|
Kegiatan Daerah Tahap ke-3 telah mulai
Kegiatan di 11 daerah MBE tahap ke-3 telah dimulai dengan diadakannya Lokakarya Orientasi di Batu pada tgl. 11 s.d. 13 Mei. Para peserta terdiri antara lain atas pihak Bappeda, Dinas Pendidikan, Departemen Agama, Dewan Pendidikan dan DPRD dari setiap daerah. Mereka mendengarkan cerita dari daerah yang telah lama melaksanakan kegiatan MBE tentang pemetaan dan perecanaan, pendanaan pendidikan dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Peran Serta Masyarakat (PSM) dan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM). Pada hari kedua mereka berkunjung ke sekolah MBE di Batu dan Blitar yang sudah menerapkan program MBE dengan baik.
Peserta dari Kota Pasuruan difoto di atas bersama Stuart Weston Direktur Program MBE dan Bpk Asari, Koordinator MBE di Jawa Timur. Foto daerah lainnya ada di halaman belakang.
Program Baru dari USAID
Salah satu prioritas USAID Indonesia untuk lima tahun yang akan datang adalah pengembangan pendidikan dasar. Untuk merealisasikan prioritas tersebut USAID telah mengalokasikan lebih dari US$100 juta untuk menunjang program baru yang namanya ‘Developing Basic Education’ atau DBE. DBE terdiri atas tiga bagian, yaitu DBE 1: Manajemen dan Pemerintahan, DBE 2: Belajar Mengajar, DBE 3: Keterampilan Hidup (Life skills).
Kegiatan DBE 1 dan 2 akan menggunakan pendekatan kurang lebih sama dengan MBE. Program baru ini akan bekerja di 6 propinsi, yaitu: Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat (termasuk Banten), Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Kemungkinan besar teman-teman dari daerah binaan DBE akan bekunjung ke sekolah-sekolah di daerah binaan MBE.
|
Cerita Lain di Dalam: Halaman
|
Kreatifitas di Wonorejo
Pada saat kunjungan ke sekolah binaan dalam rangka Lokakarya Orientasi daerah tahap ke-3 di Batu, MBE kebetulan berkunjung ke salah satu sekolah binaan MBE yang tidak dijadwalkan untuk dikunjungi. Sekolah tersebut adalah SDN1 Wonorerejo, Kecamatan Talun, Blitar (foto di bawah).
Meskipun tanpa pemberitahuan akan dikunjungi, ternyata, anak-anak belajar dengan PAKEM.
Guru-guru memberi kesempatan kepada anak untuk kreatif dalam Matematika. Di kelas 2 anak-anak membuat soal pembagian sendiri.
Febry, yang di foto bersama gurunya, Ibu Surtini (gambar atas-kanan 1), bisa membuat 33 soal.
|
Bandingkan dengan kalau soal diberikan oleh ibu guru, yang biasanya hanya memberi 10 soal saja. Jadi cara ini tiga kali lipat lebih efisien! Di kelas 1, Nafil, yang difoto bersama gurunya Ibu Sringatum, (gambar No. 2) membuat banyak soal penjumlahan yang semua jawabnnya 34.
Guru kelas 3, Ibu Suharti yang difoto di kelasnya bersama kepala sekolah, Ibu Sukaprim, telah menujukkan banyak kreatifitas dan seni dengan membuat kebun di dalam kelas dan pajangan hasil karya anak yang cantik.
SD1 Wonorejo belum mempunyai ruang perpustakaan. Buku-buku diletakkan diluar kelas dan dibaca anak. Dalam gambar di bawah ini terlihat anak-anak membaca buku perpustkaan pada saat perayaan hari Kartini.
|