Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Pameran MBE di Konferensi Nasional PDPP - PERFORM

Pada tanggal 6 - 8 Desember di Hotel Sanur Paradise, Sanur, Bali, MBE Project mengikuti Konferensi Nasional PDPP - PERFORM. Dalam kesempatan ini MBE mendapat kesempatan untuk memamerkan kegiatannya di stand MBE melalui poster, brosur dan bulletin Suara MBE.

Banyak pengunjung yang mendatangi stand MBE, dan yang menarik bahwa mereka tidak hanya datang dan mengambil brosur tetapi juga menanyakan tentang kegiatan MBE dan bagaimana mereka (PEMDA lain) dapat ikut serta dalam proyek ini. Dewi, Anwar, Eddy Budiono, dan Prima Setiawan yang bergantian menjaga stand, dengan sabar melayani berbagai macam pertanyaan yang diajukan pengunjung (photo terlampir).

Dari berbagai pertanyaan, komentar dan masukan dari pengunjung, ditarik kesimpulan :

  • Banyak Pemda lain (Sumbar, Sulsel, Kab.Timika, termasuk Jateng dan Jatim) berkeinginan untuk memperoleh bantuan teknis di bidang pendidikan.

  • Banyak pihak di luar pendidikan yang tertarik (Asosiasi Pemda dan DPRD).

MBE Bekerja Sama dengan IAPBE AusAID

IAPBE (Indonesia-Australia Partnership in Basic Education) AusAID menyelenggarakan Lokakarya Pemetaan Sekolah di Surabaya pada tanggal 1-4 Desember 2004. Lokakarya diikuti oleh para pejabat pemerintah daerah dari tiga kabupaten di Jawa Timur yang menjadi mitra kerja IAPBE, yakni Gresik, Jombang dan Jember.

Tujuan utama lokakarya tersebut adalah untuk membangun kepedulian dan komitmen pemerintah daerah mengenai arti pentingnya pendataan dan pemetaan sekolah yang andal dan dapat dijadikan acuan dalam menyusun perencanaan dan pelaksanaan program pendidikan di daerah masing-masing.

Meskipun di daerah yang berbeda, apa yang dikerjakan IAPBE pada prinsipnya sama dengan yang sudah dan sedang dilaksanakan MBE. Sebagai wujud rasa kebersamaan dan keinginan untuk saling tukar menukar pengalaman, IAPBE mengundang konsultan MBE, Neneng Widiastuti dan Toto Purwanto untuk menyajikan pengalaman daerah-daerah mitra MBE dalam melaksanakan pendataan dan pemetaan sekolah, termasuk manfaat yang diperoleh dari hasil pemetaan. Para peserta lokakarya dapat mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut dan bersama dengan pemerintah daerah mitra kerjanya, diharapkan IAPBE berhasil dalam keikutsertaannya memajukan dunia pendidikan di tanah air.

Studi Banding IAPBE di Banyuwangi

Pada tanggal 29 Desember 2004 Indonesia Australia Partnership in Basic Education (IAPBE) Kabupaten Jember melaksanakan studi banding berkaitan dengan pelaksanaan MBE yang telah berjalan lebih dari satu tahun di Kabupaten Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi sedang berdiskusi

Bupati Banyuwangi Ir. H. Samsul Hadi sedang berdiskusi dengan DPRD, Dewan Pendidikan dan Konsultan tentang peningkatan mutu pendidikan.

Tim IAPBE Kabupaten Jember yang terdiri dari DPRD, Dewan Pendidikan, Dinas Pendidikan, Departemen Agama, Bappeda, dan Bagian Keuangan di dampingi konsultannya berdialog dan berdiskusi dengan pihak terkait MBE di kabupaten.

Pertemuan yang penuh keakraban ini juga dihadiri oleh Bapak Bupati yang berdiskusi dan berdialog dengan Tim DPRD dan Dewan Pendidikan. Kegiatan yang ber-langsung di pendopo kabupaten ini dilanjutkan dengan kunjungan sekolah yaitu ke SDN 4 Penganjuran dan SMPN 1 Banyuwangi.

Two New Boys!

Bpk. Bob Cannon dan Bpk. Toto Purwanto

Dua konsultan yang baru diangkat untuk membantu program MBE adalah Bpk Bob Cannon, seorang Professor dari Australia, yang sudah sering bekerja di Indonesia, serta Bapak Toto Purwanto, yang sebelumnya bekerja untuk memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program JPS (Jaringan Pengaman Sosial) dalam Bidang Pendidikan, yang dilaksanakan untuk mengatasi ‘krismon’ pada tahun 1998. Di bawah ini adalah kesan Pak Bob tentang program MBE.

MBE - Kesan-kesan pertama mengenai
MBE


Kesan-kesan pertama mengenai MBE mencakup 3 hal:

Komitmen dan rasa ikut memiliki: Profesionalis
me, komitmen dan semangat untuk mengadakan perubahan pendidikan terlihat jelas di mana-mana. Komitmen ditunjukkan oleh pejabat Dinas, kepala sekolah dan guru-guru, para konsultan dan staf sekretariat MBE. Selain itu, nampak sekali adanya rasa ikut memiliki di daerah dalam proses pelaksanaan program.

Pencapaian: Tingkat komitmen profesional yang tinggi tercermin dari hasil pencapaian program yang terlihat, terutama dalam implementasi MBS dan PAKEM. Pencapaian program MBE yang lain adalah semangat berpartisipasi yang merata dari berbagai stakeholder: orang tua murid, tokoh masyarakat, dan staf dan pengelola pendidikan – dalam proses perubahan dan pengembangan pendidikan.

Kegairahan: Terakhir, kesan yang sangat kuat adalah hampir semua orang yang saya temui, sangat menyukai apa yang mereka kerjakan. Ini tercermin, terutama, dari respon yang hangat dari para siswa terhadap perubahan yang sudah terjadi di kelas mereka sejak pengenalan PAKEM. Sebagai simpulan, ada keluhan? Hanya satu, yakni bahwa saya tidak berkesempatan untuk ikut bergabung dengan proyek ini lebih awal!

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID