Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education


Penilaian Dampak Program MBE pada Siswa

Keberhasilan utama dari MBE harus dinilai pada dampak kinerja siswa. Namun, kinerja siswa sangat kompleks untuk dievaluasi, termasuk pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap. Ujian akhir nasional (UAN) dan tes semester sangat terbatas, umumnya mengingat fakta dan tidak dapat dignunakan sebagai perbandingan dari semester ke semester atau antar daerah geografis yang berbeda.

Oleh karena itu, program MBE malakukan penilaian sendiri untuk mengevaluasi kinerja siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Penekanan penilaian ini pada pengembangan kemampuan siswa. Tes yang digunakan adalah tes yang dikembangkan oleh dua Proyek Bank Dunia, yaitu PEQIP dan Proyek Pendidikan Dasar (Basic Education Projects) dan juga digunakan dalam program MBS dari Unesco dan Unicef.

Tes ini lebih sesuai dengan tujuan kurikulum masing-masing mata pelajaran dan mempertimbangkan tujuan komponen PAKEM dalam proyek. Tes ini terbatas pada saat ini kepada SD dan MI dan terdiri atas:

  • Membaca di kelas 1 (dilakukan secara lisan dengan masing-masing anak)

  • Tes Bahasa Indonesia di kelas 4, termasuk tes membaca pemahaman dan tes membuat karangan berdasarkan gambar untuk menilai kemampuan menulis

  • Tes Matematika di kelas 4 dengan penekanan menilai keterampilan siswa dalam pemecahan masalah

  • Tes IPA di kelas 5 yang lebih menilai keterampilan anak untuk membuat kesimpulan berdasarkan data yang diberikan

Grafik di atas menunjukkan hasil tes menulis di 60 SD dan MI di daerah MBE. Hasil rata-rata siswa di sekolah yang dites sangat berbeda dengan skor antara 17 (dari 20) dan 5.

Tes telah dilaksanakan antara tgl. 17 s.d. 24 Mei di 60 sekolah di sepuluh daerah MBE (6 SD dan MI di setiap daerah dan akan diberikan lagi kepada sekolah dan kelas yang sama (bukan siswa yang sama) pada tahun yang akan datang untuk menilai dampak program MBE pada kemampuan siswa.

Tes menulis dinilai berdasarkan lima unsur: tulisan tangan (menulis rapi), ejaan, tanda baca, panjangnya karangan, dan kualitas bahasa yang digunakan. Bobot dalam semua skor adalah tulisan (15%), ejaan (15%), tanda baca (15%), panjang tulisan (20%), dan kualitas tulisan (35%).

  • Hanya 19% anak bisa menulis dengan tulisan tegak bersambung dan rapih sedangkan 64% bisa membaca rapih tetapi tidak bersambung. Perbedaan antarsekolah sangat mencolok. Pada beberapa sekolah kebanyakan anak menulis dengan rapih, sementara yang lain sedikit atau sama sekali tidak ada. Ini hampir bisa dipastikan guru-guru pada sekolah-sekolah yang pertama yang bagus tulisannya secara reguler mengajarkan menulis rapih, sementara sekolah-sekolah yang belakangan tidak.

  • Hanya 16% anak menulis tanpa kesalahan ejaan dan 52% anak bias menulis dengan ejaan yang baik (sebagian besar kata dieja dengan benar), sementara lebih dari 30% dari kasus menulis dengan kesalahan ejaan yang parah atau sangat parah. 58 % anak memberi tanda baca pada tulisan mereka dengan baik (dikategorikan bagus atau sempurna), sementara itu lebih dari 35% kasus anak yang menulis dengan kesalahan tanda baca dan dikategorikan kurang atau sangat kurang.

  • 58% siswa menulis lebih dari setengah halaman dan 44% siswa isi tulisannya yang dinilai baik, yaitu gagasannya diungkapkan secara jelas dengan urutan yang logis. Pada umumnya anak kurang dapat mengelola gagasannya secara sistematis

Alasan mengapa begitu banyak anak yang mengalami kesulitan dalam menulis karangan dengan kualitas dan panjang yang memuaskan serta dengan menggunakan ejaan dan tanda baca yang memadai ialah anak-anak di banyak kelas jarang menulis dengan kata-kata mereka sendiri. Mereka lebih sering menyalin dari papan tulis atau buku pelajaran.

Testing Siswa di Batang

Kebijakan di setiap daerah binaan MBE ternyata berbeda, terutama untuk Kabupaten Batang. Pagi hari seluruh ruang kelas digunakan untuk praktik kelas VI, maka testing siswa kelas I, IV dan V diadakan siang hari pukul 13.00 s.d. 17.00 WIB. Bahkan untuk satu hari, berjalan bersamaan untuk beberapa sekolah.

Anak-anak terlihat sangat senang kedatangan tim MBE, meskipun ketegangan tetap terpancar di wajah-wajah polosnya. "Siapa yang sudah pandai membaca?

Coba tunjukkan pada Bapak, yang ingin membaca dulu ikut Bapak ke ruang perpustakaan ya, mari nak......" Pak Masjudi sangat sabar memanggil satu persatu anak dan menggandeng tangan mereka memasuki ruang perpustakaan, terutama untuk anak kelas I.

Masuk ke ruang kelas IV, anak-anak saling tunjuk temannya untuk memilih soal matematika dan bahasa Indonesia.......namun setelah diberi pengertian oleh guru kelas, akhirnya mereka duduk rapi dan tenang mengerjakan soal.

Masuk ke kelas V, terjadi sorak-sorai bagi anak yang namanya tidak terpilih untuk mengerjakan tes IPA, meskipun mereka menunggu di luar, secara bijak guru kelas tetap memberikan tugas lain untuk dikerjakan di luar kelas secara berkelompok.

Hasil yang dicapai untuk membaca, sebagian besar anak kelas I sudah bisa membaca lancar tetapi masih kurang dalam membaca pemahaman.

Untuk Bahasa Indonesia kelas IV, kemampuan anak untuk menuangkan ide dalam tulisan/karangan masih kurang.

Keunggulan mereka adalah di soal pilihan ganda, karena sekian tahun lamanya terbiasa dengan soal seperti itu dari pusat.

Untuk Matemátika Kelas IV, kebanyakan kesalahan muncul pada soal penjumlahan bilangan desimal dan kurang kreatif untuk soal-soal terbuka. Untuk IPA kelas V, kebanyakan kesalahan muncul pada soal terapan.

Kesimpulan lain yang dapat diperoleh ádalah, rata-rata anak yang telah TK (Taman Kanak-Kanak) kemampuannya lebih baik dibanding yang tidak masuk TK.

Hasil tes tersebut telah diinformasikan oleh Koordinator Kabupaten dan menjadi pemicu guru untuk lebih kreatif dan senantiasa memperbaiki skenario pembelajarannya.

Rupanya guru juga harus selalu melakukan refleksi agar tujuan bersama memerangi kebodohan tercapai. Ternyata, kepandaian tidak hanya dapat diukur dengan angka sebagai standar penilaian.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID