|
Kabupaten Kebumen Sangat Proaktif
Pada tanggal 12--15 Mei 2004, beberapa orang kunci yang berkait dengan pendidikan di Kabupaten Kebumen mengikuti pengenalan proyek MBE di Hotel Plaza Yogyakarta. Sebagai wujud keseriusan mereka untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya, mereka mengikuti semua kegiatan dengan seksama.
Secara cepat orang-orang kunci di Kabupaten Kebumen segera melakukan studi banding di Kabupaten Probolinggo dan Pacitan. Di sana mereka menyaksikan secara langsung kegiatan pembelajaran yang menggunakan prinsip pakem.
Pada kesempatan itu juga, mereka memperoleh kesempatan melakukan diskusi dengan kepala sekolah dan para anggota komite sekolah untuk mendalami pengetahuan tentang MBS dan PSM. Semua kegiatan kunjungan difasilitasi oleh Koordinator Daerah masing-masing.
Kegiatan studi banding dilakukan pada tanggal 23--26 Mei 2004. Peserta studi banding meliputi pejabat Bappeda, Dinas Pendidikan Kabupaten dan Cabang, Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, Depag, DPRD (Komisi E), Guru dan Kepala Sekolah, serta Camat.
SD yang Dikunjungi Mendapat Manfaat
Para guru, kepala sekolah, dan pengawas dari Kabupaten Kebumen yang mencari ilmu di dua SD binaan MBE, yaitu SD Baleharjo II dan SD Ploso I di kota Pacitan sering sekali terlibat dalam diskusi dengan tuan rumah.
Diskusi berbentuk tanya jawab yang sangat interaktif. Jika pihak tamu lebih banyak bertanya pada tuan rumah, itu hal yang biasa. Pihak tuan rumah rupanya tak ingin kalah. Mereka juga mengajukan pertanyaan untuk memperoleh alternatif lain. Oleh karena itu, pihak tuan rumah juga selalu mendapat manfaat dari kunjungan pihak luar.
Dari kunjungan para tokoh penting di bidang pendidikan Kabupaten Kebumen, kepala sekolah SD Beleharjo II menyadari bahwa kegiatan kantin seharusnya menjadi bagian pendidikan anak-anak. Demikian pula guru kelas satu SD Ploso I yang langsung mencoba saran pembelajaran setelah terjadi diskusi pendek di dalam kelas.
Bupati Peduli Pendidikan Dasar
Bupati Kebumen yang baru saja melangsungkan akad nikah dengan pria berdarah Sulawesi sangat peduli pada pendidikan. Sebagai bukti kepeduliannya, ia berinisiatif mengumpulkan dana untuk pendidikan dasar. Ide cemerlang tersebut diwujudkan dalam bentuk penerbitan kupon pendidikan.
Kopun pendidikan yang ditawarkan kepada semua pengunjung resepsi pernikahan bupati. Setiap tamu dipersilakan membeli satu kupon seharga Rp 9000. Dana itu nantinya akan digunakan sebagai sarana pengembangan pendidikan dasar di Kabupaten Kebumen.
Harapan lebih jauh, ide tersebut bergulir terus-menerus sehingga semua penjabat dapat memanfaatkan berbagai peristiwa untuk membantu peningkatan kualitas pendidikan dasar.
|
MBS, PSM, dan PAKEM di Banyumas
Program MBS, PSM, dan PAKEM di Kabupaten Banyumas bukanlah hal baru. Hal itu telah mereka kenal dari program yang dikelola oleh Unesco, Unicef, dan Departeman Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Oleh karena itu, sekolah-sekolah yang tidak mendapatkan binaan langsung pun sebagian telah melaksanakannya secara mandiri.
Hal itulah yang dilakukan oleh pengelola SD Ajibarangwetan I di Kecamatan Ajibarang, dan SD Bentul, SD Gambarsari di Kecamatan Kebasen. Kedua sekolah ini, secara mandiri mencoba malaksanakan MBS, PSM, dan PAKEM.
Bonsai MBS SMPN 4 Banyuwangi
Sebagai salah satu sekolah yang berada di wilayah kota, SMPN 4 Banyuwangi, yang dipimpin Bapak Suseno bukan hanya menjadi sekolah alternatif tapi sudah merupakan pilihan utama. Keterbatasan ruang yang ada sering kali menyebabkan dari tahun ke tahun tidak dapat menampung siswa yang berminat belajar disekolah ini.
Kalau datang langsung, akan ditemui sebuah sekolah yang dari segi luas sangatlah terbatas, halaman yang cukup sempit, hanya terdiri atas 9 rombongan belajar masing-masing kelas 1 ada 3 rombel, kelas 2 ada 3 rombel dan kelas 3 ada 3 rombel.
Untuk perkembangan ke depan sangat tidak memungkinkan untuk membuka lokal baru kecuali dengan pengembangan ke atas atau dibangun bertingkat atau dipindahkan ketempat yang lebih memadai.
Posisi sekolah yang berada di antara rumah penduduk semakin mempersulit ruang gerak pengembangan sekolah. Tapi hal ini tidaklah menyurutkan semangat belajar mengajar warga SMPN 4 Banyuwangi. Justru dengan keterbatasan lahan ini menjadi tantangan untuk memunculkan ide-ide kreatif baik guru maupun siswa.
|
|
|
Bapak Soeseno Kepala Sekolah SMPN 4 Banyuwangi bersama Bapak Sugeng menunjukkan Bonsai MBS yang Bibitnya hasil bantuan Orang Tua Siswa.
|
Di halaman yang sangat terbatas ini dapat kita lihat jajaran bonsai dari berbagai jenis tumbuhan yang tertata dengan rapi. Kekaguman kita tidak hanya akan terbatas akan keindahan Bonsai itu saja.
Bonsai yang terdiri atas Pacar laut, Beringin, Soka, Serut, Mustam, Jeruk Kikit, Mirten, Kemuning, Bunut (Vikus) dan yang lainnya, bibitnya merupakan sumbangan dari siswa, walimurid, dan masyarakat di sekitar sekolah.
Pembudidayaan bonsai ini di bimbing oleh Bapak Sugeng salah satu guru yang juga menjadi tutor siswa dan masyarakat yang ingin membudidayakan Bonsai.
Di kalangan masyarakat Banyuwangi Bonsai SMPN 4 Banyuwangi ini cukup punya nama. Hal itu dibuktikan dengan beberapa kali mengikuti kegiatan pameran maupun lelang baik tingkat kabupaten, regional, dan Nasional.
Hasil penjualan Bonsai ini akan dibagi secara merata dengan pembagian untuk perawatan, kas Osis, dan penunjang kegiatan belajar mengajar. Rencana ke depan, hasil penjualan untuk tambahan pembelian tanah kosong yang ada di sekitar sekolah.
Rasa memiliki yang sangat tinggi ditanamkan pada siswa sehingga pada saat istirahat atapun jam-jam di luar kelas tidak akan kita temui siswa yang jahil ataupun merusak bonsai-bonsai ini. Bahkan akan kita jumpai siswa-siswa dengan senang hati turut memelihara keberadaan Bonsai ini. Hal ini tidak lepas dari dilibatkannya osis dalam pemeliharaan.
|