|
Pembelajaran B. Indonesia di Blitar Beda
Oleh Bapak Slamet Prihatin, S.Pd Fasilitator Bahasa Indonesia
“Ayah, pelajaran Bahasa Indonesia saat ini beda.” Seorang siswa SMPN 1 Wlingi, Blitar mencoba Curhat kepada Ayahnya. Dikatakannya bahwa dalam belajar Bahasa Indonesia dia merasa senang karena sering mendapatkan kesempatan tampil didepan teman – temannya, bahkan tidak jarang tampilan itu dikompetisikan. Gambaran di atas merupakan salah satu bentuk repleksi sederhana seorang siswa setelah belajar Bahasa Indonesia di kelas.
Awal tahun pelajaran 2004-2005 SMPN 1 Wlingi telah menerapkan Kurikulum 2004 yang dinamakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Sebagai Konsekuensinya, dalam proses pembelajaran di-terapkan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL) yang di sekolah Dasar dikenal dengan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM).
Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan CTL/ PAKEM dirasakan berbeda oleh para siswa di bandingkan dengan pembelajaran yang mereka alami sebelumnya. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari beberapa komponen yaitu tujuan, metode, media / sumber, belajar, kegiatan siswa, kegiatan guru, interaksi guru – siswa maupun penilaian yang digunakan.
Hal-hal yang langsung dapat di rasakan oleh siswa adalah sebagai berikut:
|
- Kegiatan Pembelajaran Bahasa Indonesia bukan semata-mata untuk menguasai Pengetahuan Kebahasaan dan Kesastraan, melainkan untuk menguasai kompetensi berbahasa yang meliputi aspek mendengarkan berbicara, membaca, dan menulis.
- Metode yang dipakai guru bervariasi dengan menekankan pada keaktifan siswa. Waktu yang tersedia lebih banyak dipakai untuk kegiatan siswa, bukan untuk ceramah guru.
- Media / sumber belajar yang digunakan tidak terbatas pada buku paket dan nara sumber tunggal guru, tetapi juga buku lain di perpustakaan, pengalaman sendiri/teman, media cetak/elektronik, lingkungan atau nara sumber lain.
- Kegiatan siswa tidak hanya individual – klasikal, tetapi ada juga kegiatan barpasangan dan lebih banyak berkelompok untuk mengembangkan aspek kerja sama, melatih sikap demokratis, terbuka dan toleran.
- Kegiatan guru tidak mendominasi kelas dengan banyak bercerita, tetapi lebih banyak berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk memecahkan masalah dan menemukan sendiri.
|
|
|
- Interaksi guru – siswa tidak hanya berkembang pada dua arah, tetapi bisa multiarah : Guru – siswa, siswa – guru, maupun siswa-siswa.
- Penilaian tidak hanya terfokus pada aspek kognitif yang berasal dari tugas maupun tes / ulangan, tetapi juga pada aspek psikomotor dan afektif yang diambil dari performansi, produk, tes, proyek (tugas) maupun portofolio. Penilai tidak hanya guru, tetapi sesekali siswa diberi kesempatan menilai diri sendiri maupun temannya.
- Refleksi siswa dilakukan tiap akhir tahun pembelajaran untuk mengetahui perasaan – perasaan mereka, apa yang dikuasai dan yang belum dikuasai, kesulitan – kesulitan yang dialami dan harapan-harapan mereka.
|
Perbedaan-perbedaan itu bukan sekedar mencari sesuatu yang lain, tetapi perubahan kearah kemajuan, memuja penyempurnaan pembelajaran Bahasa Indonesia seperti dicanangkan dalam KBK 2004.
Pelatihan PAKEM bagi Pengawas TK/SD dan PPAI Depag Se-kabupaten Blitar.
Tampak antusias sekali Bapak/Ibu Pengawas dalam mengikuti pelatihan PAKEM yang diselenggarakan tanggal 30 juni dan 1 juli 2005. Adapun tujuan pelatihan PAKEM bagi bapak/ibu pengawas ini adalah dalam rangka memberikan bekal bagi pengawas tentang PAKEM . Hal ini sangat penting karena pengawas berperan besar dalam membina guru. Ironis sekali bila guru sudah ber PAKEM sedangkan pengawasnya belum mempunyai gambaran tentang PAKEM.
Dari pelatihan yang diberikan oleh konsultan dan pelatih nasional ini tampak adanya semangat yang tinggi dari bapak ibu pengawas. Mereka ingin tahu bagaimana PAKEM dilaksanakan. Ini terbukti ketika diadakan diskusi peran pengawas terhadap kepala sekolah dan guru, betul–betul asyik sekali. Mereka saling tukar hasil kerja sambil memberikan komentar pekerjaan kelompok lain. Bapak ibu pengwas tidak tahu kalau sebenarnya yang mereka lakukan itu sudah masuk kedalam PAKEM, meski belum seluruhnya.
|
1.: Pengawas TK/SD Dinas Pendidikan
2.: Bapak-Ibu PPAI Departemen Agama
|
|