|
Siapa Membantu Program MBE?
Program MBE dibantu oleh tim konsultan dari dalam maupun luar negeri. Konsultan ini sudah bepengalam dalam pendidikan. Tim ini dipimpin oleh Stuart Weston yang berasal dari Inggris. Beliau mantan guru dan kepala sekolah SD di Inggris, tetapi sudah bekerja lebih dari 12 tahun di Indonesia dalam bidang pendidikan dasar. Program ini mempunyai koordinator di masing-masing propinsi, yaitu Bapak Abdur Rahman As'ari di Jawa Timur dan Bapak Yuniarso Adi di Jawa Tengah. Mereka juga akan dibantu suatu koordinator kabupaten yang akan ditempatkan di kantor Dinas Pendidikan di setiap kabupaten.
|
Konsultan kami:
Baris Belakang (kiri - kanan): Phillip Rekdale (Media dan Komunikasi), Edi Priyono (CLGI), Abdurrahman As'ari (Koordinator Jawa Timur), Lynne Hill (Kurikulum dan Pelatihan Guru), Stuart Weston (Chief of Party), Suhardi (Koordinator Pacitan), Prima Setiawan (Manajemen Keuangan dan Pendidikan), Dinn Wahyudin (Manajemen Pendidikan), Anwar Sutranggono (Koordinator Banyuwangi)
Baris Depan (kiri - kanan): Dyah Utami (Sekretaris Proyek), Hening S. Putranti (Koordinator Batang), Neneng Widiastuti (Manajemen Pendidikan), Eddy Budiono (Koordinator Probolinggo), Munadi (Koordinator Pati), Wahjudi S. (Kurikulum dan Pelatihan Guru), Moh. Najid (Manajemen Berbasis Sekolah)
Inset: Dewi Listyowati (Office Manager), Bob Cannon dan Toto Purwanto (Konsultan Pendidikan)
|
Kunjungan Ke Lapangan
Pada halaman ini dan halaman berikutnya dipaparkan beberapa cerita tentang inovasi-invoasi yang ditemukan di kabupaten Probolinggo pada saat kunjungan lapangan.
Kunci Membangun Peran Masyarakat dalam Pendidikan.
Menarik menyimak beberapa perkembangan partisipasi masyarakat dalam pendidikan dewasa ini. Beberapa pengalaman dari Probolinggo di bawah ini dapat membantu membangkitkan kreativitas kita semua untuk mendorong masyarakat membantu dunia pendidikan dalam hal dana, tenaga, maupun berbagai bentuk lainnya.
|
Di sebelah kanan Anda dapat melihat ibu-ibu membantu langsung di kelas di beberapa sekolah termasuk SD Kedung Dalam 1.
Dilaporkan bahwa anak lebih cepat belajar membaca kalau ada bantuan dari orang tua.
|
|
Kupon Pendidikan
Ide lain yang juga sangat menarik dari kecamatan Sukapura adalah mengembangkan Kupon Pendidikan. Dari setiap penjualan ternak di desa, masyarakat diharapkan menyisihkan hasil penjualannya untuk membeli kupon bernilai sekitar Rp 500-Rp 1000 per lembar. Hasil penjualan kupon ini diberikan kepada sekolah di desa tersebut untuk peningkatan mutu sekolah.
Guru Ngintip
Bermula dari banyaknya para ibu yang menunggu anak-anak selama pelajaran di sekolah, SD Kedungdalem I dan II Kabupaten Probolinggo membuka kesempatan agar para ibu dapat membantu kegiatan murid di kelas secara langsung. Kegiatan para ibu tersebut beraneka ragam, mulai dari bidang kesehatan seperti mengukur berat badan dan tinggi badan siswa, maupun membantu para guru dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas.
Di SD Maronwetan 1, pengembangan kegiatan belajar-mengajar sangat dibantu oleh aktivitas orangtua murid dalam mengembangkan bahan ajar, antara lain berupa kamus bahasa Indonesia secara sederhana.
Aktif, Kreatif, dan Transparan
Ketiga kegiatan di atas menggambarkan keragaman kegiatan masyarakat dalam membantu sekolah secara aktif dan kreatif. Tentu saja, keberhasilan tersebut tidak akan tercapai tanpa proses pendanaan secara transparan. Masyarakat setempat mengetahui berapa dana sekolah dan bagaimana menggunakannya. Pelaporan keuangan sekolah, baik pemasukan maupun pengeluaran, ditempelkan di dinding ruangan sekolah. Oleh karena itu, masyarakat harus "rela" membantu sekolah. Hayoo ...., siapa menyusul?
|