Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Pemetaan dan Pendataan Sekolah
Data terkini dan terorganisasi dengan baik merupakan salah satu syarat dalam pengelolaan pendidikan. Kumpulan informasi yang tertata dengan baik ini dapat dengan mudah diakses kembali untuk keperluan lain, misalnya untuk penganalisisan kebutuhan alokasi dana yang akan diberikan kepada sekolah atau untuk pengambilan kebijakan yang lain.

Pemetaan dan Pendataan Sekolah telah dilaksanakan di kecamatan binaan di setiap kabupaten. Proses ini dimulai dengan pelatihan pengumpulan data untuk 15 orang dari kabupaten masing-masing. Pelatihan tersebut dilaksanakan pada tgl. 20 s.d. 22 Oktober di Banyuwangi untuk Jawa Timur dan pada tgl. 24 s.d. 26 Oktober di Batang untuk Jawa Tengah.

Peserta pemetaan

Beberapa peserta pelatihan pemetaan sekolah di Batang sedang mengujicobakan pengumpulan data di SD Karanganyar.


Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan November dan Desember dan telah dianalisis pada saat lokakarya di Surabaya pada bulan Januari 2004.

Peserta Lokakarya analisis Analisis

Peserta lokakarya analisis pemetaan memeriksa data pemetaan pendidikan (kiri) Analisis kelibihan-kekurangan guru dan rencana pemindahan guru (kanan)

Hasil analisis akan disertai rencana setiap kecamatan dalam peningkatan efisiensi pendidikan dasar termasuk penggabungan sekolah yang kurang efisien, pembentukan sekolah kecil, dan penempatan guru secara lebih efisien. Hasil tersebut akan didiskusikan dengan unsur di daerah termasuk Bupati dan Bappeda.

Kegiatan pemetaan dilaporkan lebih lengkap pada halaman 2 s.d. 4.

Pelatihan Sekolah dan Masyarakat
Kepala Sekolah, 2 atau 3 anggota Komite Sekolah, dan 1 atau 2 guru dari 20 sekolah binaan di setiap kabupaten telah dilatih pada bulan Desember dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Peran Serta Masyarakat (PSM). Pada pelatihan tersebut juga diperkenalkan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM). Peserta dilatih selama tiga hari oleh 12 orang pelatih kabupaten yang telah dilatih di Probolinggo pada bulan Oktober. Mereka didampingi konsultan dan pelatih tingkat nasional kami.

Kegiatan pelatihan terpusat pada analisis kebutuhan sekolah sendiri serta menemukan ide untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Peserta pelatihan juga mengunjungi beberapa sekolah di setiap daerah pada saat pelatihan untuk mengamati keadaan yang sebenarnya.

Pelatihan akan ditindaklanjuti dengan kegiatan tingkat sekolah termasuk diseminasi hasil pelatihan kepada anggota komite sekolah dan guru lainnya, serta menyusun Rencana Pengembangan Sekolah yang operasional dan terfokus kepada peningkatan mutu pendidikan. Kemudian para guru dan kepala sekolah setiap sekolah akan dilatih dalam PAKEM (yang disebut Pembelajaran Kontesktual di tingkat SMP) pada bulan Februari dan Maret.

Dampak Program MBS di Sekolah
Kepala Sekolah, Komite Sekolah, dan Guru baru dilatih, tetapi sudah beberapa sekolah di setiap daerah yang mulai berubah. Dalam beberapa hal pihak sekolah melakukan studi banding ke sekolah MBS dengan menggunakan biaya sendiri. Perubahan yang paling sering nampak adalah:

  • RAPBS disusun bersama dengan komite sekolah dan dipajangkan;
  • Pengelolaan siswa di kelas berubah menjadi lebih banyak bekerja secara kooperatif;
  • Hasil karya anak dipajangkan di dalam maupun di luar kelas

RAPBS SD Baleharjo
Anak Kelas 6 SD Ploso

Anak kelas 6 di SD Ploso 1 Pacitan sudah melalui bekerja secara koopertaif, dan guru Ibu Sutarmi lebih berperan sebagai fasilitator (kiri) RAPBS SD Baleharjo 1, Pacitan yang dibuat oleh sekolah dan komite bersama-sama dipajangkan di kantor (kanan)

Pengembangan di beberapa sekolah dilaporkan lebih rinci pada halaman 5 s.d. 10.

Program Managing Basic Education (MBE) bertujuan untuk meningkatan manajemen dan mutu pendidikan dasar, dan bekerja saat ini di lima daerah, yaitu: Batang dan Pati (Jawa Tengah), Pacitan, Probolinggo, dan Banyuwangi (Jawa Timur)

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID