|
Dari Daerah MBE Yang Baru...
Kreativitas di Kota Batu SD Punten 1, Kec. Punten
SD Punten 1 merupakan gabungan dari 2 SD yang berada dalam satu halaman, sebelum dan sesudah penggabungan jumlah murid terus menurun karena orang tua calon murid lebih senang menyekolahkan anak mereka ke SD di kota Batu yang diyakini mempunyai mutu lebih baik.
|
|
(Atas)
Ibu Sulasmi Kepala SD Punten 1 (kedua dari kiri) dengan guru dan orang tua murid.
(Samping kiri)
Anak kelas 4 menggunakan papan berpaku untuk menemukan luas dan keliling persegi panjang.
|
|
menyekolahkan anak mereka ke SD di kota Batu yang diyakini mempunyai mutu lebih baik.
Sejak Ibu Sulasmi ditugaskan menjadi Kepala Sekolah SD ini, bersama para guru beliau berusaha memperbaiki mutu pembelajaran, sehingga lambat laun kepercayaan orang tua disekitar lokasi untuk menyekolahkan anak bertambah.
Pada saat ini SD yang bermurid 300, dan berguru 9 orang ( 3 orang sukwan) ini melakukan beberapa alternatif terobosan untuk lebih meningkatkan mutu lulusannya, a.l :
The English Day, sesuai dengan Renstra Kota Batu yang mengarah ke Kota Pariwisata, maka di sekolah pada hari tertentu diadakan kesepakatan bahwa pembelajaran dilaksanakan dengan memakai bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Hal ini tentunya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing usia siswa.
Paguyuban Kelas (PK), adalah kelompok orang tua murid pada kelas bersangkutan yang berinisiatif untuk memfasilitasi pengelolaan prasarana kelas, membantu kekurangan pendukung kegiatan pembelajaran ( alat peraga, buku, dll) di kelas.
Hal ini dimulai karena melihat hal serupa di Probolinggo dan mengadaptasinya sesuai dengan kebutuhan lokal. Komite Sekolah merasa sangat terbantu dengan adanya PK, karena dapat membantu mendelegasikan dan mendistribusikan tugas ke PK masing-masing kelas.
Untuk meningkatkan kesejahteraan terhadap guru Sukwan maka Pemda dan komite Sekolah memberikan insentif berupa uang masing-masing Rp 100.000 perbulan, dengan total Rp 200.000.
SD Beji 1
Komite Sekolah ( tahun 2001 bernama BP3) SD Beji 1 menyebarkan Angket tentang Kebutuhan / Needs Assessment kepada semua orang tua siswa, gunanya untuk menjaring pendapat dan masukan orang tua murid dalam rangka penyusunan RIPS dan RAPBS tahun pelajaran 2001/ 2002.
Salah satu hasilnya adalah dibutuhkan peningkatan kemampuan Bahasa Inggris sebagai keterampilan sehari-hari di kota Batu sebagai kota pariwisata. Komite sekolah berembug bersama para guru sekolah, maka didapat alternatif untuk memberikan pelajaran tambahan luar jam sekolah, pelajaran dimulai dari kelas 3 s.d. 6.
Sangat beruntung, bahwa ada seorang orang tua murid yang berbaik hati untuk membantu mengajar kelas 3 dan 4 dalam waktu seminggu sekali dengan tidak mau memungut bayaran, sedangkan untuk kelas 5 dan 6 mereka dipungut bayaran untuk membiayai guru Bahasa Inggris dari kursus swasta di kota Batu.
|
SLTP 4 Batu
Pada umumnya perpustakaan sekolah kurang dimanfaatkan, tetapi di SLTP Batu 4 tidak demikian. Pelajaran sering berlangsung di perpustakaan. Saat kami berkunjung, perpustakaan cukup ramai dipakai. Kalau anak meminjam buku dan terlambat mengembalikan-nya mereka harus bayar Rp 100. Dana tersebut sudah cukup untuk membeli lemari buku dan buku baru.
|
Perpustakaan Sekolah SLTP 4 Batu ramai dikunjungi Para Siswa dan Siswi.
|
Inovasi di Kabupaten Kebumen Partisipasi Masyarakat
Awal waktu Ibu Bupati menjabat pada tahun 2001, 3 gedung SD roboh bersamaan dan puluhan lainnya dalam kondisi rawan. Masyarakat dan stakeholder pendidikan meminta agar sekolah secepatnya dibangun kembali dan diperbaiki. Dalam kondisi keuangan Pemda yang terbatas , Pemda hanya mampu membiayai Rp 3, 2 Milyar sekitar 20 % dari total biaya yang dibutuhkan.
Bupati dan jajarannya mengambil inisiatif untuk mengajak masyarakat mengetahui kondisi kemampuan keuangan Pemda secara terbuka. Masyarakat diajak berpartisipasi untuk membangun sekolah ( prioritas adalah Ruang Kelas Baru /RKB bagi yg roboh) , dengan cara memberikan sejumlah uang sebagai pemancing/ stimulan kepada desa setempat dimana sekolah membutuhkannya.
Awalnya Bupati ragu akan hasilnya, karena selama ini masyarakat selalu meminta dana untuk perbaikan sekolah, tetapi dengan pendekatan dan pemberian pengertian melalui cara turun langsung ke lokasi, ternyata partisipasi masyarakat sangat tinggi.
Dari dana stimulan sebesar Rp 3,2 Milyar didapat tambahan dari masyarakat sebesar Rp 12 Miyar, sehingga dana total pembangunan RKB menjadi Rp 15,2 Milyar. Partisipasi masyarakat hampir 80 % dari total biaya, hal yang sangat sulit terjadi pada masa lalu.
Melihat animo yang baik tersebut, Bupati menerbitkan SK Bupati, bahwa semua pembangunan RKB adalah melalui Pemerintah Desa, dimana didalamnya terdiri dari Kepala Desa, kepala Sekolah, Komite Sekolah, dan Wali Murid. Besaran Dana adalah Rp 5 juta / RK pada tahun 2001, dan meningkat menjadi Rp 8 juta/RKB pada tahun anggran 2004 Ini.
Siaran Interaktif
Setiap pkl 05.45 pagi (kecuali jika tugas luar kota) ibu Bupati berangkat menuju Stasiun Televisi Ratih dan Radio In FM (keduanya milik Pemda), untuk melakukan siaran interaktif kepada masyarakat Kabupaten Kebumen.
Topik pembicaraaan dirancang sesuai dengan kebutuhan, dan tiap dinas/instansi Pemda yang bersangkutan harus siap membantu Bupati dalam menjawab pertanyaan (jika teknis) yang disampaikan.
Pertanyaan dapat dilontarkan langsung melalui telepon, SMS ataupun e-mail. Hal ini juga berlaku untuk sektor pendidikan. Banyak pertanyaan yang cukup berani, misalnya: pemberian paket buku dari Pusat yang tidak relevan, sehingga Pemda akhirnya mengembalikan buku tersebut.
Untuk Radio, direncanakan akan dibuat paket program pendidikan yang akan disiarkan setiap sore pukul 16.30 - 17.00. Semoga hal ini menjadikan keterbukaan di sektor pendidikan menjadi makin membaik, baik dalam bidang kebijakan maupun teknis pendidikan.
|