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

MADIUN: Memanfaatkan Angket dan Kotak Saran Sebagai Sarana Komunikasi Sekolah

SA Winarno, Fasilitator MBS/PSM Komunikasi sekolah dengan siswa dan orang tua wali perlu dijaga. Dengan adanya dana BOS, saat ini sekolah mengalami kesulitan melakukan komunikasi dengan wali murid dengan forum pleno komite seperti yang biasa dilakukan karena tidak ada pos dari dana BOS yang dapat digunakan untuk membiayai keperluan ini.

Padahal sekolah di Kota Madiun dilarang menarik dana dari masyarakat. Pada akhirnya sekolah harus berfikir mencari jalan keluar agar tetap bisa menjalin komunikasi dengan wali murid. Di SMPN 6 Madiun sarana yang dipakai adalah angket dan kotak saran.

1. Angket sebagai dasar melakukan perubahan RAPBS

Ide untuk menyebarkan angket ini adalah dari pengurus komite setelah sekolah menyodorkan draf RAPBS berhubung sekolah tidak bisa lagi menyelenggarakan suatu rapat pleno komite. Beberapa hal yang disertakan dalam angket adalah :

  • Laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah tahun 2005/2006

  • Program kerja tahun 2006/2007.

Hal-hal pokok yang tertuang dalam angket

  • Ucapan terima kasih dan permohonan maaf

  • Mengisi lembar persetujuan sumbangan sukarela untuk iuran komite dengan kisaran Rp 0,- s.d. Rp. 25.000,-

  • Saran dan masukan kepada sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Setelah angket ditabulasi dilakukan pembahasan bersama antara sekolah dengan pengurus komite untuk melakukan penyesuaian dan perubahan RAPBS. Selanjutnya RAPBS disyahkan. RAPBS yang telah disepakati kemudian dipajangkan di papan pengumuman khusus yang memang disediakan untuk info Komite Sekolah.

Sampai saat ini SMPN 6 Madiun telah melakukan revisi RAPBS sebanyak 2 kali dengan cara yang sama berhubung pada bulan Januari 2007 ada peningkatan penerimaan dana dari BOS.

Rapat Pengurus Komite

Rapat Pengurus Komite dengan sekolah selalu intensif

2. Kotak saran sebagai media meningkatkan kinerja guru

Kotak saran di SMPN 6 Madiun dipasang di pintu masuk utama. Saran ataupun keluhan yang masuk melalui kotak saran selanjutnya digunakan Kepala Sekolah sebagai bahan umpan balik kepada guru di forum MGMPS (Musyawarah Guru Mata Pelajaran tingkat Sekolah). Dengan adanya kotak saran segala kegiatan di sekolah dapat dikontrol, keluhan-keluhan dari siswa dapat ditanggapi dengan cepat.

Beberapa kali Kepala Sekolah dapat melakukan pembinaan guru secara tepat guna, justru setelah mendapat masukan dari kotak saran. Biasanya setelah informasi dari kotak saran dibaca Kepala Sekolah, bersama dengan staf (tergantung permasalahan) dilakukan cek dan ricek dan selanjutnya ditentukan penyelesaian. Dengan cara seperti ini permasalah-an selalu dapat dilihat dari dua sisi dan penyelesaian bisa lebih adil.

(Oleh SA Winarno, Fasilitator MBS/PSM Kota Madiun dan Kepala SMPN 6 Madiun)

PURBALINGGA: Kunjungan DPRD ke Sekolah MBE

Sebagai tindak lanjut hasil Rapat Reviu Daerah MBE Purbalingga 16 November 2006 anggota DPRD Purbalingga mengadakan kunjungan kerja ke semua sekolah binaan MBE di Kabupaten Purbalingga pada tanggal 7 dan 9 Januari 2007.

Para anggota DPRD yang dipimpin oleh Bapak Mustangin Ketua Komisi C DPRD didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga melihat secara langsung kemajuan yang telah dicapai sekolah-sekolah binaan MBE ini dari mulai manajemen pendidikan, pembelajaran sampai dengan partisipasi masyarakat.

Ketua Komisi C

Ketua Komisi C Drs Mustangin kagum melihat hasil karya siswa SDN2 Purbalingga Lor

Di sekolah-sekolah binaan MBE ini anggota DPRD yang berkunjung juga melakukan tanya jawab berbagai hal berkaitan pembinaan dari MBE dengan murid, guru serta perwakilan paguyuban kelas. Secara umum para anggota DPRD ini cukup puas dengan hasil kemajuan yang telah dicapai oleh sekolah-sekolah binaan MBE. Mereka berjanji akan menindaklanjuti hasil Rapat Reviu Daerah Purbalingga tersebut.

NGANJUK: Fasilitator Daerah Benar-Benar Milik Masyarakat dan Daerah

Peran Fasilitator Daerah yang semula hanya dimanfaatkan untuk kepentingan di sekolah binaan MBE kini semakin luas. Hal ini terbukti dari keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan kependidikan di Kabupaten Nganjuk. Keterlibatan Fasilitator Daerah juga tidak terlepas dari peran Dinas DIKPORA Kabupaten Nganjuk yang sadar betul bahwa para Fasilitator Daerah merupakan asset berharga yang dimiliki oleh daerah.

Kegiatan Peningkatan Profesionalisme Guru yang diselenggarakan oleh Kasie SMP Dinas DIKPORA Kab. Nganjuk beberapa waktu yang lalu adalah salah satu contoh nyata dari pemberdayaan ini.

Pak Hari Sudradjat

Pak Hari Sudradjat dalam Kegiatan Sosialisasi PAKEM

Para Fasilitator Daerah dilibatkan bersama dengan Instruktur MGMP untuk memfasilitasi kegiatan pelatihan tersebut. Kegiatan lain yang juga diselenggarakan oleh Daerah adalah Pelatihan MBS/PSM dan PAKEM untuk 10 kecamatan dengan dana APBD Dinas DIKPORA Kab. Nganjuk dan Pelatihan PAKEM untuk guru yang diselenggarakan oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kab. Nganjuk.

Beberapa Fasilitator bahkan juga ikut melatih dalam kegiatan pengenalan PAKEM di beberapa kecamatan di luar binaan dan menjadi instruktur dalam pelatihan KTSP yang diselenggarakan oleh Cabang Dinas. Contoh kecil lainnya adalah beberapa dari fasilitator ada yang ditunjuk menjadi anggota dewan juri dalam berbagai lomba dalam rangka 'Hari Anak Nasional'.

Mudah-mudahan dukungan dari semua pihak dan khususnya dari Dinas DIKPORA Kab. Nganjuk akan terus mengalir dan tidak pernah padam, meskipun Program MBE di Kabupaten Nganjuk akan segera berakhir.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID