Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

POLA PELATIHAN MBE

Di setiap daerah MBE telah dilatih tim 12 orang fasilitator. Mereka dipilih dari guru, kepala sekolah, pengawas dan pegawai lainnya pemerintah daerah. Tugas mereka adalah untuk melatih sekolah-sekolah, terutama sekolah binaan MBE, untuk menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM), serta meningkatkan Peran Serta Masyakarat (PSM). Mereka dilatih dan sering didampingi dalam tugasnya oleh pelatih nasional, yang sebagian di antaranya terdiri dari fasilitator daerah yang telah berhasil di daerahnya sendiri.

Tim Fasilitator MBE

Tim Fasilitator MBE di Banyumas

Mereka dengan sengaja disebut fasilitator, karena tugas mereka untuk menfasilitasi sekolah-sekolah untuk menerapkan MBS, PAKEM, dan PSM dengan berbagai cara.

Pelatihan Inter-Aktif dan Praktis

Tentu saja ada pelatihan di mana para kepala sekolah, komite sekolah dan guru dilatih bersama-sama di luar sekolah. Tetapi polanya banyak diskusi dan banyak praktik yang langsung membantu peserta pelatihan di sekolahnya.

Komite, Kepala Sekolah, dan Guru SD

Komite, Kepala Sekolah dan Guru SD Gambarsari 2 menyusun program sekolah pada saat pelatihan.

Pemanfaatan Nara Sumber yang berhasil

Di samping ini pelatihan banyak memanfaatkan nara sumber yang sudah menerapkan inovasi. Nara sumber tersebut dipilih dari kepala sekolah, guru maupun anggota masyarakat. Cara ini efektif karena peserta pelatihan dapat mendengarkan dan me-lihat langsung inovasi, serta lebih percaya.

Guru dan Wali murid

Guru dan Wali Murid menjadi nara sumber dalam pelatihan

Pendampingan

Fasilitator daerah juga sewaktu-waktu turun ke sekolah untuk memberikan bantuan langsung kepada guru dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar maupun mendampingi kepala sekolah dan komite sekolah dalam penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah dan RAPBS.

Studi Banding dan Magang

Selain itu sering ada kunjungan ke sekolah yang sudah menerapkan MBS, PAKEM dan PSM dengan baik.

Kunjungan tersebut dapat merupakan studi banding, di mana pengunjung hanya sebentar mengamati kegiatan sekolah, serta berdiskusi dengan pihak sekolah tersebut. Kunjungan juga dapat berbentuk magang di mana guru-guru agak lama duduk di satu kelas (sampai beberapa hari) untuk mencermati lebih mendalam kegiatan sekolah.

Sekolah Binaan Menjadi Tempat Magang

Setelah mendapat pelatihan berkaitan dengan pengembangan profesi guru khususnya tentang PAKEM, sering kali guru-guru sulit menerapkannya di kelas. Ketika contoh-contoh pembelajaran yang diberikan pada saat pelatihan telah tuntas dipraktekkan dikelas mereka cenderung kembali ke pembelajaran yang konvensional. Agar hal tersebut diatas dapat terpecahkan salah satu cara adalah melalui "MAGANG" bagi sekolah binaan dan non binaan MBE untuk mendapatkan ide-ide pembelajaran yang baru.

Sekolah binaan MBE telah beberapa kali menjadi tempat magang. Belum lama ini SDN 4 Penganjuran dan SDN 2 Jajag menerima tamu dari sekolah non binaan yang ingin secara langsung menyaksikan pembelajaran PAKEM yang baik. Dari hasil magang ini banyak peserta menyatakan puas apa yang dilihatnya bahwa dengan PAKEM anak dapat belajar dengan baik, lebih betah diikelas, dan banyak ide kreatif yang dapat dikembangkan di sekolah masing-masing.

Ibu Hj. Siti Rasdiana

Ibu Hj. Siti Rasdiana guru kelas 2A (1.) sedang mengajar siswa siswinya sementara peserta magang mengamati pembelajaran berdiskusi dan berinteraksi dengan guru dan siswa(2.)

Guru Inspiratif Menjadi Nara Sumber

Ibu Subartiti, guru kelas 1 dan Ibu Ulis wali murid kelas 1 di SDN Pandansari Ajibarang, Banyumas (foto sebelah kiri) telah diundang menjadi nara sumber pada pelatihan sekolah binaan MBE di Banyumas. Ceritanya sangat memberi inspirasi kepada peserta pelatihan. Beliau berusaha menggunakan metode mengajar yang lebih menarik dan lebih efektif, serta mengunjungi orang tua untuk memberi motivasi supaya anaknya masuk sekolah. Sejak ada PAKEM mutu pembelajarannya lebih meningkat.

Beliau biasa membawa anak keluar kelas untuk mengamati lingkungan, misalnya dalam rangka belajar sains ataupun untuk ngobrol tentang apa yang dilihat anak. Contoh alat bantu sederhana Beliau sering menggunakan alat bantu sederhana, yang sangat bermanfaat dalam pembelajaran sains dan matematika. Contoh alat bantu ada di foto di sebelah kanan, termasuk gelas plastik, salak kecil, kotak rokok dan lidi. Beberapa waktu terakhir ini Beliau dibantu Ibu Ulis yang sebelumnya hanya mengantar anaknya ke sekolah. Beliau menjadi guru ngintip dan senang dimanfaatkan untuk membantu anak-anak di kelas dan membuat alat bantu.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID