Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Belajar Membaca Menulis Permulaan

Hasil tes awal kemampuan membaca anak SD-MI kelas I menunjukkan bahwa pada umumnya siswa yang pernah masuk TK kemampuan membacanya lebih baik dibandingkan dengan siswa yang tidak dari TK.

Hal tsb antara lain disebabkan karena kesiapan belajar membaca mereka (pengenalan huruf dan sosialisasi antar anak) lebih baik daripada mereka yang tidak dari TK.

Selain itu, pada umumnya anak yang masuk TK berasal dari keluarga yang tinggal di perkotaan dan secara sosial ekonomi lebih mampu .

Selain faktor latar belakang pengalaman belajar, para peneliti menemukan bahwa siswa yang diajar membaca dengan menggunakan metode mengeja, kemampuan membacanya pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan yang belajar menggunakan metode lain.

Dalam tes membaca untuk kelas I banyak anak yang terlalu sibuk mengeja dan menyuarakan huruf huruf, sehingga tidak memahami makna kata.

Mereka juga mengalami kesulitan terutama untuk mengeja/membaca kata kata yang menggunakan konsonan/vokal rangkap (bendera, mengganggu, kerbau).

Kesibukan mengeja menghambat kemampuan mereka untuk memahami kalimat/cerita yang dibacanya. Akibat selanjutnya adalah siswa mengalami kesulitan menjawab pertanyaan mengenai isi cerita.

Di berbagai negara, belajar membaca dengan mengeja sudah lama ditinggalkan karena banyak kelemahannya. Kalau guru mengajarkan anak mengeja sesuai dengan bunyi abjad i… b …u sebenarnya banyak anak yang menjadi bingung, mengapa dibaca "Ibu" bukan "ibeu", begitu pula kalau diajarkannya dengan bunyi "i" "eb" "u" mengapa menjadi "ibu" bukan "iebu".

Tingkat kesulitan bagi siswa lebih tinggi lagi untuk kata kata seperti "menyanyi", "belanja" "belajaannya" dst. Akibat dari berbagai kesulitan tsb , kecepatan membaca dan pemahaman siswa sangat rendah.

Menurut hasil penelitian di beberapa negara, kebiasaan mengeja tadi bisa terbawa sampai dewasa. Pengenalan huruf memang perlu, tetapi penekanan pada mengeja lebih banyak merugikan.

Bagaimana sebaiknya? Bagi anak-anak TK dan kelas awal, kegiatan menggambar, bercerita, membaca, dan menulis sebaiknya merupakan kegiatan terpadu.

Belajar Membaca Permulaan dengan Gambar

Belajar membaca permulaan, sebaiknya dilakukan melalui gambar-gambar dengan kata-kata sederhana (meja, topi kuda).

Anak sebaiknya belajar membaca kata-kata secara utuh yang bermakna bukan huruf demi huruf. Setelah dapat membaca secara utuh, anak belajar membaca suku kata, dan kalau perlu huruf huruf, bukan dibalik, belajar huruf dulu.

Kemampuan anak untuk mengekspresikan diri (lisan maupun tertulis) dapat dikembangkan melalui pengalaman nyata siswa, yang diungkapkan melalui kegiatan menggambar dan bercerita dengan menggunakan kata-kata dari anak itu sendiri. Kalau anak belum dapat menulis, guru membantu menuliskan apa yang diceritakan siswa.

Dengan kata lain, belajar membaca dan menulis permulaan paling bagus dikembangkan dalam konteks dan menggunakan kata kata siswa sendiri, bukan melalui kata-kata lepas atau kalimat yang dibuat guru atau mengutip dari buku.

Lokakarya Reviu dan Perencanaan

Program MBE telah berjalan kurang-lebih satu tahun di lima daerah tahap pertama. Lokakarya Reviu dan Perencanaan diadakan pada tgl. 12 s.d.15 Mei di Yogyakarta untuk mengkaji ulang kegiatan MBE selama satu tahun, menilai dampaknya dan mendiskusikan program kegiatan yang akan datang.

Lokakarya tsb. di-hadiri 15 peserta dari setiap lima kabupten tahap pertama dan 6 peserta dari lima daerah baru.

Peserta Lokakarya

Kehadiran daerah baru bertujuan agar mereka dapat lang-sung belajar dari daerah lama. Peserta yang ikut termasuk beragam stakeholder, yaitu Bappeda, Dinas Pendidikan, Departemen Agama, DPRD, Dewan Pendidikan, komite, dan kepala sekolah.

Pajangan dari Setiap Daerah
Pajangan dari Setiap Daerah

Setiap daerah membuat pajangan yang mencerminkan hasil MBE di daerahnya selama satu tahun, termasuk hasil pemetaan sekolah, program kerja, pelaporan inovasi, dan hasil karya anak.

1. Ibu Mistin dari Batu
2. Bpk.Kardoyo dari Pacitan

Ibu Mistin dari Batu (No.1) dan Bpk Kardoyo dari Pacitan (No.2) melaporkan tentang keadaan pendidikan di daerahnya

Semua daerah baru maupun lama mendapat kesempatan untuk melaporkan kegiatan daerahnya, dengan fokus kepada inovasi.

Lokakarya juga dihadiri unsur dari beberapa program lainnya, termasuk proyek PERFORM, program MBE dari AusAID dan program kesehatan sekolah (SHIP) yang berjalan di Kebumen. MBE akan bekerja sama dengan ketiga program tersebut supaya saling bermanfaat.

Ibu Dina

Ibu Dina dari proyek PERFORM

Ibu Dina, Regional Manager Jawa Timur untuk proyek PERFORM yang juga merupakana bantuan dari USAID dalam bidang perencanaan telah memberi presentasi tentang programnya, yang akan dilaksanakan di sebagian besar daerah MBE. Kemudian para peserta mendiskusikan bagaimana cara kerja sama yang nyata antara kedua program.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID