|
Kotak Hemat Peduli MBS
Hal menarik yang dapat ditemui di SD Sukapura 1 adalah tabungan kelas yang sangat sederhana, berbentuk kotak, bersekat-sekat, berlubang (untuk memasukkan uang), dan bernomor urut sesuai dengan presensi anak kelas IV.
Setiap hari anak secara sukarela menyisihkan sebagian uang jajan hariannya. Kotak tersebut dikunci dan kunci dipegang oleh seorang anak sebagai bendahara kelas. Ketika sekolah dan kelas membutuhkan dana seperti: untuk membeli buku, membuat alat peraga, melengkapi kebutuhan pajangan kelas, diadakan musyawarah untuk mengambil uang dari kotak hemat tersebut.
Kotak hemat ini juga akan mengikuti anak sampai lulus SD dan uang yang tersisa dikembalikan pada anak untuk meneruskan ke SLTP.
Wow!!, betapa menariknya fenomena kotak hemat ini!…. selain dapat melatih anak untuk belajar mengelola uang, melatih bermusyawarah untuk mengambil keputusan, melatih kreativitas anak merinci kebutuhan pendidikannya dan melatih anak mempersiapkan kelanjutan pendidikannya jika telah lulus SD.
Jika satu “kotak hemat” dapat menunjang MBS, berapa kebutuhan sekolah dan kelas yang akan ter-cover dengan kepedulian beribu “kotak hemat”?????......
SLTP Membangun Aula
SLTP Negeri 1 Sukapura membangun aula dengan bantuan masyarakat. Satu unit yang terdiri atas tiga ruang kelas dijadikan aula. Atapnya dibangun lebih tinggi dan bagian luarnya direnovasi. Pembangunan sudah berjalan satu tahun
|
|
Ibu Suprayogiati, guru kelas 1 di SD Sukapura membantu anak menulis tentang kegiatan mereka sehari-hari.
|
|
Contoh hasil karya anak kelas 1
SD Sukapura 1.
|
|
|
Masalah Perencanaan
SLTP Sukapura 2 dibangun pada tahun 1998 dengan dana APBN. Bangunan adalah Tipe C yang terdiri atas sembilan ruang kelas. Sampai saat ini sekolah tersebut hanya terisi 86 siswa meskipun sudah berdiri selama hampir lima tahun. Ada empat rombongan belajar. Kepala sekolah menyatakan bahwa mereka sudah sering turun ke masyarakat untuk mencari tambahan siswa, tetapi meskipun semua siswa masuk tidak mungkin mengisi lebih dari enam ruang kelas.
Selanjutnya beliau menceritakan bahwa anak dari desa lain di daerah pegunungan itu sulit masuk sekolah, oleh karena itu banyak yang tidak melanjutkan ke SLTP. Lebih baik membangun tiga ruang kelas di beberapa desa sebagai sekolah filial supaya guru berjalan menjemput siswa, daripada siswa harus jalan terlalu jauh ke sekolah.
Sebagai berita terakhir kami mendengar sedang dibangun SLTP lagi di desa yang berdekatan – 20 menit jalan kaki. Lebih baik dicek terlebih dulu mengenai kebutuhan sesunguhnya dan berkonsultasi dengan masyarakat, sebelum sekolah dibangun!
|
|