Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Workshop PAKEM, TOT 3 Mata Pelajaran

Bagian 1

Selama September - Oktober 2004, diselenggara -
kan pelatihan PAKEM di Yogyakarta berfokus pada mata pelajaran terpadu untuk SD Kelas Awal, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris , Pengetahuan Sosial, IPA dan Matematika untuk SD dan SLTP serta peningkatan pemahaman kurikulum berbasis kompetensi. Semua kelompok mata pelajaran memfokuskan pada pemahaman kurikulum melalui kegiatan kegiatan praktis sperti bedah kurikulum, dan pengembangan rencana pembelajaran jangka panjang, menengah dan jangka pendek.

Kurikulum 2004: Bagaimana Mengajarkannya?

Banyak guru menjadi frustasi pada waktu mengajarkan kurikulum berbasis kompetensi. Mereka masih melihat setiap kompetensi secara terpisah dan berusaha untuk mengembangkan rencana pembelajaran berdasarkan kompetensi tersebut dan berusaha melakukan evaluasi. Terlalu banyak kompetensi di dalam kurikulum untuk diajarkan dengan cara seperti itu, dan guru menjadi khawatir tidak dapat mengelola semua kompetensi yang perlu diajarkan.

Kurikulum sebagai Kerangka Bangunan

Kurikulum Berbasis Kompetensi berbeda dengan kurikulum lama karena kurikulum ini ibarat kerangka bangunan. Guru harus menggunakan kurikulum sebagai kerangka untuk program mengajarnya. Sama seperti seorang arsitek, guru harus membuat suatu rencana dan membangun rumah berdasarkan rencana tersebut. Semua bagian bagian rumah harus dipertimbangkan dalam rencana dan bagaimana setiap bagian bangunan cocok dengan bagian bagian lain.

Bedah Kurikulum

Selama workshop, peserta belajar proses mengembangkan kerangka dengan melakukan bedah kurikulum (curriculum scan). Peserta mengambil kurikulum satu tingkat kelas, dan memotong motong standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Peserta IPS

Peserta IPS membuat bedah kurikulum

Standar kompetensi diletakkan di bagian atas kertas lebar. Kompetensi kompetensi dasar di kelompokkan di bawah topik/tema yang diidentifikasikan oleh kelompok. Peserta membuat banyak keputusan tetang bagaimana mereka mengorganisasi bedah kurikulum dan setiap kelompok menghasilkan rencana yang berbeda. Pertama mereka menganggap prosesnya sulit karena mereka harus banyak membuat keputusan yang bertalian dengan topik topik, kompetensi-kompetensi dasar, dan proses.

Pada waktu para guru memberikan komentar bahwa rencana yang mereka buat berbeda-beda dan menanyakan mana yang benar dan mana yang salah, kita sepakat bahwa semuanya benar. Guru sekarang dapat leluasa dan membuat rencana untuk memenuhi kebutuhan siswa dan lingkungan sekolah mereka. Peserta mengembangkan "gambaran umum" perencanaan dari KBK dan berhasil mengembangkan "kerangka" bagi program mengajar mereka. Tunggu Bagian 2 dari perencanaan kurikulum dalam Suara MBE berikutnya.

DARI 'GREEN APPLE' - Suara MBE, Kota Batu

Permainan Domino untuk Pembelajaran Pecahan

Mendengar kata DOMINO pikiran kita akan langsung tertuju pada kartu permainan dengan bulatan-bulatan merah berjumlah 1-6. Biasanya kita menggunakan domino untuk bermain sambil mengisi waktu luang. Tetapi tidak bagi ibu Juliati, Guru kelas III dari SD Songgokerto III Batu.

Domino dimodifikasi dan digunakan sebagai media bagi pembelajaran pecahan pada siswa kelas III SD. Dan mengantarkan Ibu Juli sebagai JUARA I lomba KREATIVITAS GURU SAINS DAN MATEMATIK tingkat Jawa Timur. Selamat untuk Bu Juli. Layaknya permainan domino, Ibu Juli memodifikasi bulatan-bulatan domino, dan inilah contohnya:

Domino yang dimodifikasi

Aturan permainan dalam pembelajaran ini ada 3 macam yaitu :

  1. Pembelajaran pecahan-pecahan yang ekivalen. Siswa memasangkan gam -
    bar dengan angka atau angka dengan angka atau gambar dengan gambar yang senilai atau ekivalen.

  2. Pembelajaran perbandingan dua peca
    han yang nilainya berbeda lebih besar. Siswa memasangkan suatu gambar dengan angka atau angka dengan angka atau gambar dengan gambar yang nilainya lebih besar.

  3. Pembelajaran perbandingan dua peca
    han yang nilainya berbeda lebih kecil. Aturan permainannya yaitu siswa memasangkan suatu gambar dengan angka atau angka dengan angka atau gambar dengan gambar yang nilainya lebih kecil.

Dengan menggunakan media domino yang dimodifikasi menjadi puzzle ini ternyata murid-murid kelas III menjadi lebih mudah memahami konsep pecahan. Siswa-siswa juga merasa senang karena mereka dapat belajar melalui bermain.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID