Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

          

Kutipan dari Buletin MBE
Kabupaten Pacitan

Pak Tentara dan Bu Bidan Sebagai Nara Sumber di SD Tulakan III

Terletak jauh dari pusat kota. Untuk sampai di SD Tulakan III harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari kota Pacitan. Dengan rute berbelok dan naik turun gunung. Sekolah yang sudah berumur 21 tahun ini gedungnya nampak sederhana, namun terasa sejuk karena dikelilingi pepohonan yang tumbuh subur.

Dengan tenaga pengajar 8 orang dan peserta didik 93 siswa, semenjak mengikuti pelatihan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenang-
kan), 7 bulan yang lalu, SD ini terus memacu semangat dan tekad. Untuk mengoptimalkan pembelajaran yang tidak lagi ceramah saja. Tetapi belajar aktif (aktive learning) dan mengaktifkan siswa.

Berbagai upaya dilakukan oleh semua unsur lembaga. Kepala Sekolah Triono,S.Pd selalu menyemangati dan memotivasi guru-guru. Paling tidak setiap dua minggu sekali dalam rapat koordinasi dan evaluasi. Pimpinan yang selalu tampil kalem ini menekankan kepada mitra kerja di sekolahnya.

Para guru selalu diingatkan betapa pentingnya persiapan bagi seorang pendidik sebagai manajer kelas. Ia bertanggung jawab terhadap materi yang disampaikan dapat diserap oleh siswa. Dalam upaya memberikan bekal yang lebih spesifik dan relevan dengan materi yang diajarkan, guru di SD ini tidak jarang menghadirkan narasumber lintas profesi.

Ibu Sri Widayati Suatu sore, ketika sedang santai di rumah, Bu Sri didatangi beberapa anak. Setelah diamati ternyata mereka adalah siswa kelas VI SD Tulakan III. Sri Widayati nama lengkapnya, menduga anak-anak tersebut mendapat tugas dari sekolahnya. Ternyata benar setelah salah satu dari mereka menyampaikan maksud dan tujuan kunjungannya, beliau sudah paham apa yang mesti diakukan. Sewaktu pertemuan rapat komite beberapa bulan yang lalu, Kepala Sekolah menyampaikan tentang peran komite potensial yang bisa menjadi nara sumber (sumber belajar) bagi siswa.

Toh ini bukan yang pertama kali dilakukan, sebelumnya beliau juga pernah diundang ke sekolah sebagai nara sumber. Anak-anak secara bergiliran bertanya tentang penyakit ISPA dengan pertanyaan yang telah disiapkan secara kelompok.. Seperti layaknya seorang guru bu Bidan disalah satu puskesmas di Tulakan itu dengan sabar dan telaten menjelaskan kepada siswa. Ketika dikonfirmasikan pada guru yang memberi tugas, beliau mengatakan, tugas itu diawali dengan mengelompokkan siswa, anak membuat daftar pertanyaan secara individu, kemudian disempurnakan pada diskusi kelompok untuk melengkapi pertanyaan sebagai bahan dan panduan interview.

Menurut Sediono, guru kelas VI , pembelajaran yang demikian bertujuan membiasakan anak mengidentifikasi pertanyaan sesuai materi yang biasa dijumpai oleh anak dilingkungannya. Selain itu akan membuat anak berani menyampaikan gagasan dan bersikap kritis.

Bpk. Joko Utomo Dalam kesempatan yang lain, SD Tulakan III juga pernah mengundang Pak Joko ke sekolah, wali murid yang kebetulan seorang anggota Koramil setempat itu diminta memberikan penjelasan pada anak-anak tentang Hankam. Bahkan selain dua narasumber di atas, pernah juga mengundang Pak RT, ketika pelajaran IPS, menyampaikan permasalahan-permasalahan sosial di lingkungannya. Bukankah ini menarik..!!??

Yang disebutkan diatas baru salah satu sumber belajar dan metode pembelajaran agar anak belajar tidak terpisah dengan hal-hal yang dialami di masyarakat nyata. Ternyata anak-anak sangat menyukai dengan varian pembelajaran seperti ini (Learning should be fun) dan wali murid pun tidak keberatan, bahkan merasa senang. Apakah dengan model seperti itu efektifitas waktu dan target kurikulum bisa tercapai?

Guru-guru optimis bisa, pagi proses dan sorenya driill. Untuk mengatasi ketercapaian beban tersebut, menurut Sujarno yang juga fasilitator MBE ini, sudah dilakukan pemanfaatan waktu dengan menyelenggarakan les. Soal-soal drill diberikan untuk menghadapi TPB (Tes Prestasi Belajar), UAS (Ujian Akir Sekolah) dan sejenisnya. Dengan demikian diharapkan baik proses yang mengedepankan penalaran dengan soal-soal terbuka maupun terbimbing bisa berjalan, dan prestasi anak dalam event yang masih ada tersebut, bisa dioptimalkan sebelum semuanya tertata, baik sistem maupun pratek -praktek disekolah sesuai dengan Kurikulum berbasis Kompetensi. (Hd)


PAKEM: Petani Tulungrejo Menjadi Mitra Guru

Pembelajaran dengan memanfaatkan ahli/pakar secara langsung telah dilakukan di SDN Tulungrejo 04, Bumiaji, Kota Batu. Model yang dikembangkan oleh Ibu Prihastutik adalah menjalin kemitraan dengan petani dalam mengelola pembe-lajaran tentang perkembangbiakan tumbuhan secara vegetatif di Kelas VI.

Para petani, yang terdiri dari petani apel, strawberi, kentang, bawang merah, dan jamur, terlibat langsung sebagai "guru". Jadi selain ikut mengajar, para petani juga ikut memberi penilaian. Tenyata dengan model ini siswa belajar sangat antusias dan penuh semangat. Mereka dapat mencapai kompetesi baik dari aspek pemahaman konsep maupun kerja ilmiah.

Berikut adalah komentar para petani: "ini adalah pengalaman pertama menjadi guru", "kami sangat senang", "Setiap saat anak boleh datang ke sini", "apakah saya memberi nilai terlalu pelit?".

Tentu yang paling berbahagia atas keberhasilan dari pembelajaran ini adalah Ibu Prihastutik. Karena model pembelajar-an ini telah mengantar -
kan Ibu Tutik menjadi Juara III Lomba KREATIVITAS SAINS DAN MATEMATIK Tingkat Jawa Timur. Selamat ..! Siapa lagi yang akan menyusul untuk menjadi guru yang kreatif ??

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID