Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Pemetaan dan Perencanaan di Pacitan

Hasil positif pemetaan sekolah dan perencanaan kabupaten telah ditunjukkan oleh Kabupaten Pacitan. Data dari dua kecamatan telah dibukukan dan hasilnya digunakan untuk rencana penggabungan sekolah dan pengembangan sekolah-sekolah kelas rangkap. Hasil tersebut terungkap pada saat kunjungan koordinasi yang dilakukan oleh konsultan MBE Edi Priyono, Neneng Widiastuti dan Bob Cannon pada tanggal 14-15 Februari 2005.

Sebagai contoh, 22 sekolah telah diidentifikasi untuk digabung dan 39 sekolah akan menerapkan kelas rangkap. Ada permintaan khusus modul tentang kelas rangkap untuk membantu fasilitator, kepala sekolah dan guru. Konsultan MBE mulai menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk memenuhi permintaan tersebut.

Dua pasang sekolah yang akan digabung di Pacitan dikunjungi oleh konsultan MBE yang dipandu oleh Bapak Kardoyo, Kepala Bagian Program Dinas Pendidikan.

Bapak Suyatno, S.Pd dan Ibu Senting Setyowati, S.Pd

Kepala Sekolah SDN2 Arjowinangun (Bapak Suyatno, S.Pd) dan SDN1 Arjowinangun (Ibu Senting Setyowati, S.Pd). Kedua sekolah ini akan segera digabung menjadi satu sekolah.

Pasangan pertama terdiri dari SDN 1 Tanjungsari dan SDN 2 Tanjungsari yang jarak antara keduanya satu kilometer. SDN 1 mempunyai 25 siswa dan tujuh guru dengan jumlah siswa di setiap kelasnya hanya 2-3 anak. SDN 2 mem-punyai 229 siswa dan 13 guru dan telah menunjukkan tanda-tanda penerapan awal PAKEM.

Pasangan kedua terdiri dari SDN 1 Aryowinangun (139 siswa dan 13 guru) dan SDN2 Aryowinangun (180 siswa dan 12 guru), keduanya berada dalam satu halaman dan berjarak hanya beberapa meter saja. Di dua pasangan sekolah tersebut terjadi duplikasi penggunaan fasilitas, guru dan karyawan.

Ini merupakan pemborosan dalam sistem pendidikan di kabupaten. Pelajaran yang jelas-jelas bisa diambil dari pemetaan dan perencanaan adalah bahwa kabupaten dapat memanfaatkan sumber-sumber secara maksimal jika data yang akurat telah dikumpulkan dan dianalisis. Tantangan perencanaan tidak hanya mencari sumber-sumber baru untuk pendidikan, tetapi juga memanfaatkan secara lebih baik dan efisien sumber-sumber yang tersedia.

Kita mengetahui dimana letak pemborosan dan rencana penggabungan sekolah di Pacitan merupakan contoh strategi yang sangat baik untuk mengidentifkasi pemborosan tersebut. Terserah kita, apakah akan terus mengidentifikasikan pemborosan sumber-sumber berharga dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya apa yang kita punya demi peningkatan kualitas pendidikan anak-anak kita.

Kepemimpinan dan Peranserta Masyarakat di Kebumen dan Banyumas

Peranserta masyarakat dalam mendukung sekolah-sekolah cukup kuat di Kabupaten Kebumen dan Banyumas, Jawa Tengah. Ketika berkeliling ke sekolah-sekolah, para konsultan menemukan bahwa masyarakat setempat mempunyai peran yang sangat aktif dalam mengelola dan mendukung sekolahnya. Masyarakat menyadari bahwa sekarang mereka memiliki peran kepemimpinan yang penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak mereka.

Komite sekolah SDN Patemon

Komite sekolah SDN Patemon, Kebumen mengerjakan keuangan sekolah.

Sebagai contoh, SMPN 3 Gombong (Kebumen) yang berada di masyarakat pedesaan yang sederhana menerima dukungan langsung dari masyarakat dalam bentuk pengadaan komputer (lihat gambar di bawah). Anak-anak bersemangat dan bersukacita memperoleh kesempatan belajar secara langsung alat komunikasi yang modern dan penting.

SMPN 3 Gombong

Sekolah-sekolah di Kebumen beruntung memperoleh dukungan kuat dari pemerintah daerah, ter-utama dari Bapak H. Budi Otomo, SH yang saat itu menjabat Kepala Dinas (sekarang Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi), dan Ibu Purnowati SP, staf Bidang Sosial Bappeda.

Keduanya aktif terlibat dalam pemetaan sekolah dan perencanaan. Dengan menyertai konsultan Bob Cannon dan Anton Timur Jaelani selama kunjungan ke sekolah-sekolah pada tanggal 16 Februari 2005, kedua pejabat tersebut telah menunjukkan kepemimpinan dan kepeduliannya kepada sekolah-sekolah.

(Dari kiri ke kanan) Ibu Punowati, Bapak H. Budi Otomo, Drs Kasman (Kepala Sekolah), Bapak Anton (Koordinator MBE di Kebumen) dan Drs Wuryanto (Kabid Dikmen) memantau pekerjaan renovasi sekolah SMPN3 Gombong, Kebumen.

Di Banyumas, beberapa sekolah menunjukkan peranserta masyarakat yang kuat dalam kegiatan-kegiatan sekolah. SDN Bentul di Kabupaten Banyumas bahkan menyediakan ruangan untuk komite sekolah. Sekolah ini merupakan contoh yang baik mengenai apa yang bisa dicapai melalui lingkungan kerja yang bersih dan menyenangkan bagi siswa, guru dan karyawan.

SMPN 3 Ajibarang adalah contoh serupa tentang lingkungan fisik sekolah yang sangat menyenangkan dimana semua kelas ditata berdasarkan prinsip-prinsip PAKEM. Meskipun demikian, kepala sekolahnya, Drs. Wahyudin mengungkapkan kebutuhan para guru untuk memperdalam pemahamannya tentang PAKEM dan kebutuhan akan sosialiasi lebih lanjut mengenai MBS kepada masyarakat setempat.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID