Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Pacitan menerapkan PAKEM

Pada tanggal 21 dan 22 April 2004 tim khusus USAID sebagai perancang proyek pendidikan yang baru mengunjungi beberapa daerah MBE, yaitu Pacitan, Probolinggo, dan Kebumen. Mereka didampingi konsultan MBE. Semua senang melihat beberapa kelas yang sudah mulai menerapkan PAKEM dengan baik, meskipun belum lama dilatih. Terlampir dibawah ini laporan tentang beberapa sekolah di Pacitan.

Siswa kelas 4A, SD Baleharjo II (atas kanan) melakukan percobaan secara mandiri dengan menggunakan bahan dan alat sederhana, sedangkan gurunya, Ibu Sri Budiharti (atas kiri), memfasilitasi kegiatannya, a.l. dia menyiapkan skenario, lembar tugas, bahan, mengamati, dan membantu anak.

Hasil percobaan dituliskan oleh siswa dalam LK dan dipresentasikan di depan kelas. Kepala Sekolah, waktu ditanya tentang sikap Orang Tua siswa terhadap penerapan PAKEM, menyatakan bahwa mereka sangat mendukung. Demikian pula ketika ditanyakan kepada siswa, mereka sangat senang dan tertantang dalam proses belajar, karena oleh guru diberi tantangan dan kesempatan untuk menggali kemampuan lebih banyak dan saling berdiskusi.

Pajangan Kelas 5
Siswa Kelas 3
Tulisan Siswa

(paling atas) ada Pajangan kelas 5, dan tulisan Dika (kanan), Siswa kelas 3 (kiri)


Pojok Baca

Perubahan juga terlihat di SD Ploso 1. Banyak hasil karya anak dipajangkan dengan cara yang menarik dan indah. Mutu hasil karya juga baik dan merupakan hasil anak sendiri. Sekolah belum mempunyai ruang perpustakaan, tetapi sejak pelatihan MBS dan PAKEM mereka telah membuat beberapa pojok baca di beberapa tempat di sekolah. Di sebelah kanan anak asyik membaca buku di pojok tersebut. Mereka memakai pakaian tradisional karena bertepatan dengan hari Kartini.

Anak kelas 6 di SD Losari 1 (bawah kiri) kecamatan Tulakan, sedang praktik pada saat kunjungan. Mereka melakukan percobaan IPA tentang panas dengan menggunakan kit yang disediakan melalui proyek SEQIP.

SMP Muhammadiyah telah mengikuti pelatihan, dan senang menerima pengalaman baru. Namun, waktu Kepala Sekolah , Bpk. Bambang Sutaryo (bawah kanan) ditanyakan tentang pelatihan, beliau memberikan saran untuk peningkatan mutu dan efektifitas pelatihan yang akan datang.

Siswa Kelas 6
Bpk.Bambang Sutaryo

' Pelatihan PAKEM seharusnya diselenggarakan dengan cara PAKEM kadang-kadang terlalu banyak ceramah '. MBE sangat mendukung pernyataan beliau (lihat dibawah ini!)

Masyarakat Kebumen

Masyarakat Kebumen tertarik dengan sekolah

Kebumen, kabupaten yang baru terpilih sebagai penerima program MBE, telah mempunyai Stasiun TV milik Pemda - Ratih TV. Bupati merasa tertantang untuk mengembangkan program pendidikan yang disajikan lebih popular, sehingga anak akan tertarik untuk memepelajarinya dan lebih mudah dalam mengingatnya.

Pelatihan juga harus PAKEM
Kalau kita mau melatih guru untuk mengajar dengan cara PAKEM, kita harus melatih mereka secara PAKEM. Artinya, pelatihan harus bersifat aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Pelatihan pada umumnya terdiri atas penuyusunan skenario pembelajaran, simulasi pelaksanaan skenario tersebut, di mana guru yang dilatih berperan sebagai murid, dan praktik mengajar. Guru dilatih oleh fasilitator daerah didampingi pelatih nasional.
Bpk Kadis, Fasilitator Bahasa Indonesia
Konsultan dan Pelatih dari Pusat

Guru dari Pati
(Atas Kiri) Bpk Kadis, fasilitator Bahasa Indonesia dari Pati membantu guru menyusun skenario pembelajaran.
(Atas Kanan) Dalam pelatihan fasilitator daerah dibantu konsultan dan pelatih dari pusat dalam hal ini Lynne Hill dan Dinn Wahyudin.
(Samping Kiri) Guru dari Pati membacakan hasil tulisannya pada simulasi mengajar.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID