Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Dari Banyuwangi

SD Jajag 2 Maju dalam Banyak Unsur

Bersamaan dengan naiknya prestasi SDN 2 Jajag, Kecamatan Gambiran sejak ada MBE, meningkat pulalah permintaan masyarakat agar anaknya dapat diterima di sini. Berhubung terbatasnya ruang yang ada, maka ruang pertemuan / aula yang selama ini hanya digunakan tidak rutin dirubah menjadi RKB, paguyuban kelas bertekad untuk mengisi ruang dengan membelikan meja kursi baru pada tahap awal telah dibelikan 10 pasang meja kursi yang akan melengkapi sarana yang telah ada.

Ka-Cab Dinas Pendidikan Kec. Gambiran

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Gambiran dengan Kepala Sekolah SD Jajag 2 menunjukkan meja dan kursi yang dibuat Paguyuban Kelas

Kekurangan ini dapat dimengerti oleh orang tua murid, karena mereka sekarang dapat melihat RAPBS yang dipajangkan (kiri) untuk sementara di ruang Kepsek. PSM meningkat karena rasa memiliki sekolah muncul dan demi kenyamanan belajar anak mereka sendiri.

SD Jajag 2 tidak hanya maju dalam peran serta masyarakat, tetapi juga dalam KBM. Ada contoh di bawah ini: Anak kelas 6b telah membuat percakapan dan diberi umpan balik dari temannya. Teknik mengajar ini sangat bermanfaat. Kalau anak sudah menulis sesuatu (laporan, cerita, percakapan) sebaiknya diberikan kepada temannya untuk dikomentari. Ada manfaat untuk kedua-duanya dalam proses tersebut.

Siswi Mendampingi Tamu

Siswi yang mendampingi Tamu Pada saat berkunjung ke SMPN 1 Banyuwangi kami berkeliling sekolah, dan didampingi berkeliling sekolah oleh dua siswi, namanya, Neza dan Rosa (kiri) yang menjelaskan segala kegiatan sekolah dan menjawab pertanyaan kami. Informasinya sangat menarik dan lengkap. Inilah hal yang sangat penting untuk mengembangkan rasa percaya diri dan tanggung jawab para siswa dan siswi!

Buah Bobot Poin Perilaku Negatif

SDN Penganjuran IV Banyuwangi memiliki siswa sebanyak 700 orang anak, 27 kelas rombongan. Kelas 6 C yang diasuh oleh Ibu Barorotin para siswanya sangat disiplin, saling menyayangi sesama teman, kreativitas siswa mengisi majalah dinding makin bersaing, proses belajar mengajar pada setiap harinya berlangsung dengan tertib tanpa ada gangguan dari siswa yang berperilaku iseng atau sengaja mengganggu, sudut baca yang berisi buku pelajaran dan buku bacaan berfungsi dengan baik.

Ibu Barorotin dan Siswa Kls 6c

Ibu Barorotin dan anak kelas 6c di SD Penganjuran IV, Banyuwangi

Hal ini terlihat setiap buku yang ada tak satupun belum dibaca oleh siswa. Hal yang demikian itu dapat terjadi karena adanya "Bobot Poin Perilaku Negatif" yang disusun oleh siswa bersama guru. Siswa bersama guru mengidentifikasi jenis-jenis pelanggaran yang biasa dilakukan oleh siswa. Dari pendapat siswa tersebut dirumuskan ada 36 jenis pelanggaran. Setiap jenis pelanggaran diberikan bobot poin berbeda bergantung berat ringannya pelanggaran.

Bobot poin paling rendah 15 dan paling tinggi 100 poin. Setelah bobot poin disepakati, disusun pula kriteria pelanggaran yang telah mencapai berapa bobot poin akan diberi sangsi, misalnya:

  1. Jika terkumpul 150, sanksinya membawa 2 buku bacaan

  2. Jika terkumpul 200, sanksinya membawa 1 buku bacaan dan piket 3 hari

  3. Jika terkumpul 250, sanksinya membawa 1 buku bacaan dan piket 5 hari

  4. ....dst

Apabila setiap guru mempunyai kreativitas seperti Ibu Barorotin, siswa dapat tertib tanpa melalui penekanan dari pihak manapun dan hubungan antara siswa dengan guru dapat terjalin dengan akrab.

Selain di kelas 6 anak di kelas 3a juga belajar PPKn dengan cara aktif. Di banyak kelas pelajaran PPKn bersifat indoktrinasi. Di kelas 3 ini anak diminta menemukan dan menulis perilaku yang baik dan tidak baik. Hasil mereka merupakan pemikiran siswa sendiri.

SDN 04 Penganjuran Berbenah Lagi

Karena jumlah murid yang sangat banyak di SD 04 Penganjuran, sampai lebih dari 55 murid per kelas, maka terasa bahwa suasana terlalu padat dan tidak nyaman bagi KBM. Oleh karena itu dipikirkan untuk membuat pengaturan ulang dan penambahan ruang kelas. Dengan mendayagunakan bangunan bagian atas yang selama ini dipakai sebagai ruang rapat, keinginan tersebut dapat terlaksana.

Hal yang menjadi kendala adalah ruang baru belum mempunyai gordyn/kain penutup jendela, lemari dan meja serta kursi untuk murid, misal kelas VI B, ibu Barorotin sebagai wali kelas melalui paguyuban kelas menyampaikan masalah ini dan menghimbau orang tua murid untuk bersedia membantu untuk mengisi kekurangan tersebut. Respon orang tua di luar dugaan.

Paguyuban kelas membantu mengumpulkan uang untuk membelikan lemari, meja kursi ada, dan ada yang membeli dan menjahitkan kain gordyn. Pada saat dikunjungi gordyn kelas ini warnanya berbeda dengan kelas lain, karena Paguyuban mengingin-
kan warna lain, demikian pula dengan almarinya.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID