|
Siaran Radio untuk Peningkatan Mutu Pendidikan
'"Selamat malam anak-anak, inilah radio pendidikan SDN Sempu yang disiarkan langsung di studio mini SDN Sempu, Kecamatan Limpung Kabupaten Batang…" Itulah penggalan pembuka yang bisa kita dengar pada siaran radio pendidikan bila pada suatu malam Anda berada di tempat tersebut. Sapaan merdu sang penyiar radio, yang tidak lain adalah salah seorang guru SD tsb, disiarkan langsung oleh radio pendidikan SDN Sempu, pada gelombang 95,2 meter. Acara ini disiarkan pada malam tertentu mulai pukul 19 s.d 20, dan bisa didengar oleh siswa dan orangtua di desa itu .
|
Siaran radio oleh siswa SDN Sempu
|
Seperti dikatakan Kepala SDN Sempu, Bapak Setiarso, pada tahap awal, siaran radio yang baru menjangkau radius 5 km ini, dimaksudkan sebagai langkah inovatif yang dilakukan sekolah dalam upaya meningkatkan mutu dan kreativitas siswa. Kendati siaran ini belum secara periodik mengudara setiap malam, namun secara bertahap programnya akan diperbaiki dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran siswa.
'Pada tahap awal, kami baru terbatas pada siaran radio untuk membimbing anak dalam mengerjakan pekerjaan rumah (PR) untuk matpel tertentu. Ke depan, kami akan meningkatkan mutu siaran dan ragam acara termasuk membina kreativitas, kesenian, dengan penyiar dari siswa itu sendiri', demikian tuturan ibu Nurul Faizah, salah seorang guru yang secara khusus diberi tugas untuk mengembangkan radio pendidikan SDN Sempu. Selamat untuk SDN Sempu. Adakah sekolah lain yang mau meniru ??
SDN Sempu Siap Berubah
SD Sempu Kecamatan Limpung Kabupaten Batang Jawa Tengah menunjukkan kesiapan untuk berubah, khususnya dalam menerapkan gagasan pembaharuan 'Managemen Berbasis Sekolah'. Pak H. Setiarso, Kepala SD ini, begitu bersemangat ketika menjelaskan beberapa jenis pembaharuan yang dilakukannya. SD ini sudah menerapkan azas keterbukaan dalam pencarian dan penggunaan dana. Beberapa sumber dana antara lain diperoleh dari koperasi sekolah, perkebunan, sumbangan masyarakat, pemerintah, dan peternakan. Pendapatan dana ini dipaparkan secara transparan di dinding sekolah. SD ini juga memiliki pemancar radio yang disiarkan setiap hari pada pukul 19.00 - 20.00 melalui gelombang 95,2 meter frekuensi AM. Daya siar gelombang ini dapat menjangkau kediaman siswa dalam radius sekitar 5 sampai 6 km.
Semua guru yang berjumlah 10 orang mendukung program pembaharuan kepala sekolah. Misalnya, Ibu Nurul Faizah, guru kelas 6, mencoba menerapkan gagasan PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) dengan cara mengelompokkan siswa dan menampilkan hasil karya individual siswa pada dinding pajangan.
|
Semangat Ibu Nurul tidak kalah dengan kepala sekolah, Meskipun baru sekali meninjau SD yang menerapkan MBS di SD Pasuruhan, Magelang beliau memberanikan diri untuk menerapkan di kelasnya. Beliau mencoba mengembangkan LKS yang mendorong kreativitas siswa. Beliau mencoba mengubah organisasi kelas tradisional yang berbaris menjadi kelas yang mendorong siswa aktif. Ibu Nurul juga piawai dalam menyajikan program pengajaran lewat radio.
|
Pengembangan MBS di SD Sempu
|
Keadaan sekolah ini sangat tertata apik dan resik. Murid-muridnya yang berjumlah 250 orang sangat berdisiplin dalam menjaga kebersihan sekolah. Ketika musim hujan, sepatu mereka penuh lumpur. Mereka membuka sepatu sebelum masuk kelas. Meskipun ambisi kepala sekolah untuk memiliki seorang penjaga sekolah masih merupakan angan-angan --karena sampai hari ini permohonnannya belum dikabulkan-- kepala sekolah dan guru-gurunya tetap tidak berputus asa. Mereka selalu bergiliran untuk bertanggung jawab terhadap kebersihan sekolah.
TKW di Hongkong Peduli Pendidikan
Selama ini kita sering mendengar berita menyedihkan tentang Tenaga Kerja Wanita Indonesia (TKW) yang bekerja di luar negeri, serta kurangnya sumbangan dalam memajukan bangsa. Mungkin cerita dari Desa Yosorejo ini akan dapat membuka mata kita tentang peran mereka. Bapak Mohammad, Ketua Komite dan Bapak Nuryanto, Guru SD Yosorejo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang menceritakan tentang hal ini kepada Suara MBE.
Pada tahun 1999, Kepala Sekolah mengeluh kepada Komite tentang kerusakan pada atap dan plafon kelas, puncaknya adalah jika hujan murid kelas III dipindahkan ke ruang lain. Kep. Sekolah bersama Komite Sekolah mengumpulkan warga sekolah untuk mencari jalan keluar dalam memecahkan masalah ini.
|
Perbaikan halaman sekolah dikerjakan dengan sumbangan dari puluhan TKI yang bekerja di Hongkong
|
Terjadi kesepakatan bahwa akan diadakan sumbangan yang akan dilakukan dua kali dalam periode tahun 1999 dan 2000. Dari 300 murid berhasil dikumpulkan Rp 10.000.000 yang digunakan untuk memperbaiki atap dan lantai sekolah. Dalam rangka pencarian dana tsb, salah satu guru memberikan ide untuk mengirim surat kepada beberapa TKW di Hongkong yang merupakan alumni SD Yosorejo. Perlu diketahui bahwa banyak (puluhan) alumni SD yang menjadi TKW (hal yang sebenarnya patut disesali, bahwa mereka tidak melanjutkan pendidikan).
Berdasarkan usul tsb., Kepala Sekolah dan Komite Sekolah menyurati beberapa TKW dengan tujuan mencari sumbangan dana untuk memperbaiki halaman sekolah seluas 430 m2. Balasannya adalah mereka meminta proposal resmi untuk memperkuat usul tsb. Dari proposal tsb, kali pertama dapat dikumpulkan dan dikirimkan uang sebesar Rp 5 juta. Proposal tsb. kemudian disebarluaskan kepada kawan-kawan TKW lainnya (yg bukan alumni SD). Hasilnya dapat dikumpulkan lagi uang sebesar Rp 7 juta. Dana hasil sumbangan TKW di Hongkong membuktikan bahwa TKW pun peduli terhadap pendidikan. Bagaimana dengan yang lain ???
|