|
Berita dari Banyumas
Akhirnya MOU Ditandatangani
Tidak sedikit pihak yang mempertanyakan keberadaan MBE di Kabupaten Banyumas. Pasalnya sampai dengan pelaksanaan kegiatan "Pelatihan untuk Pelatih", MoU yang menjadi dasar kerjasama belum juga ditandatangani. Dan pada tanggal 16 September 2004, semua pihak sudah mendapatkan jawabannya.
Ternyata kerjasama RTI-MBE dengan Kabupaten Banyumas dalam rangka Pengembangan Kapasitas Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Pendidikan Dasar Melalui Managing Basic Education memang nyata. Bpk. Stuart sebagai pimpinan RTI-MBE hadir dalam penandatanganani MoU, nota kesepakatan kerjasama antara RTI-MBE dengan Kabupaten Banyumas
Acara ini dilaksanakan disela-sela kegiatan Pelatihan Sekolah dan Masyarakat yang ber-langsung di Aula SMPN 3 Kebasen, salah satu wilayah binaan RTI-MBE. Acara berlangsung lancar diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bapak Bupati Banyumas yang dalam hal ini diwakilkan kepada Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Bapak Suyatno, S.Sos, S.Hum, karena Bapak Bupati harus menghadiri rapat koordinasi persiapan PEMILU, (foto di atas) hadir pada acara ini sekaligus membuka acara pelatihan.
Dalam pidatonya, Bupati menghimbau seluruh pihak untuk ikut menyukseskan program-program MBE demi pengembangan kapasitas pemerintah daerah dalam pengelolaan pendidikan dasar. Besar harapan kita semoga kerjasama ini dapat berlangsung dengan baik dan lancar sesuai dengan surat perjanjian yang telah disepakati.
Pelatihan Sekolah dan Masyarakat
Sebagai tidak lanjut "Pelatihan untuk Pelatih" yang berlangsung dari tanggal 20--26 Agustus 2004 di Banyuwangi, diadakan Pelatihan Sekolah dan Masyarakat di wilayah binaan, yaitu dua Kecamatan di Kabupaten Banyumas. Untuk mengefektifkan pelatihan dan mengoptimalkan hasil pelatihan, maka pelatihan di bagi dua tahap dengan materi yang sama. Tahap pertama pelatihan dilaksanakan di Kecamatan Ajibarang, berlangsung dari 13 -- 15 September 2004. Tahap kedua dilaksanakan di Kecamatan Kebasen, berlangsung dari tanggal 16 --i 18 September 2004.
Pada pelatihan ini, peserta terdiri dari guru, kepala sekolah, dan komite sekolah dari 10 sekolah binaan (6 SD, 1 MI, 1 MTs, dan 2 SMP) di masing-masing Kecamatan. Selain bertujuan untuk mensosialisasikan program MBE, pelatihan ini diharapkan akan menggugah masyarakat / wali murid / komite sekolah untuk ikut terlibat dalam proses belajar mengajar di sekolah. Secara langsung masyarakat juga dapat mengetahui proses belajar mengajar yang efektif di Sekolah.
Peserta kelihatan asyik menikmati berbagai rangkaian kegiatan. Suasana pelatihan dibuat tidak monoton, seperti kegiatan belajar- mengajar ala MBE, dalam hal ini adalah PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Kegiatan ini sekaligus mengenalkan sistem pendidikan PAKEM kepada peserta dengan harapan nantinya dapat melaksanakan sistem ini di sekolah masing-masing.
|
Dalam PAKEM, siswa lebih diberdayakan dan mampu mengemukakan kretifitasnya. Untuk lebih memberikan gambaran kepada peserta, diberikan waktu khusus untuk memperagakan model pembelajaran secara PAKEM, dengan mengundang Siswa SD terdekat. Salah satu fasilitator memperagakan cara belajar mengajar di depan para peserta pelatihan. Tampak (foto di bawah) pada gambar Bapak Sukamto sedang memperaga- kan cara mengajar di depan murid-muridnya
sendiri yang diundang ke ruangan pelatihan, karena kebetulan sekolah tempat Bapak Sukamto mengajar, terletak persis di belakang Kantor Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Ajibarang (tempat pelatihan berlangsung).
Kapan MBE Sampai Di Sekolah Saya?
Pertanyaan tersebut terlontar dari seorang guru yang sudah menyaksikan program MBE dan melihat langsung hasilnya. Beliau adalah Bapak Ikhsan, guru SDN Karangtengah, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas. Apa yang dilihat Pak Ikhsan adalah Program MBE pada tahap awal, sekitar 3 bulan. Pak Ikhsan berkunjung ke SDN Bentul, salah satu sekolah binaan MBE.
Melihat keadaan sekolah dan guru-guru disana, secara langsung dia menyatakan ingin sekali sekolahnya seperti SDN Bentul, dan sangat mengharapkan mendapat bantuan dari MBE juga. "Bagaimana cara saya untuk mendapatkan bantuan dari MBE ?", begitu yang dia tanyakan. "Saya ingin guru-guru di sekolah saya seperti di sini". Perlu diketahui bahwa guru-guru dan Kepala Sekolah SDN Bentul memang patut diteladani.
Semangat yang luar biasa tinggi untuk memajukan sekolah patut mendapat acungan jempol. Bapak Sukur Iskandar selaku Kepala Sekolah tidak menempatkan dirinya sebagai atasan, tetapi Beliau berusaha duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan semua guru dan karyawannya, berlaku sebagai rekan dan bersama-sama memajukan sekolah. Lain halnya dengan SMP Negeri 3 Kebasen, pasca Pelatihan Sekolah dan Masyarakat, peran komite terlihat lebih meningkat.
Komite merasa tergugah dan lebih paham bagaimana seharusnya posisinya di sekolah. Beberapa hari pasca pelatihan, komite merealisasi- kan program-programnya. Menurut pengakuan Kepala Sekolah, kerja Komite kini semakin baik. Program-program yang sudah terealisasi antara lain pembuatan sumur bor, karena SMP Negeri 3 Kebasen memang kesulitan air. Sumur bor sebagai sumber air yang baru ini diharapkan akan sangat membantu penyediaan air bersih di sekolah.
Pada halaman depan sekolah tampak juga material yang akan digunakan untuk pembuatan talud, saluran air, sepanjang jalan menuju sekolah yang selama ini cukup merepotkan terutama apabila musim penghujan. Di samping itu juga sudah dipersiapkan pembuatan jalan alternatif menuju sekolah. Tanah milik warga yang dulunya tidak boleh diganggu, sekarang sudah mulai dipersiapkan untuk dibuat jalan masuk. Harapan kita semua hal-hal semacam ini akan terus berkembang dan dengan demikian pendidikan di daerah akan dengan mudah kita lihat kemajuannya.
Ayo, bergerak bersama demi kemajuan pendidikan kita.
|