Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

PEMETAAN DAN PERENCANAAN

Pelatihan Analisis Data Pemetaan Sekolah

Tanggal 22-24 Februari 2005 bertempat di Yogyakarta diselenggarakan pelatihan Analisis Data Pemetaan Sekolah untuk daerah tahap kedua (Kab. Kebumen, Kota Madiun, Kab. Blitar, Kab. Banyumas, dan Kota Batu). Peserta pelatihan terdiri dari Dinas Pendidikan (Pengawas dan Kantor Cabang Dinas), Bagian Keuangan, Departemen Agama, Bappeda, DPRD, Dewan Pendidikan, dan LSM. Tujuan dari diadakannya pelatihan analisis ini adalah agar daerah tahap kedua mampu melakukan analisis kebutuhan program peningkatan pendidikan untuk mendukung proses perencanaan program pendidikan berdasarkan data pemetaan.

Peserta pelatihan sedang berlatih mengisi format pemetaan dan menyaksikan hasil kerja rekan daerah yang lainnya

Pada tanggal 25 Februari di tempat yang sama juga berlangsung pertemuan dengan tema yang sama tetapi untuk daerah tahap pertama (Kab. Banyuwangi, Kab. Probolinggo, Kab. Pati dan Kab. Pacitan). Tujuan dari pertemuan tersebut adalah untuk menyusun rencana tindak lanjut mengenai program pemetaan MBE yang sesuai dengan program daerah. Pada kedua acara tersebut hadir para konsultan Program MBE termasuk Koordinator Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Koordinasi Pemetaan Sekolah Di Pacitan

Tim MBE - RTI yang terdiri dari Edi Priyono, Robert Cannon, dan Neneng Widiastuti melaksanakan koordinasi program MBE dengan pejabat Pemerintah Kabupaten Pacitan yaitu pihak legislatif (Komisi B - DPRD) maupun pihak eksekutif (Bappeda dan Dinas Pendidikan)

Tim MBE-RTI & Bappeda

Tim MBE-RTI berdiskusi dengan Bappeda

Koordinasi dilaksanakan pada tanggal 14 s/d 15 Februari 2005 dengan didampingi District Coordinator (DC) yaitu Suhardi.

Tim diterima oleh Bapak Kardoyo (Kepala Bagian Program) dan Bapak Misgiman (Koordinator Pemetaan). Hasil koordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan Kabupaten mengenai tindak lanjut Pemetaan Sekolah diperoleh hasil sebagai berikut:

  • Sudah dilaksanakannya diseminasi pemetaan sekolah di 10 Kecamatan yang bukan binaan MBE, sehingga seluruh Kecamatan sudah melakukan Pemetaan Sekolah;

  • Dinas Pendidikan Kabupaten telah membuat rencana untuk melaksanakan penggabungan sekolah SDN, pendistribusian guru dan pembentukan pembelajaran multi-grade (kelas rangkap).

Bersama-sama dengan Bpk. Kardoyo dan Bpk Misgiman, Tim MBE (termasuk DC) melakukan koordinasi dengan Komisi B DPRD dipimpin ketuanya Bpk. Sujono, dan Bidang Sosbud, Bappeda.

Bidang tersebut adalah komponen Bappeda yang langsung berhubungan dengan perihal Program Pendidikan di Pemerintah Daerah. Di Bappeda, tim diterima oleh Bpk. Sunaryo dan Bpk. Marsimin.

Dinas Pendidikan akan menindaklanjuti hasil pemetaan melalui program efisiensi manajemen pendidikan antara lain penggabungan sekolah dan penerapan sekolah kelas rangkap. Bappeda sangat menghargai dan mendukung program MBE. Komisi B DPRD juga menyambut baik Program MBE dan merencanakan melakukan sosialisasi kepada seluruh anggota DPRD.

Komentar dari MBE tentang multi-grade

Pembentukan sekolah multi-grade sangat penting - terutama di daerah pedesaan di mana jumlah siswa di satu SD cukup kecil. Kalau jumlah siswa di bawah 90 siswa mereka dapat dikelola dalam tiga rombongan belajar - setiap rombongan belajar terdiri dari dua kelas dan cukup 3 guru dan 3 ruang kelas (di bawah 60 atau 50 siswa cukup 2 guru dan dua ruang kelas). Hal ini sudah biasa di sebagian besar negara, dan meningkatkan efisiensi pengelolaan pendidikan dan pemanfaatan sumber daya.

MBE akan menunjang proses ini di Pacitan dan di daerah lainnya yang telah membentuk sekolah multi-grade dengan mengadakan pelatihan untuk guru merangkap kelas. Pelatihan ini akan membantu mereka untuk mengelola KBM untuk dua kelas atau lebih pada saat yang sama. Pada dasarnya ada beberapa cara mengatasi masalah merangkap kelas termasuk:

  • Kelas-kelas membahas tema yang sama untuk semua siswa tetapi hasil yang diharapkan dari setiap kelas mungkin berbeda. Contoh cara ini adalah anak menulis cerita/karangan/puisi dalam Bahasa Indonesia tentang hal yang sama tetapi hasilnya bisa berbeda sesuai kemampuan siswa. Hal seperti ini juga dapat diterapkan dalam pelajaran lainnya termasuk olahraga.

  • Kelas-kelas membahas tema yang berbeda. Salah satu kelas diberi kegiatan yang bersifat latihan dan dapat dikerjakan siswa secara mandiri, sedangkan kelas kedua mengerjakan hal baru bersama guru.

Penggabungan Sekolah di Ajibarang

Bpk Abdurokhman Berdasarkan hasil pemetaan sekolah di kecamatan Ajibarang, Banyumas Kepala Cabang Dinas Pendidikan, Bpk Abdurokhman (foto sebelah kanan) merencanakan untuk menggabung beberapa sekolah yang jumlah muridnya sedikit. Pada tahun kemarin telah digabung 4 sekolah menjadi 2 dan tahun ini akan digabung 4 sekolah lainnya menjadi 2. Pada tahun 2006 s.d. 2009 beliau mempunyai rencana lainnya untuk menggabung semua sekolah yang terletak di lokasi yang sama, sehingga 17 sekolah akan menjadi 8 sekolah. Salah satu contoh sekolah tersebut adalah SD 1 dan 2 Ajibarang Wetan. Jumlah siswa di SD1 sebanyak 299 orang dengan rata-rata 50 orang per kelas, sedangkan di SD2 hanya 147 siswa dengan rata-rata 25 per kelas. Bpk Abdurokhman bermaksud untuk menggabung kedua sekolah untuk meningkatkan efisiensinya. Anak-anak dapat dibagi lebih merata ke kelas sehingga rata-rata di bawah 40 siswa di setiap kelas. Hal ini akan lebih nyaman untuk guru dan siswa.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID