Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Pelaksanaan Pemetaan dan Pendataan

Data Base Pendidikan di Probolinggo
Awal bulan November 2003 Kab. Probolinggo mulai melakukan pendataan tentang kependidikan yang akan disimpan dalam suatu data base tersendiri. Pada tanggal 30 Oktober 2003 Pemda Kab. Probolinggo melakukan sosialisasi pengunaan data base kependidikan ini kepada Dinas Pendidikan. Sosialisasi berlangsung di kantor Pemkab Probolinggo Subbid Sosbud yang dipimpin secara langsung oleh Kepala Subbid Sosbud. Sosialisasi dihadiri oleh Waka Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kepala Cabang Dinas Diknas.

Yang dimasukkan dalam data base adalah data tentang kependidikan di wilayah Kecamatan binaan MBE yaitu Kec. Kraksaan, Kec. Dringu dan Kec. Krucil, kemudian ditambah dengan Kec. Tongas dan Kec. Lumbang. Pemilihan tiga Kecamatan yang pertama didasarkan pada kesepakatan antara pihak Pemkab Probolinggo dengan RTI, sedangkan tambahan dua Kecamatan lainnya merupakan kebijakan pemerintah kabupaten setempat.

Bu Anna Maria (Kasubbid Sosbud) dan staff

Bu Anna Maria (Kasubbid Sosbud ) dan staf sedang memberikan penjelasan dalam acara sosialisasi data base kependidikan di ruang pertemuan Bappeda Kab. Probolinggo


Dalam data base yang disosialisasikan dapat ditampilkan beberapa hal penting tentang pendidikan antara lain:
  • Peta sekolah per Kecamatan
  • Data guru per sekolah atau per kecamatan
  • Data siswa per sekolah atau per kecamatan
  • Kondisi gedung sekolah
  • Jarak antar sekolah terdekat
  • Data buku dan perpustakaan
  • Data keluarga miskin
  • Data keuangan, dan lain sebagainya tergantung kebutuhan data.

Data yang dikumpulkan ini tidak akan dapat berarti apa-apa jika tidak selalu di-up date-kan dan dilakukan analisis yang akurat. RTI dengan proyek MBE-nya memberikan bantuan teknis kepada pemerintah kabupaten dalam melakukan analisis data sebagai dasar pengambilan keputusan pendidikan.

Di Pati, Sejumlah 54 SDN Telah Digabung !
Di Kabupaten Pati, seperti disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kab. Pati, Drs. Supriyadi, pihaknya sangat mendukung pelaksanaan pemetaan sekolah sebagai langkah awal dalam perolehan informasi untuk pengambilan keputusan dalam pengelolaan pendidikan, termasuk dalam melaksanakan kebijakan daerah di bidang pennggabungan sekolah (school merger).

Hingga saat ini, lanjut Drs. Supriyadi, dari hasil pemetaan sekolah sebelumnya, di Kabupaten Pati sejak tahun 2001 telah dilakukan 42 SDN yang telah digabung, dari rencana sebanyak 44 SDN yang akan digabung. Dan pada tahun 2002, dari 14 SDN yang direncanakan digabung, dapat direalisasikan 12 sekolah. Oleh sebab itu, pemetaan sekolah yang dilakukan program MBE merupakan langkah yang sangat strategis dalam implementasi program Pengelolaan Pendidikan Dasar.

Pelaksanaan Pemetaan Sekolah di Kabupaten Pacitan

Rapat persiapan dipimpin oleh Kordinator Tim Pemetaan Kabupaten (Sukatno) telah menghasilkan format pendataan yang bisa digunakan di tingkat sekolah, sekaligus melakukan simulasi pengisian format. Selain itu juga dibahas dan disepakati metode penggalian data sehingga manipulasi data bisa diminimalkan. Metode yang disepakati, mengumpulkan Kepala Sekolah, memberikan penjelasan, membagikan format, melakukan cross check atau monitoring, pengumpulan data, memeriksa data secara sampling, rekapitulasi dan melakukan analisis awal sebelum dilakukan analisis bersama dengan didampingi konsultan MBE.

Rapat Sosialisasi dan Petunjuk Teknis Pengisian Format dilaksanakan di dua kecamatan secara terpisah, dengan harapan masing-masing Cabang Dinas bisa memandu pembahasan secara intensif dan efektif. Pertemuan dilaksanakan tanggal 7 November (Kecamatan Tulakan) dan 9 November 2003 (Kecamatan Pacitan). Dalam rapat ini disampaikan beberapa hal yang merupakan latar belakang dan tujuan pemetaan, selain memberikan petunjuk teknis pengisian format sebagai hasil simulasi Tim Pemetaan. Moment ini juga dimanfaatkan sebagai wahana sosialisasi tentang apa itu MBE, karena sebagian besar peserta belum mengetahui MBE. Pada prinsipnya Kepala Sekolah tidak mengalami kesulitan dalam pelaksanaannya karena hal ini bukan barang baru.

Tim pemetaan 15 orang melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah agar pengisian format tidak salah dan valid serta tidak ada rekayasa, Tim tersebut membagi diri dalam kelompok kecil kemudian melakukan kunjungan kepada kelompok sekolah yang berbeda. Pada tahap ini juga Tim Konsultan Pusat juga melakukan kunjungan ke beberapa sekolah di dua kecamatan untuk memantau sejauh mana kemajuan pendataan ini berjalan. Sesuai dengan kesepakatan bersama, pelaksanaan pendataan membutuhkan waktu 6 hari. Pada tanggal 14 November 2003 semua data sudah terkumpul yaitu di kecamatan Tulakan ada 84 sekolah dan di kecamatan Pacitan 51 sekolah.

Lokakarya Analisis Pemetaan Pendidikan

Lokakarya Analisis Pemetaan Persekolahan telah dilaksanakan pada tgl. 6 s.d. 9 Januari 2004 di Hotel Santika Surabaya. Para peserta adalah tim lima belas pemetaan dari masing-masing kabupaten binaan MBE. Peserta lainnya adalah tiga orang dari setiap kabupaten, yang diwakili oleh unsur LSM, Dewan Pendidikan, dan DPRD Kabupaten dan Dinas Pendidikan Propinsi - supaya mereka lebih mengetahui permasalahan pengelolaan pendidikan. Tujuan lokakarya, antara lain melakukan analisis terhadap segala macam informasi pendidikan pada jenjang pendidikan dasar yang telah dikumpulkan, menganalisis peta kebutuhan dan penyusunan rencana kegiatan, serta rumusan rekomendasi untuk ditindaklanjuti.

Dari hasil analisis peserta telah tersusun rencana untuk optimalisasi fasilitas yang mengakibatkan penggabungan sekolah, pembentukan sekolah kecil (multi grade school), pengalihan fungsi gedung sekolah, pembangunan gedung sekolah baru (SLTP/MTs), analisis kebutuhan dan pendistribusian yang mengakibatkan pertimbangan penempatan guru yang efisien, pemindahan guru, penempatan guru baru (GBS), sertifikasi guru MTs.; analisis fasilitas sekolah untuk membantu pemanfaatan perawatan gedung; dan analisis keuangan sekolah.
Pada saat analisis data, banyak isu timbul seperti:
  • Perlu ada rumus penempatan guru yang baru memperhatikan jumlah siswa tidak hanya jumlah rombongan pelajar;
  • Beban guru perlu diratakan-artinya beban guru agama harus lebih dari 12 jam, mereka dapat merangkap lebih dari satu sekolah;
  • Memberi sertifikasi kepada guru agama untuk merangkap sebagai guru kelas

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID