|
Pakem Memang Oke
Kun Widayati Zulaikha, Guru Bahasa Inggris SMP 1 Pacitan (foto di bawah), menulis sebagai berikut kepada Suara MBE.
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM) cocok sekali untuk mata pelajaran-mata pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa seperti bahasa Inggris misalnya. Simpati siswa terhadap mata pelajaran bahasa Inggris sangatlah berdampak positif terhadap timbulnya minat mempelajari lebih jauh
Menciptakan situasi yang menyenangkan dalam pembelajaran sangatlah menuntut kreativitas seorang guru karena disitu sekaligus guru sudah memikirkan kreativitas kegiatan macam apa yang diharapkan dari siswa. Sampai saat ini di SMP 1 Pacitan dengan kondisi yang lebih baik saya harus senantiasa berupaya agar bahasa Inggris menjadi pelajaran yang ditunggu dan bermanfaat sekarang maupun esok.
Dengan PAKEM/CTL seorang guru lebih leluasa menuangkan ide-idenya dalam sebuah pembelajaran yang menarik dan penuh tantangan. Seringkali siswa saya berkata jurus apa lagi yang akan saya tampilkan. Pada mulanya saya khawatir tentang efektivitas waktu maupun tujuan mengingat saya sering kali meninggalkan kelas karena macam-macam tugas lain.
Namun hal itu mudah diatasi jika siswa sudah terbiasa belajar dengan baik, komunikasi terjalin akrab dengan siswa melalui cara belajar yang menyenangkan di kelas. Menghukum siswa dengan tidak memperhatikan sisi siswa dan tidak ada unsur mendidik sangat saya hindari karena akan merugikan siswa, guru mata pelajarannya. Sangat saya perhitungkan bahwa siswa belajar itu bermakna tidak lepas-lepas dan sia-sia. Sebisa-bisanya tidak merendahkan siswa dari segi apapun: kondisi sosial, ekonomi, kecerdasan dsb.
Saya akui jika siswa tidak bisa berarti saya yang belum menemukan cara yang baik untuknya. Dengan begitu siswa sering kali mengungkapkan baik langsung maupun tidak langsung ada perasaaan senang belajar dengan saya bahkan ada yang merasa sangat ingin diajar lagi ditingkat berikutnya. Adapula yang sampai luluspun keinginan diajar tidak kesampaian kecuali pada saat-saat pengayaan atau kursus.
Pelajaran Tematik di Kelas 1
Dalam rangka Kurikulum Berbasis Kompetensi, guru-guru kelas awal (kelas 1 dan 2) dianjurkan mengajar secara tematik dengan tidak membedakan antara mata pelajaran. Ini berarti siswa mengerjakan satu tema selama beberapa hari. Dalam rangka tema tersebut mereka dapat mengerjakan berbagai jenis kegiatan termasuk misalnya Bahasa Indonesia (diskusi, membaca, menulis), menggambar, IPA, Matematika dan Pelajaran Sosial. Ini akan lebih bermakna dan lebih menarik bagi siswa, kalau temanya cukup menarik. Beberapa contoh jaringan tema yang telah dikembangkan oleh Ibu Mariaulfah, guru kelas 1 di SD Kebon Dalam di Mojokerto dan Pelatih Nasional MBE dimanfaatkan dalam pelatihan.
Ada catatan dari kami: Tidak semua kegiatan kelas awal dapat dilaksanakan secara tematik. Beberapa kegiatan seperti berhitung, membaca dan tulisan tangan tetap perlu diajarkan secara sistematis dan teratur.
|
Organisasi Siswa (OSIS) di SMPN I Banyuwangi
Program MBE yang dilaksanakan di Kabupaten Banyuwangi, tidak hanya menyentuh proses belajar mengajar semata, tetapi juga memberi dampak yang cukup luas, salah satunya adalah pada penciptaan manusia yang kreatif. Hal ini ditunjukkan dalam wawancara antara ketua OSIS SMP I Banyuwangi yaitu Rosalia. Sebagai seorang perempuan ia bangga dapat menempati posisi ketua OSIS yang biasa ditempati siswa laki-laki, walaupun dalam melaksanakan tugasnya tidak sedikit tantangan yang dihadapi.
Sebagai contoh, bagaimana membagi waktu antara tugas dan kewajiban sebagai siswa. Karena tuntutan tugas, seringkali ia harus meninggalkan jam pelajaran sehingga untuk mengejar ketertinggalan ini perlu inisiatif dari diri sendiri untuk mencari informasi yang diperlukan. Menurut Rosalia dengan pelajaran model sekarang siswa merasa lebih tertantang, sebab dengan model pembelajaran seperti ini siswa lebih aktif dari guru dalam berdiskusi. Jika siswa tidak mampu memecahkan masalah dengan teman diskusi maka bertanya pada teman yang lainnya. Jika masih menemukan jalan buntu baru bertanya pada guru. Dengan model pembelajaran ini siswa merasa bangga sebab hasil karya mereka yang terbaik dipajang. Dan itu sangat memotivasi siswa dalam berkreasi.
|
Ibu Endri (kiri), koordinator MBE di kabupaten Blitar duduk berwawancara dengan Rosalia ketua OSIS di SMP 1 Banyuwangi
|
|
Selama menjadi ketua, kegiatan osis yang telah dilaksanakan adalah:
- Pemilihan putri Kartini
Pemilihan putra-putri SMPN I Banyuwangi, pialanya dari kepala sekolah sebagai piala bergilir.
Maulid Nabi Muhammad ( Lomba telur hias).Telur tersebut diarak keliling kota banyuwangi.
- Lomba band antar kelas
Lomba yang lain lomba basket, voli pakai karung, masukkan kartu pakai pinggang, kipas balon, dan masih banyak lagi.
Kegiatan yang belum terlaksana sampai saat ini adalah pelatihan/diklat jurnalistik karena terbentur dana dan waktu. Diharapkan dengan adanya pelatihan, hasil akhirnya adalah akan ada buletin sekolah secara bersama. Karena selama ini yang ada baru dokumentasi yang ditempelkan ditembok.
|
MBE Mulai Menular.. (dari hal. 1)
MBE sudah mulai menular ke lebih dari 900 sekolah di luar sekolah binaan. Di Kabupaten Pati 88 sekolah di kecamatan binaan dan 20 sekolah di masing-masing 17 kecamatan lainnya telah dilatih selama tiga hari. Di Kabupaten Banyuwangi semua sekolah (140 sekolah) di kecamatan binaan telah dilatih. Di Probolinggo kurang-lebih 45 sekolah di tiga kecamatan MBE telah dilatih dan lebih dari 200 sekolah di kecamatan lainnya - dalam hal ini bekerja sama dengan program CLCC. Di Probolinggo bahkan 4 pondok pesantren terbesar telah dilatih dalam MBS dan PAKEM. Di Kabupaten Batang 80 sekolah di 8 kecamatan telah dilatih dan di Pacitan 37 sekolah di kecamatan binaan dan 12 sekolah di dua kecamatan lainnya juga sudah dilatih.
|