Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Rencana Peningkatan Efisiensi Pendidikan
Berdasarkan analisis data pemetaan sekolah, setiap kabupaten telah membuat rencana untuk meningkatkan efisiensi pendidikan dasar di kedua kecamatan binaan MBE. Rencana ini termasuk:

  • Daftar sekolah yang akan digabung
  • Rencana pembentukan sekolah rangkap(multi-grade)
  • Daftar sekolah yang kelebihan guru
  • Daftar sekolah yang kekurangan guru
  • Rencana pemindahan guru
  • Daftar kebutuhan guru baru (per mata pelajaran untuk SLTP)
  • Rencana pembanguan SLTP dan MTs baru
  • Prioritas rehabilitasi gedung sekolah

Contoh Usulan dari Kec. Gringsing,Batang

  • 8 SD digabung menjadi 4 SD
  • Pembentukan 4 sekolah guru rangkap kelas dan 1 sekolah kecil
  • Pemindahan 2 kepala sekolah dan 14 guru yang lebih dari sekolah yang digabung ke sekolah yang jumlah gurunya kurang
  • Pengangkatan 29 guru baru di SD dan 50 guru baru di SLTP
  • Prioritas rehabilitasi untuk 3 lokal yang rusak total dan 40 lokal yang rusak berat (dari total 91 lokal yang rusak berat)


Usulan ini akan dibahas lebih lanjut di setiap kabupaten dan disosialisasikan kepada pengambil keputusan dan stakeholder (Bupati, Bappeda, Dinas Pendidikan, Departemen Agama, Dewan Pendidikan, dan DPRD).

Kami telah menyusun Panduan Pemetaan Sekolah dan Panduan Analisis Data untuk digunakan didaerah lain.

Perubahan Perilaku: Refleksi Analisis Pemetaan
Hari kedua Lokakarya Analisis Pemetaan, konsultan dan District Coordinator melakukan pengamatan dan diskusi dengan beberapa peserta. Hal berikut adalah catatan pentingnya.

  • Kepedulian peserta akan kebutuhan data yang valid dan relevan semakin meningkat. Pelatihan membuka mata peserta bahwa masih banyak kekurangan pada data yang disiapkan;
  • DPRD, Dewan Pendidikan (DP) dan LSM merasa penting mengikuti proses penyusunan rencana pendidikan. Hal ini penting sebab bagi DPRD, mengerti latar belakang serta proses awal akan mempercepat proses penerimaan, diskusi, serta persetujuan usulan dari eksekutif dalam meluluskan kebijakan dan anggaran pendidikan. Sedangkan DP dan LSM akan lebih peduli dalam memberikan advokasi sesuai dengan kebutuhan pendidikan;
  • Peserta lebih memahami bahwa kebijkan pendidikan tidak dapat hanya dirancang dibelakang meja, tetapi perlu turun kelapangan untuk melihat keadaan sebenarnya, membuat inventarisasi data yg benar, serta mampu menganalisisnya sebelum membuat kebijakan.
Berdasarkan hal di atas, peserta bertekad melakukan aktivitas tindak lanjut, berupa:
  • Menyusun rekomendasi dan rencana aksi yang akan diajukan kepada Bupati, DPRD, Kepala Dinas, dan jajaran terkait;
  • Melakukan verifikasi dan validasi data kembali;
  • Menggairahkan DPRD, DP, dan LSM pendidikan untuk berpartisipasi lebih aktif.
Hal lain yang perlu juga sebagai bahan pertimbangan ialah munculnya keraguan sebagian peserta (eksekutif) yang merasa mubazir sebab atasan belum tentu mau menerima usulan hasil pemetaan tersebut, sehingga mereka tidak terlalu aktif dalam memberikan kontribusi dalam kegiatan ini.

Analisis data SD di Kecamatan Pacitan
menunjukkan beberapa sekolah yang jumlah muridnya sedikit dan rasio murid:guru rendah.

Yang paling menonjol dalam hal ini adalah SD Tanjung Sari 1 yang muridnya 33 orang tetapi memiliki guru 9 orang (rasio guru:murid di bawah 4:1) SD Bangunsari 2 mempunyai rasio guru:murid 7:1 dan SD Sidoharjo 2 10:1. Sekolah tersebut dapat dijadikan sebagai calon penggabungan (kalau faktor lain memungkinkan), atau menjadi Sekolah Rangkap, yang satu guru dapat menangani dua atau tiga kelas pada saat yang sama. Dengan demikian efisiensi dana pendidikan terjadi.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID